I Am Okay Indonesia

Benarkah Multitasking = Produktif?

Bayangkan skenario di bawah ini:

Kamu duduk di depan laptop, sedang membuka link video konferensi untuk rapat organisasi. Secara bersamaan kamu meraih handphone untuk membuka link video konferensi untuk rapat di organisasi lain. “Ah, ada untungnya juga pandemi bikin serba online gini, aku jadi bisa produktif ikut banyak kegiatan”, batinmu sambil berusaha menyimak dua pembahasan sekaligus.

Namun, benarkah demikian?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyamakan pandangan mengenai apa yang disebut dengan produktif. 

Secara umum, produktif berarti: hasil  produksi dibagi dengan input produksi atau rasio dari hasil produksi berbanding dengan input produksinya. Kalau melihat ilustrasi tadi, berarti.. produksi adalah rapat, hasil produksi adalah hasil dari rapat itu, dan input produksinya adalah waktu, kuota internet, proses berpikir, serta sumber daya lain yang dibutuhkan untuk bisa mengikuti rapat itu.

Jadi, kapan seseorang dikatakan produktif?

Menurut persamaan tadi, seseorang dikatakan produktif ketika dia mampu menghasilkan banyak produksi dengan input produksi yang seminimal mungkin.

Sekilas, ilustrasi tadi memenuhi definisi ini, ya? Dengan input waktu yang minimal, kamu sudah mendapat hasil dari kedua rapat yang pada situasi normal dibutuhkan waktu 2x lipat untuk melakukannya. Namun, persamaan tadi tidak hanya melihat aspek jumlah, tetapi juga kualitas dari hasil yang didapatkan dan sumber daya yang dikeluarkan. 

Fenomena yang tergambar dalam ilustrasi di atas mungkin cukup umum ditemukan sehari-hari, terlebih di masa pandemi ini. Fenomena tadi dinamakan multitasking, atau nyambi, yaitu melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian yang sama besarnya secara bersamaan. Contohnya, mengikuti 2 rapat secara bersamaan, menelepon sambil mengetik, mengerjakan tugas sambil membalas pesan, dan sebagainya. Kamu pasti bisa menyebutkan banyak contoh lainnya.

Dampak Multitasking

Apakah multitasking memang menurunkan produktivitas?

Otak kita didesain hanya bisa melakukan satu aktivitas pada satu waktu saja. Jadi, performa kita sebenarnya akan memburuk ketika kita memaksa melakukan dua aktivitas bersamaan. Selain itu, beberapa kerugian lain juga bisa muncul, seperti:

  • Otak menjadi kurang efisien
  • Cepat merasa lelah atau burnout
  • Menempatkan otak dalam keadaan stres
  • Menurunkan rentang waktu perhatian terhadap sesuatu, alias sulit fokus dalam jangka waktu lama
  • Sulit mengingat informasi
  • Menurunkan IQ

dan masih banyak lagi!

Masa sih? Tapi aku gak merasakan dampak-dampak tadi, deh.

Perasaan gak kenapa-kenapa ini timbul efek lain dari multitasking, yaitu menciptakan kebiasaan berpikir baru yang sebenarnya buruk. Perilaku multitasking membuat otak kita beroperasi dengan pola berpikir seperti ini. Seperti semua kebiasaan lainnya, dampak baik atau buruknya tidak lagi dinilai. Kita akan melakukannya semata-mata karena itu sudah bagian dari kebiasaan. Sayangnya, kebiasaan yang diciptakan ini sebenarnya berdampak buruk. 

Tapi tapi.. Aku merasa multitasking itu membantu aku kok!

Well, sekelompok peneliti juga menyadari fenomena ini. Jadi, mereka memutuskan untuk menguji kelompok orang yang suka melakukan multitasking dan menganggap hal tersebut meningkatkan performa mereka dengan kelompok orang yang beranggapan sebaliknya. Hasilnya? Kelompok pertama tadi ternyata lebih buruk hasilnya dibanding kelompok kedua! Mengapa? Seperti yang sudah diduga, kelompok pertama:

  • Lebih sulit mengatur pikiran-pikiran mereka
  • Lebih sulit menyeleksi informasi mana yang relevan dengan aktivitas yang sedang dikerjakan
  • Lebih lama untuk berpindah dari mengerjakan satu tugas ke tugas lain

Jadi, coba pikir-pikir ulang yuk mengenai dampak multitasking terhadap performa kamu.

Kalau Dampaknya Memang Seburuk Itu.. Kenapa Multitasking Banyak Dilakukan?

Salah satu hal yang membuat multitasking sering dilakukan adalah ketika aktivitas yang sedang dikerjakan dinilai membosankan sehingga tidak membutuhkan banyak proses berpikir. Sebaliknya, ketika aktivitas yang sedang dikerjakan tersebut interaktif dan menarik, multitasking jarang terjadi. Selain itu, ilusi produktif yang diciptakan multitasking membuat orang melakukannya lagi dan lagi. Padahal, sebaliknya, multitasking justru menurunkan produktivitas orang. Manajemen waktu yang kurang tepat juga bisa membuat orang berada di situasi yang memaksanya melakukan multitasking
Sekarang setelah kamu mengetahui seluk beluk multitasking, semoga kamu tidak jatuh lagi ke perangkap yang sama, ya!

PIC:  Shafira Izqiva R.
Editor: Noor Faa’izah

Desain: Dono

Referensi:

  1. Bradberry, T. 2014. Multitasking Damages Your Brain And Career, New Studies Suggest. Retrieved from https://www.forbes.com/sites/travisbradberry/2014/10/08/multitasking-damages-your-brain-and-career-new-studies-suggest/?sh=34fa54b556ee
  2. Bjorkman, M. 1992. What is Productivity? Retrieved from https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1474667017540653
  3. Ersche, K., dkk. 2017. Creature of Habit: A self-report measure of habitual routines and automatic tendencies in everyday life. Journal of Personality & Individual Differences. Vol 116, p 73-85. Retrieved from https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S019188691730274X
  4. Klemm, W. 2016. The Perils of Multitasking. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/memory-medic/201608/the-perils-multitaskingMatlin, M. 2013. Cognition. 8th ed.
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.