I Am Okay Indonesia

Emosi Jangan Ditahan. Yuk, Ekspresikan dengan Tepat!

Bukan Cuma Marah-Marah, Ini Pengertian Emosi yang Harus Kamu Tahu!

Emosi ternyata bukan cuma dapat diartikan dengan perasaan marah. Tapi, emosi merupakan sekumpulan pola reaksi kompleks pada individu sebagai respon dari situasi yang sedang dihadapinya. Emosi terdiri atas 3 komponen, yaitu pengalaman subjektif, respon fisiologis, dan respon tingkah laku. 

Pengalaman subjektif merupakan perasaan yang muncul, misalnya marah, sedih, senang, dan tegang pada situasi tertentu. Subjektivitas di sini menunjukkan bahwa respon setiap orang bisa berbeda. Kamu mungkin merasa sedih ketika temanmu pindah ke kota lain, namun ada juga individu yang justru marah ketika temannya pindah ke kota lain karena merasa ditinggal sendirian. 

Respon fisiologis adalah respon yang muncul karena fungsi biologis tubuh. Contohnya adalah munculnya keringat dan peningkatan denyut jantung.

Respon tingkah laku adalah respon yang dimunculkan sebagai tanggapan dari emosi yang sedang dirasakan secara menyeluruh. Misalnya adalah tersenyum ketika merasa senang dan berteriak ketika sedang marah.

Jadi, emosi bukan hanya merujuk pada perasaan. Apalagi perasaan negatif. 

Apa yang Terjadi Kalau Kita Tidak Mengekspresikan Emosi dengan Tepat?

Emosi yang terus ditahan dan dibiarkan terpendam begitu saja nyatanya berpotensi menghasilkan berbagai dampak negatif.

  • Dilihat dari kondisi fisik, individu yang cenderung memendam dan menahan emosi memiliki tekanan darah dan aktivitas jantung yang lebih tinggi. 
  • Ekspresi emosi yang ditahan juga berhubungan dengan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti gangguan mood, gejala depresi, dan kecemasan.
  • Terkait aspek sosial, emosi yang tidak diekspresikan dengan baik juga berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan muncul perilaku agresif, rendahnya kualitas hubungan sosial, rendahnya dukungan sosial, hingga rendahnya kesejahteraan dan kepuasan dalam hubungan sosial. 

Caption: Jadi, emosi tidak seharusnya ditahan atau dipendam.

Justru, kita harus menemukan cara yang positif dan adaptif untuk bisa mengekspresikan emosi karena emosi hadir untuk dirasakan, diterima, dan diekspresikan. 

Yuk, Ekspresikan Emosimu dengan Tepat!

Coba deh ekspresikan emosi dengan cara-cara berikut ini.

  1. Tarik napas, tenangkan diri sejenak, dan coba pahami perasaanmu dengan lebih objektif. Tidak perlu terburu-buru mencari pelampiasan tapi coba kenali terlebih dahulu apa yang sebenarnya kamu rasakan dan apa penyebabnya.
  2. Apabila ingin mengatakannya pada orang lain, gunakan kalimat yang menunjukkan sudut pandangmu. Maksudnya, gunakan kata-kata seperti “aku merasa…”, bukan dengan kata-kata seperti “kamu membuatku…”. Susunan ini membuat orang lain dapat lebih mudah memahami dan menerima perasaanmu sekaligus meminimalisir konflik yang mungkin terjadi. Jangan lupa turut beri penjelasan mengapa kamu merasa demikian. 
  3. Lakukan berbagai kegiatan positif yang dapat membantu untuk meluapkan emosi. Misalnya dengan meditasi, berkebun, karaoke, olahraga, atau bahkan menggambar dan menulis. 

Salah satu tokoh psikologi terkenal, Sigmund Freud pernah berkata, unexpressed emotions will never die. They are buried alive and will come forth later in an uglier ways, yang intinya menjelaskan bahwa emosi yang ditahan atau dipendam tidak akan pernah hilang, justru berpotensi untuk menghasilkan berbagai macam dampak negatif di kemudian hari. 

Jadi, mari kita belajar untuk mulai mengekspresikan emosi dengan tepat ya, Fellas!

PIC: Fahira Dumbi
Editor: Muthia Nida
Desain: Keke

Referensi:

  • Beblo, T., Fernando, S., Klocke, S., Griepenstroh, J., Aschenbrenner, S., & Driessen, M. (2012). Increased suppression of negative and positive emotions in major depression. Journal of Affective Disorders, 141(2–3), 474–479.
  • Butler, E. A., Egloff, B., Wilhelm, F. H., Smith, N. C., Erickson, E. A., & Gross, J. J. (2003). The social consequences of expressive suppression. Emotion, 3(1), 48–67.
  • Chervonsky, E., & Hunt, C. (2017). Suppression and expression of emotion in social and interpersonal outcomes: A meta-analysis. Emotion, 17(4), 669–683.
  • Heltler, S. (2013). How to Express Feelings… and How Not To. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/resolution-not-conflict/201305/how-express-feelings-and-how-not 
  • Hofmann, S. G., Heering, S., Sawyer, A. T., & Asnaani, A. (2009). How to handle anxiety: The effects of reappraisal, acceptance, and suppression strategies on anxious arousal. Behaviour Research and Therapy, 47(5), 389–394.
  • Lonczak, H. S. (2021). How to Express Your Emotions in a Healthy Way: 30 Practical Tips. Positive Psychology. https://positivepsychology.com/express-emotions/  
  • Roberton, T., Daffern, M., & Bucks, R. S. (2012). Emotion regulation and aggression. Aggression and Violent Behavior, 17(1), 72–82.
  • Roberts, N. A., Levenson, R. W., & Gross, J. J. (2008). Cardiovascular costs of emotion suppression cross ethnic lines. International Journal of Psychophysiology, 70(1), 82–87.
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.