I Am Okay Indonesia

Bohong Bisa Jadi Adiktif, Lho! Jangan Sampai Kamu Terkena Sindrom Mythomania 

“Kalau udah bohong sekali, udah pasti bakalan bohong lagi, itu mah.”

Fellas pernah denger orang ngomong kayak gini nggak sih? Biasanya nih yang suka kasih statement kayak gini adalah para orang tua. Tapi pada kenyataannya perilaku berbohong ini bisa bikin ketagihan, lho. Kira-kira Fellas pernah nggak, udah melakukan kebohongan sekali, tetapi ternyata mau lagi, dan lagi. Nah, kalau di bidang psikologi, kebohongan itu bisa jadi bersifat adiktif, atau yang biasa disebut dengan Sindrom Mythomania[k]

Apa Itu Bohong dan Alasan Orang Berbohong?

Sebelum masuk dalam pembahasan mythomania, fellas harus tahu dulu nih apa itu bohong, dan kira-kira apa aja alasan orang berbohong. Jadi, kebohongan didefinisikan sebagai tindakan ketidakjujuran dimana seseorang yang membuat pernyataan itu memutarbalikkan atau menyembunyikan kebenaran dari orang lain dengan tujuan untuk menciptakan kepercayaan terhadap pernyataan palsu yang dibuatnya. 

Selanjutnya adalah terdapat beberapa alasan orang berbohong, diantaranya yaitu : 

  1. Untuk menghindari hukuman, misalnya anak yang tidak mengungkapkan nilai ujiannya kepada orang tua. 
  2. Untuk mendapatkan hadiah, yang dimaksud disini adalah hadiah secara umum, bisa material atau uang, ataupun hadiah sosial. 
  3. Untuk melindungi orang lain agar tidak dihukum. 
  4. Untuk memenangkan kekaguman orang lain, akan melakukan hal-hal yang akan memberikan pendapat positif dari orang lain tentang dirinya, bahkan jika itu hanyalah kebohongan. 
  5. Untuk keluar dari situasi sosial yang canggung, berdasarkan survei dari University of Massachusetts ditemukan bahwa 74% partisipan mengaku berbohong untuk melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman. 
  6. Menghindari rasa malu.[l]

What is Mythomania Syndrome

Sindrom mythomania atau dikenal sebagai pseudologia fantastica adalah suatu kondisi di mana seseorang terus menerus mengatakan pernyataan palsu yang tampaknya tidak ada tujuan dalam jangka waktu yang lama. Namun, dalam DSM-5 yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, mythomania hanya dianggap sebagai gejala gangguan kepribadian anti-sosial[m], bukan gangguan mental.[n] Sehingga tidak ada definisi konkret mengenai apa itu mythomania. Sedangkan perbedaan mythomania dan kebohongan “biasa” adalah pengulangan tentang kebohongan, sifat yang tidak jelas, dan tidak ada tujuan yang jelas pula. Seseorang yang mengalami mythomania dipaksa untuk mengatakan kebenaran, mereka cenderung akan merasa tidak nyaman dan akan bereaksi yang berlebihan. 

Secara historis, kebohongan patologis atau mythomania ini bukan hal yang baru. Contoh mythomania yang pertama kali dijelaskan oleh dokter Jerman yaitu Anton Delbruck pada tahun 1891. Delbruck mengamati pasien dan merasa kagum dengan salah satu pasien yang mampu menggambarkan fabrikasi secara rinci. Ia merasa sangat aneh dengan hal ini, sehingga dia menyebut perilaku ini sebagai “pseudologia fantastica”. Sejak saat itulah istilah ini digunakan, selanjutnya Delbruck mengidentifikasi dan mendiskusikan lima kasus yang dikaitkan dengan mythomania. 

Kenali Ciri-Ciri Mythomania, Yuk!

Terdapat beberapa ciri-ciri yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi seseorang yang mengalami mythomania, diantaranya yaitu : 

  1. Suka menciptakan zona nyaman [o]untuk diri sendiri. Dalam upaya untuk mencapai zona nyaman tersebut, biasanya individu akan mengarang cerita dengan penuh keyakinan. 
  2. Menyukai perhatian dan melakukan kebohongan apapun untuk mendapatkan perhatian tersebut. Individu dengan mythomania merasa bangga apabila mendapatkan atensi dan perhatian dari sekitarnya walaupun ia tahu bahwa cara mendapatkannya harus dengan melakukan kebohongan. 
  3. Memiliki persepsi yang tajam dan jarang ketahuan berbohong. Jika individu tersebut ketahuan berbohong, ia akan mengarang atau menciptakan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan tersebut. 
  4. Menderita harga diri rendah, itulah sebabnya mereka menggunakan kebohongan agar merasa lebih baik. 
  5. Hidup di dunia fantasi, mereka suka menciptakan dunia palsu diantara orang-orang disekitarnya. Cenderung merasa tinggi apabila orang lain mempercayai kebohongannya, akan terluka egonya ketika kebohongannya tidak lagi dipercaya. 
  6. Menggunakan kamuflase dan penipuan dalam ciri-ciri kepribadian yang ditampilkan berbeda. Mereka akan membentuk diri menjadi penurut atau dominan melihat kebutuhan yang muncul sesuai dengan situasi yang dihadapi. 
  7. Memiliki statement akhir yang dapat digunakan sebagai penguat agar orang-orang percaya dengan kebohongan yang dibuat. 

Cara Membuat Orang Mengatakan Kebenaran 

Membuat orang bisa mengatakan kebenaran setelah mereka melakukan kebohongan memang menjadi tugas yang sulit. Akan sangat membutuhkan kesabaran dan pemahaman tentang psikologi manusia. Berikut terdapat beberapa teknik paling efektif untuk membuat orang dapat mengatakan apa yang sebenarnya, yaitu : 

  1. Ajukan pertanyaan terbuka bukan pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak”, sehingga membutuhkan pemikiran dan dapat menggali lebih dalam. 
  2. Berikan jeda dan tunggu respon, penting ketika berbicara dengan orang yang sedang berbohong untuk melihat respons yang diberikan. Hal ini dapat membantu untuk menemukan kebenaran dalam cerita yang dibuat.
  3. Gunakan hal yang dapat membuat nyaman, misalnya melalui obrolan ringan, tanyakan tentang bagaimana hari mereka, pekerjaan, atau hobinya, sehingga dapat digunakan untuk membangun hubungan baik yang dapat memungkinkan kecenderungan untuk orang tersebut tidak berbohong. 
  4. Menjaga nada suara tetap datar dan netral, hindari penggunaan jenis emosi dalam nada suara, misalnya terdengar kecewa atau marah maka individu tersebut akan menangkapnya dan memungkinkan untuk menjadi defensif dan mulai lebih banyak berbohong. 
  5. Tawarkan empati, karena orang berbohong terkadang merasa tidak dihargai atau dihormati. 

Wah, ternyata mengerikan juga ya, bohong bisa jadi adiktif, nih Fellas. Makanya, yuk mulai dari sekarang jangan dibiasakan buat bohong ya, sekecil apapun itu.


Penulis: emitha dwisaa

Editor: Hera

Desain: Yuli, Mita

Seo Editor:



Referensi:

Arakelyan, H. S. (2018). Pathological Lyar Syndrome – Mythomania. ReasearchGate.net. https://www.researchgate.net/publication/323683318_Pathological_lyar_Syndrome_-_Mythomania 

Mythomania : A Mental Disorder or a Symptom?. (2022). Diakses pada 11 September 2022, dari https://en.wikiversity.org/wiki/Mythomania:_A_Mental_Disorder_or_a_Symptom%3F 

Prasanna. (2021). Why Do People Lie Essay |The Science Behind Lies and Deception. AplusTopper. https://www.aplustopper.com/why-do-people-lie-essay/ 

Healthline. (2018). How Do I Cope with Someone Being a Pathological Liar?. Diakses pada 11 September 2022. https://www.healthline.com/health/pathological-liar 

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.