I Am Okay Indonesia

Compassion Fatigue: Ketika Berempati Bisa Membuatmu Kelelahan

Hai fellas!

Sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, pastinya kita memiliki empati untuk orang-orang di sekitar kita. Dengan berempati, kita dapat meningkatkan kualitas hubungan satu dengan yang lain hingga membuat hidup kita menjadi lebih bahagia. Akan tetapi, tidak selamanya berempati bermanfaat bagi kita loh. Terkadang, berempati justru bisa membuat kita lelah dan kewalahan sendiri. Inilah yang disebut dengan compassion fatigue. Penasaran apa itu compassion fatigue? Yuk baca artikel ini hingga tuntas ya!

Definisi Compassion Fatigue

Compassion Fatigue dapat didefinisikan sebagai segala bentuk kelelahan baik secara fisik, emosional, atau psikologis yang disebabkan dari sikap membantu orang lain. Nah, salah satu bentuk membantu orang lain yang dimaksud ialah dengan bersikap empati pada kisah yang dialami oleh orang lain.
Oleh karena itu, pada umumnya, compassion fatigue ini ditemukan pada pekerja profesional bidang kesejahteraan yang biasanya membantu orang lain seperti konselor, psikolog dan psikiater sebab frekuensi terpaparnya trauma dan stres yang tinggi. 

Tanda-Tanda Mengalami Compassion Fatigue

Compassion fatigue seringkali disalahartikan sebagai kondisi burnout, meski kenyataannya berbeda. Perbedaan yang paling mencolok diantara keduanya ialah bahwa burnout tidak terjadi karena paparan trauma dan stres dari orang lain. Selain itu, terdapat pula tanda-tanda lainnya yang meliputi:

  1. Perubahan Suasana Hati yang Drastis

Sebenarnya perubahan suasana hati dalam keseharian merupakan hal yang wajar saja terjadi, apalagi setelah kita berempati dengan orang lain. Hal ini karena kita seperti menyerap energi orang tersebut. Namun, apabila suasana hati yang dirasakan berubah secara drastis, itu bisa saja merupakan pertanda kita sedang kelelahan berempati. Akibatnya, kita menjadi lebih sensitif, mudah kesal, dan mengarah pada pemikiran pesimis.

  1. Kesulitan Tidur

Meski beberapa waktu sudah berlalu dari saat terakhir kita berempati kepada orang lain, tak jarang kita masih terbayang-bayang dengan apa yang menimpa orang tersebut. Bahkan, kita bisa saja mulai memikirkan tindakan yang seharusnya kita lakukan dan berbagai hal lainnya. Ini pada akhirnya membuat kita kesulitan untuk tidur sebab merasa memiliki pemikiran yang bercabang.

  1. Berjarak Dalam Hubungan

Salah satu cara manusia berdamai dengan rasa lelah adalah dengan memberikan jarak dalam hubungan, baik secara sosial maupun interpersonal. Hal ini juga dapat ditemukan pada individu yang terlalu berempati. Meski terkesan tidak masalah, tetapi rasa lelah yang konsisten dirasakan dari berempati dapat membuat kita mengisolasi diri karena merasa ingin lebih tenang.

  1. Kesulitan Untuk Produktif

Compassion fatigue dapat dikategorikan sebagai sebuah stres yang intens. Ketika kita mengalami stres yang berat ini, produktivitas kita pun akan ikut menurun sebab kita akan menjadi sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat berbagai hal.

  1. Kelelahan Fisik

Compassion fatigue tidak hanya memengaruhi kita secara kognitif atau pikiran, tetapi juga secara fisik. Beberapa tanda kelelahan fisik akibat adanya compassion fatigue meliputi pusing, mual, penurunan nafsu makan, hingga masalah pencernaan.

Penyebab Terjadinya Compassion Fatigue

Compassion fatigue tidak serta-merta terjadi begitu saja setelah mencoba  berempati kepada orang lain. Beberapa hal yang mungkin memicu seseorang mengalami compassion fatigue adalah sebagai berikut.

  1. Perasaan Terikat Secara Emosional

Ketika kita berempati, tandanya kita memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Jika ditindaklanjuti secara bijak, ini tentu bermanfaat bagi kita. Namun, ketika memahami ini disertai dengan perasaan terikat seperti merasa relate dengan masalah sendiri ataupun orang sekitar, maka rasa ingin membantu dan selalu ada untuk orang tersebut akan semakin tinggi. Ini perlahan bisa membuat kita tersiksa karena ada perasaan bersalah apabila tidak mampu membantunya memecahkan masalah yang ada. 

  1. Terpapar Trauma dan Stres yang Intens dan Konsisten

Menghadapi orang dengan trauma dan stres yang intens dan konsisten dapat mendorong kita untuk mengerahkan segala kemampuan fisik, psikis, dan emosional untuk membantunya merasa lebih baik. Hal ini memang sudah sifat alamiah manusia yang senang membantu satu sama lain.
Namun, apabila kita memaksakan diri, pada akhirnya ini membuat kita kelelahan sendiri, terutama apabila kita berempati pada seseorang dengan kecenderungan menyakiti diri sendiri. Mudahnya, keyakinan-keyakinan negatif yang dimiliki oleh orang tersebut secara perlahan seolah-olah menyatu dengan diri kita. 

Nah, rupanya ketika kita secara terus-menerus mendengarkan, memahami, dan hadir pada saat orang lain bercerita, secara perlahan itu akan membuat energi kita terkuras, loh.
Jadi, berempati boleh saja ya fellas, tapi jangan sampai itu membuatmu kelelahan! Bagaimana pun juga membantu orang memang perbuatan mulia, tapi tidak berarti kamu membuat dirimu sendiri kesulitan. So, manfaat apa yang biasanya fellas rasakan saat berempati? Boleh banget komentar di bawah ya.


Penulis: Rayzafie
Editor: Lala
Desain: 
SEO Editor: Dimas


Referensi:

  1. WebMD. (2022). Compassion fatigue: Symptoms to look for. WebMD. Retrieved January 8, 2023, from https://www.webmd.com/mental-health/signs-compassion-fatigue  
  2. Brown, H. (2021, September 13). What is compassion fatigue? 24 causes & symptoms explained. PositivePsychology.com. Retrieved January 8, 2023, from https://positivepsychology.com/compassion-fatigue/
  3. GoodTherapy.org. (n.d.). Compassion fatigue. Retrieved January 8, 2023, from https://www.goodtherapy.org/blog/psychpedia/compassion-fatigue