I Am Okay Indonesia

Cerita OCD-ku: Melakukan Suatu Tindakan Secara Berulang-Ulang

Hai Fellas, perkenalkan aku Vidia dan di sini akan bercerita sedikit mengenai pengalamanku sebagai seorang pengidap gangguan kesehatan mental. Sebelum aku mulai bercerita, aku ingin menyampaikan bahwa jika kalian memiliki kebiasaan ataupun gejala yang serupa dengan apa yang aku alami, aku mohon jangan mendiagnosis diri terlebih dahulu ya!

Sepertinya menjadi seorang yang menjaga kebersihan merupakan hal yang biasa bukan? atau melakukan sesuatu berulang-ulang juga merupakan hal yang biasa bukan?, awalnya aku berpikir hal yang sama terhadap diriku beberapa tahun yang lalu sampai akhirnya aku menyadari bahwa kebiasaan ini sudah tidak lagi ‘biasa’. Seperti yang kalian tau ada berbagai macam gangguan kecemasan. Tapi apakah kalian pernah mendengar mengenai Obsessive Compulsive Disorder (OCD)?

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) menurut Alodokter adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan diliputi kecemasan atau ketakutan contohnya adalah mencuci tangan 7 kali setelah menyentuh sesuatu yang mungkin kotor. Pikiran dan tindakan tersebut berada di luar kendali pengidap. Meski pengidap mungkin tidak ingin memikirkan atau melakukan hal tersebut, tetapi ia tidak berdaya untuk menghentikannya. Dengan kata lain, OCD dapat memengaruhi secara signifikan terhadap kehidupan pengidapnya.

Aku didiagnosa mengalami OCD sekitar 3 tahun yang lalu tepatnya pertengahan tahun 2018 oleh Psikologku. Saat itu Orang Tuaku menyadari bahwa aku memiliki kebiasaan terhadap sesuatu yang kotor dengan sangat berlebihan. Sampai memengaruhi perilaku dan emosiku dan jika aku tidak melakukan hal itu akan merasa cemas dan ketakutan. Banyak orang yang mengatakan bahwa ku seperti gila sendiri. 

Aku mengalami OCD karena pengalaman buruk di masa laluku yang akhirnya membuatku sangat membenci sesuatu yang kotor. Selain itu, aku juga merasa sangat terganggu saat melihat barang yang diletakkan di tempat atau posisi yang tidak seharusnya, bahkan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan sehingga aku akan berulang-ulang kali melakukan hal tersebut. Jika tidak, aku bisa merasa cemas sendiri. Psikologku mengatakan bahwa pengalaman di masa lalu yang aku alami bisa menjadi penyebab aku mengidap gangguan kesehatan mental ini. Walaupun sebelumnya aku sudah mencari tau mengenai gangguan ini di Internet. Akan tetapi, saat itu aku membiarkannya dengan alasan aku tidak mau mendiagnosis diri hanya karena memiliki gejala yang sama. Dengan begitu, aku sangat menyarankan kepada teman-teman yang membaca artikel ini, jika kalian merasakan hal atau gejala yang mirip denganku dan kalian menyadari bahwa kebiasaan kalian sudah berlebihan, maka aku menyarankan kalian untuk berkonsultasi ke ahlinya yaitu, Psikolog.

Selama aku mulai tenang, OCD-ku jauh lebih membaik. Sampai akhirnya, OCD-ku mulai memburuk dan menjadi sangat buruk pada awal 2020, ketika dunia digemparkan dengan virus Corona (SARS-CoV-2), terlebih ketika virus itu masuk Indonesia dan WHO menetapkan virus ini sebagai Pandemi. Jujur waktu itu adalah kondisi terburuk untuk gangguan kesehatan mental sepanjang hidupku karena aku bukan lagi berhadapan dengan sesuatu yang bisa kulihat sehingga kecemasan dan ketakutanku semakin menjadi-jadi. Aku ingat betul ketika mencuci tanganku tiap kali setelah memegang suatu benda, bahkan aku sampai tidak mau memegang orang lain, dan tidak mau keluar dari rumah. 

Setelah melakukan beberapa konsultasi aku mengalami banyak kemajuan, Aku merasakan OCD-ku mulai membaik. Walaupun memang butuh waktu yang sangat lama untuk mencapai kata ‘sedikit kemajuan’ pada saat itu. Setelah hampir 1,5 tahun pandemi ini berlangsung. Aku mengalami banyak kemajuan daripada kejadian di awal pandemi tersebut. Akan tetapi  terkadang aku berpikir bahwa aku beruntung mengidap OCD, gangguan kesehatan mental ini membuat diriku menjadi peduli terhadap kebersihan dan melakukan proteksi diri dengan menjalani protokol kesehatan yang ada dengan lebih baik. Bukan hanya kepada diriku sendiri tetapi juga orang-orang di sekitarku. Aku juga ingin mengajak siapapun kalian, pengidap OCD atau bukan untuk bersama mematuhi protokol kesehatan yang ada dan menjaga kesehatan mental kita. Sampai sekarang Aku juga masih terus belajar dan berjuang untuk bisa melawan OCD dan keluar dari gangguan kesehatan mental ini. Melakukan pengobatan dengan lebih mencintai diri sendiri membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan bersyukur.

Akhir kata, aku ingin menyampaikan bahwa “Calm mind brings inner strength and self-confidence, so that’s very important for good health.” — Dalai Lama

Penulis: Vidia Amalia Tunnisa
Editor: Noor Faa’izah
Desain: Zordy

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.