Ramai Sinetron Diprotes Keras, Memang Seberapa Kuat Pengaruh Media Terhadap Perilaku Manusia?

Sinetron Indonesia menjadi kontroversi dan sorotan publik karena dianggap tidak pantas dan tidak mengajarkan nilai-nilai yang baik.

Beberapa waktu lalu heboh soal sinetron di salah satu tv swasta yang dinilai tidak mendidik karena salah satu karakter utamanya yang masih berusia 15 tahun berperan sebagai istri ketiga. Dalam sinetron tersebut juga banyak adegan yang menjadi sorotan dan dinilai tidak pantas diperankan oleh aktris yang masih berusia 15 tahun itu. Selain itu, alur cerita yang ditampilkan juga menjadi perhatian publik karena dianggap permisif terhadap pernikahan di bawah umur.

Ini bukanlah kali pertama sinetron Indonesia menjadi kontroversi dan sorotan publik karena dianggap tidak pantas dan tidak mengajarkan nilai-nilai yang baik. Wajar saja, sebab apa yang ditampilkan di media, termasuk tv sedikit banyak mempengaruhi perilaku manusia, terutama anak-anak. Hal ini sangat berkaitan erat dengan social learning theory atau teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura, seorang psikolog asal Kanada.

Bagaimana Media Mempengaruhi Perilaku Manusia?

Albert Bandura dalam teorinya mengatakan jika teori pembelajaran sosial menekankan pentingnya mengamati, mencontoh, dan meniru perilaku, sikap, dan reaksi orang lain. Teori pembelajaran sosial ini mempertimbangkan bagaimana faktor lingkungan dan kognitif berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran dan perilaku manusia, termasuk yang ada di media. 

Pada anak-anak misalnya, dalam masyarakat, anak-anak dikelilingi oleh banyak model berpengaruh, seperti orang tua dalam keluarga, karakter di TV yang ditonton, teman dalam kelompok sebaya mereka dan guru di sekolah.

sinetron Indonesia menjadi kontroversi dan sorotan publik karena dianggap tidak pantas dan tidak mengajarkan nilai-nilai yang baik
Model-model inilah yang memberikan contoh-contoh perilaku untuk diamati dan ditiru, misalnya, maskulin dan feminin, pro dan anti-sosial, dll.

Dalam teori pembelajaran sosial Albert Bandura, tidak berarti semua hal akan ditiru anak secara langsung. Konsep ini sepadan dengan pemahaman bahwa anak belajar layaknya spons, menyerap apa yang ada di sekitarnya meski tidak terlibat langsung dalam sebuah aktivitas. Mendengarkan instruksi atau petunjuk secara lisan ternyata juga bisa menjadi media belajar hal baru. Anak-anak pun bisa belajar dengan membaca, mendengar atau menyaksikan karakter di buku dan film.

Bagaimana Mengatasi Dampak Buruk Media Televisi?

  1. Batasi Waktu Menonton TV

Menurut Akademi Pediatri Amerika, durasi menonton TV untuk anak-anak idealnya hanya 1-2 jam setiap harinya. Menonton TV terlalu lama bisa berdampak pada perkembangan sosialisasi si anak. Si Anak akan menjadi kurang bermain dan kurang melatih fisiknya karena terlalu sering duduk di depan TV.

Begitupun dengan orang dewasa, idealnya menonton televisi tidak lebih dari 5 jam setiap harinya.

  1. Pilih Tayangan yang Edukatif

Kita harus menyadari bahwa tidak semua semua tayangan yang ada di televisi bisa dinikmati, terutama anak-anak. Pilihlah tayangan yang memang benar-benar memberikan edukasi dan informasi yang pas dan dibutuhkan.

  1. Perhatikan Penempatan Televisi

Terkhusus pada anak-anak, jangan berikan anak televisi khusus di kamarnya. Sebaiknya menempatkan televisi di tempat yang bisa diawasi dan didampingi saat menonton.

  1. Carilah Alternatif Kegiatan Lain

Pastikan selalu ada alternatif kegiatan selain menonton televisi. Misalnya berolahraga, berkebun, membaca buku dan lain sebagainya.

Terlepas dari dampak buruk yang ditimbulkan oleh televisi, namun tetap saja televisi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebab televisi menjadi salah satu media sumber informasi. Televisi pun tidak selamanya membawa dampak buruk. Ada banyak manfaat yang juga bisa didapatkan dari televisi. Oleh karena itu penting bagi kita untuk tetap bijak dalam penggunaannya.

Desain oleh: Dono
Penulis: Abd. Hamid
Editor: Muthia Nida

Referensi:

  1. Dzulfaroh, Ahmad Naufal. (2021, June 3). Kontroversi Sinetron Zahra “Suara Hati Istri”: Pemeran Usia 15 Tahun, Isu Perkawinan Anak dan Eksploitasi Seksual. https://www.kompas.com/tren/read /2021/06/03/073500365/kontroversi-sinetron-zahra -suara-hati-istri-pemeran-usia-15-tahun-isu?page=all
  2. McLeod, Saul. 2016. Albert Bandura’s Social LEarning Theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/bandura.html 
  3. Trifiana, Azellia. (2020, Nov 17). Teori Pembelajaran Sosial. Benarkah Anak Meniru Apa Yang Dililihatnya?. Sehatq.  https://www.sehatq.com/artikel/teori-pembelajaran -sosial-benarkah-anak-meniru-apa-yang-dilihatnya
  4. NN. (2011, Oct, 7). 7 Cara Kurangi Dampak Buruk Televisi Pada Anak.  Wollipop. https://wolipop.detik.com/parenting/d-1739327/7-cara -kurangi-dampak-buruk-televisi-pada-anak
  5. Spetiana, Tiyas. (2021, March 10). Yuk Lindungi Anak Dari Dampak Buruk Menonton TV Dengan 6 Cara Ini. Kesehatan Kontan. https://kesehatan.kontan.co.id/news/yuk-lindungi -anak-dari-dampak-buruk-menonton-tv-dengan-6-cara-ini

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.