I Am Okay Indonesia

Body Shaming is not our culture

Halo, namaku Zara. Aku akan sedikit menceritakan kisahku, terkait permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan mental. Aku mengalami kasus Body Shaming, biasanya kebanyakan kasus ini dilakukan terhadap perempuan bertubuh gemuk kan? Namun ternyata, perempuan bertubuh kurus sepertiku pun juga tak luput dari bahan ejekan.

Saat itu, saat aku sedang berada di bangku SD. aku sudah mendapatkan perkataan yang sangat menyakitkan dari teman sebayaku, memang waktu itu aku memiliki tubuh yang sangat kurus. Waktu aku berada di Sekolah Dasar berat badanku hanya 18 kg dan maksimal 25 kg itupun saat aku sudah berada di kelas 6. Teman sebayaku saat itu memanggilku “Tengkorak berjalan”. Dan aku selalu dipanggil seperti itu ketika aku berjalan ataupun lewat di depan matanya. Walaupun kejadian itu sudah sangat lama, tetapi perkataan itu selalu teringat dan selalu membekas di kepalaku dan membuatku sangat tidak percaya diri hingga sekarang.

Selain perkataan dari teman-temanku, aku juga sering kali diejek di lingkungan keluargaku. Keluargaku selalu membahas dan mengomentari bentuk tubuhku sebagai bahan pembahasan mereka. Jujur, aku benar-benar sangat tertekan dan rasanya ingin menangis. Aku tahu sebenarnya mereka sedang bercanda tetapi apakah tidak ada pembahasan yang lain selain dengan membahas bentuk fisik orang lain? Apakah body shaming bisa dijadikan sebagai bahan candaan?

Dengan mengalami perlakuan tersebut, dari dalam diriku sendiri aku ingin mencoba untuk memulai sebuah perubahan. Mulai dari searching makanan dan minuman apa saja yang harus dikonsumsi, minum obat cacing sesuai rekomendasi teman-temanku, minum obat untuk menambah nafsu makan juga sampai kegiatan olahraga. Setelah aku tau apa saja yang harus dikonsumsi, hal itu malah memperparah keadaanku. Aku tidak cocok minum susu full cream yang akhirnya malah menambah masalah lain, mukaku jadi muncul jerawat. Aku juga kebanyakan memakan makanan ringan yang kata banyak orang bisa menambah berat badan malah berujung drop.

Aku sendiri juga berencana untuk membeli obat penggemuk badan yang ada di pasaran karena berdasarkan tips yang ada berujung tidak berhasil. Tetapi bukankah dengan meminum obat penggemuk juga ada efek sampingnya ya malah akan semakin parah? Rasa takut mulai bermunculan sehingga aku mengurungkan niat untuk mencoba meminum obat penggemuk. Menghadapi hal itu malah menjadikan permasalah tersebut sebagai beban pikiran, di satu sisi aku mulai ingin mencoba merubah bentuk tubuhku tetapi aku sendiri bingung bahkan rasanya ingin menyerah karena berbagai macam usaha sudah dicoba. Mungkin juga ini merupakan faktor keturunan ayah dan ibu tetapi aku lelah sekali selalu dijadikan bahan omongan oleh keluarga apalagi dengan teman sebayaku.

Padahal banyak sekali dampak buruk yang akan terjadi jika kita mengalami body shaming, salah satunya yang terjadi dalam diriku sendiri adalah timbulnya rasa kurang percaya diri. Namun, semakin lama aku mulai mencoba untuk menerima hal itu. Aku perlahan mulai melakukan pembelaan dan perlawanan akan emosi yang ku rasakan. Sampai sekarangpun aku masih berjuang untuk keluar dari permasalahan ini, namun dari sini aku belajar untuk berdamai dengan keadaan, mengikuti arus kehidupan, dan membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur.

Akhir kata aku ingin menyampaikan, be proud of who you are. Don’t ashamed of how someone else to see you.

Penulis: Zara
Editor: Nurul Malahayati
Desain: Dono

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.