I Am Okay Indonesia

Ekspektasi Membawa Distraksi

Hi Fellas! Aku Sylvia, salam kenal!

Apakah kamu pernah menjadi seseorang yang dianggap keren, bisa mendapat hal-hal yang sulit untuk didapat, dan menjadi sasaran ekspektasi orang lain?

Rasanya mudah saja hidup dalam bayangan dari harapan orang lain. Semuanya terasa normal-normal saja saat orang lain bilang, “Kamu bisa kok, kamu kan pintar.” Atau “Bisa, pasti bisa, kamu rajin kok.”

Ungkapan-ungkapan yang awalnya seperti pujian dan semangat, lama-lama memengaruhi alam bawah sadarku. Aku selalu dikira ‘serba bisa’ melakukan ini itu, mendapatkan ini itu, lolos seleksi ini itu dengan mudah. Aku mulai menetapkan standar dan target dalam hidupku sesuai dengan apa yang orang lain inginkan dan harapan orang lain terhadap diriku.

Namun, setelahnya aku malah merasakan beban ada dalam diriku. Pressure yang awalnya sebatas ‘lolos atau tidak’, ‘berhasil atau gagal’, berubah menjadi “kamu harus bisa, kalau tidak, yang kecewa bukan kamu saja.” Awalnya aku menganggap itu sebagai motivasi tambahan, tetapi pikiran dan alam bawah sadarku ternyata menolak. Aku tidak termotivasi.

Ternyata harapan-harapan yang digantungkan kepada diriku menyebabkan burnout. Menurut Maslach & Schaufeli (Schaufeli, 2008) burnout merupakan kelelahan baik secara fisik maupun emosional yang menyebabkan berkembangnya konsep diri negatif, kurangnya konsentrasi, dan sikap kerja yang buruk. 

Aku sangat menghindari distraksi saat aku sedang ingin meraih sesuatu. Akan tetapi, apa boleh buat. Burnout yang aku rasakan malah menjadi distraksi terbesar yang aku alami. Aku merasa sulit sekali untuk kembali seperti semula, kembali memiliki motivasi dan semangat dalam mencapai tujuan-tujuan.

Berhari-hari aku merasa kelelahan, padahal tidak melakukan banyak hal produktif. Cukup lama aku terlarut dalam keadaan ini. Sampai akhirnya aku membenahi motivasi yang sejak awal sudah salah. Aku ingin meraih sesuatu untuk mencapai standar harapan orang lain, bukan untuk mencapai tujuan awal ‘kenapa aku mengikuti hal ini dan ingin berhasil di sini.’  

Tahap berbenah motivasi menurutku tidak mudah. Berbagai hal terbesar dalam hidupku sudah aku jadikan motivasi untuk berhasil di sini. Termasuk kedua orang tuaku. Namun, hasil yang aku dapatkan nihil. Sampai akhirnya aku mengalami kegagalan. 

Menurut sebagian orang, kegagalan adalah momok yang menyeramkan. Kegagalan akan membuat diri kita kehilangan value. Menurutku tidak. Kegagalan adalah motivasi terbesarku untuk keluar dari kondisi burnout. Kegagalan membuat aku sadar, aku masih perlu berjuang lebih. 

Setelah mendapatkan kegagalan, aku mulai menyusun strategi baru untuk berhasil. Jadwal belajar dan latihan aku siapkan matang-matang. Disiplin dan konsisten untuk bangun lebih awal sehingga dapat memulai segala sesuatunya dari awal. Memantapkan diri bahwa aku melakukan semuanya untuk diriku sendiri. Jika ada orang lain yang sedih atas kegagalanku, itu tanggung jawab mereka sebagai konsekuensi telah menggantungkan harapan kepadaku yang hanya manusia biasa. Jika ada orang lain yang senang atas keberhasilanku, itu adalah bonus dari Tuhan untukku agar bisa membahagiakan orang di sekitarku. 

Aku senang orang lain menganggap aku bisa. Namun, itu tidak aku dijadikan motivasi untuk meraih sesuatu. Puji Tuhan aku dilancarkan dalam mencapai tujuanku melalui percobaan keduaku. Dengan motivasi baru dan semangat baru aku bisa berhasil. Bonusnya adalah kedua orang tuaku ikut bangga atas pencapaianku. Kini, aku menyadari bahwa untuk menemukan motivasi terkuat adalah dari diri kita sendiri.

Penulis: Sylvia Magdalena
Editor: Noor Faa’izah
Desain:

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.