I Am Okay Indonesia

Aku Juga Cantik Kok!

Hai perkenalkan aku Dinda. 

Cerita kali ini bersangkutan dengan beauty privilege yang mungkin sering kalian dengar akhir-akhir ini, apalagi pada saat pandemi, semakin banyak orang yang menceritakan tentang permasalahan ini tentang dirinya atau orang disekitarnya.  

Mungkin beberapa dari kalian menganggap beauty privilege hanya sering terjadi pada usia remaja dewasa, tapi aku sudah merasakannya dari saat aku kecil. Eits… tapi bukan aku yang mendapatkannya, aku hanya sebagai orang yang terkena imbas dari beauty privilege yang didapatkan oleh kakakku.  

Sejak kecil kami sudah sangat berbeda dari segi fisik, keahlian dan masih banyak lagi, intinya ia lebih unggul di segala aspek. Perbedaan diantara kami semakin terlihat saat aku sering menggunakan aksesoris yang terkesan tomboy, hal ini terjadi karena saat masih dalam kandungan aku diprediksi akan lahir sebagai anak laki-laki sehingga orang tuaku membeli perlengkapan dan pernak pernik untuk anak laki-laki yang bisa digunakan sampai usia balita. Sedangkan kakakku suka memakai aksesoris manis yang membuatnya semakin anggun dan cantik.  

Kecantikannya menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pujian hingga pujian selalu ia terima, padahal pada saat kecil aku cenderung lebih aktif dan sering bersosialisasi tapi entah mengapa tidak banyak orang yang mau berinteraksi denganku saat aku sedang bersama kakakku. Khususnya saudara-saudaraku, mereka suka sekali memuji kakakku bahkan sering kali mengajak foto bersama dan mengajak nya berbicara, memancing dia yang pendiam untuk bercerita.  

Sedangkan aku seringkali mendengar kritikan dan candaan yang mungkin mereka kira tidak akan menyinggung anak kecil seperti aku. Bahkan ada yang pernah bertanya kepada orang tuaku  “ini anakmu nggak ketuker di rumah sakit waktu melahirkan?”, pertanyaan itu seseorang lontarkan saat aku berusia 5 tahun dan masih sangat membekas sampai saat ini. 

Beruntungnya aku tidak tumbuh menjadi orang yang pendendam namun semakin beranjak dewasa aku menjadi lebih pendiam, aku sering takut untuk mencoba memakai apapun yang aku inginkan dan lebih sering mengikuti saran dari orang di sekitarku tentang apa yang harus aku pakai. Aku menjadi orang yang tertutup dan cenderung menghindari interaksi dengan orang yang berpotensi akan mengucapkan kata kata yang menyinggung. Aku sering merasa minder saat harus berhadapan dengan orang banyak apalagi saat aku sedang bersama kakakku. 

Hal-hal di atas masih terus berlanjut sampai saat masa pandemi, hingga seorang teman mengkritik penampilanku saat kami berfoto untuk album kenangan padahal baju yang aku kenakan saat itu sudah aku persiapkan sangat lama. Saat itu aku sadar orang orang di sekitarku terlalu banyak mengkritik penampilanku yang menyebabkan aku selalu berlindung dibalik kata malu dan minder. Padahal kunci dari penampilan setiap orang adalah kepercayaan diri dan kenyamanan ketika menggunakan pakaian tersebut. Sudah seharusnya kita lebih percaya pada keputusan pribadi tentang hal yang bersangkutan dengan diri sendiri. Aku mencoba untuk menjadi lebih berani menggunakan pakaian sesuai seleraku, hal tersebut membuatku lebih nyaman saat menggunakannya serta meningkatkan kepercayaan diriku saat bertemu orang banyak. Aku sadar pendapat setiap orang tentang diriku pasti berbeda- beda dan jika aku berusaha memenuhi ekspektasi setiap orang pasti akan menjadi tekanan tersendiri untuk diriku, aku memutuskan mulai mencintai diriku sendiri dan berusaha untuk menjadi versi terbaik diriku.

Penulis: Dinda
Editor: Nurul Malahayati
Desain: Dono

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.