I Am Okay Indonesia

Bangkit dari Luka Masa Lalu

Terkait kesehatan mental, sampai hari ini aku berada di fase baik-baik saja. Namun ketika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, sejak aku masih SMP. Aku merasa itu hari-hari paling berat selama hidupku. Perasaan tertekan, emosi yang tidak stabil, sensitif, dan kehampaan. 

Aku masuk islamic boarding school khusus wanita saat SMP. Mungkin tak asing ketika aku menyebut itu semacam pesantren. Di sanalah dimulai perasaan-perasaan buruk itu. Waktu berlalu berganti hari, bulan dan tahun. 

Aku ternyata lebih sering menangis. 

Merasa lelah dengan aktivitas, pertemuan dengan orang tua yang hanya sebulan sekali dan yang paling membuat semua hariku kacau adalah ternyata lingkunganku sendiri. 

Di tahun pertama, aku dilabrak oleh kakak kelasku. Singkatnya ia melontarkan kalimat-kalimat yang tidak enak didengar. Katanya aku ‘songong‘. Aku merasa tidak terima seenaknya melabeli aku seperti itu. Aku tau bahwa aku tidak pernah dekat dengan kakak kelas, bicara pun tidak pernah kecuali hal yang penting. Bagaimana bisa aku yang kenal baik diriku seorang introvert dan agak sulit mengenal orang baru bisa dikenal songong? Kutanyakan dengan baik apa yang membuat mereka menyebutku seperti itu. Sekelompok kakak kelas yang dikenal famous melabeli aku songong karena cara berjalanku.

Hei cara berjalan ku harus seperti apa? Menunduk di depan kalian macam pelayanan kepada rajanya? 

Kau tahu seberapa marahnya aku saat itu? 

Tapi aku tidak ingin marah. 

Aku diam dan menerima. 

Dihadapanku mereka melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan. Aku tidak bisa menangis di hadapan mereka. Aku tidak mau kalah. 

Umurku 13 tahun, kelas 1 SMP. Berada jauh dari orang tua dan teman teman yang belum sepenuhnya aku kenal betul. 

Kebiasaan senioritas memang masih menjadi trend. Termasuk saat itu, yang akhirnya kemudian kutahu bahwa banyak sekali kejadian yang lebih parah dan tidak beradab yang pernah terjadi sebelumku. Kupikir ini cukup terjadi di sekolah saat aku SMP saja. Namun ternyata masih cukup banyak kejadian-kejadian seperti senioritas dan pembullyan yang bahkan lebih parah dari aku alami ini. Setiap kali mendengar cerita dari orang lain mengenai pembullyan dan senioritas yang banyak terjadi di sekolah-sekolah, aku mengingat luka itu lagi dan timbul rasa ingin memberikan support, melindungi mereka yang merasa terluka dan mengatakan bahwa mereka memang harus bertindak.

Bukan hanya itu. Perasaan tertekan, emosi yang tidak stabil, sensitif, dan kehampaan hadir bukan hanya dari faktor kejadian “labrak” saja. Aku punya masalah dengan pertemananku. Aku lebih tertutup, senang dengan kesendirianku, tapi menjadi sibuk dengan belajar dan masuk organisasi.

Tapi aku tetap memiliki teman baik yang cukup dekat. Hanya beberapa dan dapat dihitung jari. Mereka yang sederhana dan dapat berada disisiku membawa kebahagiaan dan kehangatan. Menjadi satu-satunya alasan untukku bertahan di boarding school itu. Kadang memang pertemanan yang tidak berlangsung dengan hangat akan membuat keretakan. Dan aku sering menemukan itu. 

Luka dan ingatan tentang kejadian buruk, pertemanan yang hancur, lelah atas jadwal yang padat, organisasi yang menyita tenaga dan waktu, pertemuan yang super singkat setiap sebulan sekali dengan orang tua, jauh dari kata jalan-jalan dan terus berada di satu atap dalam kurun waktu yang lama tanpa pernah keluar sekedar menikmati udara di luar gerbang sekolah. Rasa ingin pulang dan menikmati me-time di rumah menjadi hal sederhana yang selalu kudambakan dan rasa-rasanya memang sulit diwujudkan saat itu.

Tapi tidak apa-apa. Aku sudah berhasil melewati itu dan ada di titik ini. Kuucapkan  terima kasih kepada diriku karena telah kuat dan bertahan cukup lama. 

Atas kejadian yang membuat luka, aku ingin mengobati diriku dan juga semua orang. Aku ingin menjadi teman yang hangat tempat orang lain bercerita tentang perasaan buruk dan bahagianya. Aku ingin menjadi ramah dan sederhana kepada adik-adikku yang membutuhkan bantuanku sebagai kakak tingkatnya. Aku ingin melihat dan mengerti perasaan orang lain. Aku ingin membuat orang lain tersenyum dan selalu bahagia. 

Terimakasih telah membaca ceritaku.

Penulis: Ainun Mardiyah
Editor: Muthia Nida
Desain: Dono

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.