I Am Okay Indonesia

AKU MASIH BERJUANG

Sedari dulu, mungkin sejak aku masih di sekolah dasar, aku bukan termasuk orang-orang yang bisa dengan mudahnya bicara di depan umum. Aku sangat malu jika harus melakukannya, di pikiranku semua orang pasti akan berkata macam-macam, entah itu penampilanku, caraku berbicara, dan banyak hal lainnya. Aku membuat banyak skenario buruk yang mungkin terjadi padaku jika aku bicara didepan umum. 

Aku baru bicara jika ada keadaan yang mengharuskanku, seperti presentasi di kelas misalnya. Pada mulanya, hanya perasaan malu yang muncul yang selalu aku tutupi rapat-rapat. Masih tidak terlalu sulit jika hanya itu saja masalahnya. Tapi entah mengapa sejak aku menduduki bangku SMP, tubuhku mulai mengeluarkan reaksi luar biasa yang tak pernah aku alami sebelumnya.

Saat mulai berbicara didepan umum, aku mulai merasa sangat pusing, jantungku berdetak tak karuan, perutku terasa sangat tertekan hingga rasanya ingin muntah. Sebelumnya pun aku merasakan kesulitan bernapas, tanganku dingin dan berkeringat. Saat selesai bicara meskipun semua itu sudah hilang tapi aku merasa panas seperti terkena demam tinggi selain itu nafasku tidak beraturan seperti habis lari maraton.

Aku mulai bertanya-tanya apa yang terjadi denganku. Namun, aku abaikan karena saat itu aku pikir semua orang mengalami hal tersebut bedanya ada yang terlihat sekali ada yang tidak. Tapi ternyata pemikiran itu tidak tepat dan mengakibatkan kondisiku semakin parah.

Lama kelamaan aku mengalami reaksi-reaksi tersebut bahkan ketika aku tidak sedang melakukan apa-apa. Saat sedang belajar misalnya, aku tiba-tiba bergidik tanpa alasan, tangan dan kakiku juga terasa sangat dingin. Karena hal-hal ini tidak bisa aku kontrol aku mulai menghindari situasi yang melibatkan orang banyak. Aku tahu pasti aku terlihat aneh sekali jika aku tiba-tiba bergidik dan berkeringat sangat banyak di tengah-tengah percakapan.

Aku menghindari makan dan minum di tempat umum, berkumpul dengan teman, bahkan akupun memperkecil lingkup pertemananku. Aku mulai merasa cemas dan takut tak beralasan setiap harinya, aku bahkan bisa menangis mendadak yang aku sendiri pun tidak tahu apa penyebabnya hingga tak jarang akhirnya aku menahannya sekuat tenaga agar tidak keluar didepan orang banyak. Hal ini mencapai puncaknya ketika aku merasa sangat stres hingga melukai diriku sendiri. Aku merasa tidak ada hal yang masuk akal, saat itu.

Sebelum semuanya berakhir buruk, Aku akhirnya memberanikan diri berkonsultasi ke psikolog. Aku dinyatakan mengalami anxiety disorder lebih spesifiknya yaitu social anxiety disorder juga mengalami depresi berat. Terapi pun dilakukan untuk menangani gangguan yang aku alami ini, mulai dari terapi perilaku kognitif hingga mengonsumsi obat antidepresan.

Saat ini, meskipun belum sembuh benar aku sudah bisa mengatasi reaksi-reaksi yang timbul dengan melakukan coping mechanism. Aku juga tergerak untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial di bidang kesehatan mental untuk membantu teman-teman yang mengalami kondisi yang serupa denganku selain itu aku juga ingin lebih banyak masyarakat yang sadar bahwa kesehatan mental merupakan sesuatu yang sama pentingnya seperti kita menjaga kesehatan fisik.  

Namaku Sa, dan inilah ceritaku. Salam hangat.

Penulis: Syifa Auliya Nurazizah
Editor: Muthia Nida
Desain: Keke

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.