I Am Okay Indonesia

Fenomena Dejavu: Apakah Kita Hidup di Dua Masa Berbeda?

“Eh, kayaknya kita pernah ngelakuin ini deh sebelumnya, tapi kapan ya?”

“Kok aku kaya ga asing ya sama tempat ini, padahal aku baru pertama kali kesini, lho!”

Apakah kalian pernah merasakan bahwa kejadian atau pengalaman yang kalian rasakan seolah pernah terjadi sebelumnya? Sensasi tersebut terkadang terasa sangat kuat, tapi ketika kalian mengingat-ingat kembali, kejadian atau pengalaman tersebut benar-benar yang pertama bagi kalian.

Duh, kok bisa begitu ya, fellas? Fenomena seperti ini biasa kita sebut dengan fenomena deja vu. Kira-kira kenapa ya dejavu ini dapat terjadi? Apakah ada kaitannya dengan psikologi? Simak terus artikelnya, ya!

Apa Sih Dejavu itu sebenarnya?

Fenomena dejavu ini dipopulerkan oleh salah satu psikolog asal Prancis bernama Émile Boirac pada tahun 1876. Dalam bahasa Prancis, dejavu berarti “pernah merasa” atau “pernah melihat”.

Singkatnya, dejavu adalah perasaan atau sensasi bahwa sesuatu yang kita alami atau lihat sekarang pernah kita rasakan di masa yang lampau, bahkan terkadang dapat kita tebak alur peristiwa saat itu.

Perasaan dejavu ini biasanya tidak berlangsung lama, tetapi meninggalkan perasaan aneh yang membekas. Fenomena dejavu seringkali dikaitkan oleh hal-hal mistis dan tak kasat mata, padahal fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah lho, fellas!


Mengapa Dejavu Dapat Terjadi?

Mengenai fenomena dejavu ini, ilmuwan psikologi melakukan berbagai studi untuk mencoba menjelaskan tentang serba-serbi dejavu. Beberapa psikolog mengaitkan fenomena dejavu dengan familiarity hypothesis milik Gestalt.

Setelah proses studi yang panjang, terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan kemungkinan penyebab seseorang merasakan dejavu, yaitu:

  1. Split Perception
    Salah satu teori yang dapat menjelaskan kemungkinan kamu mengalami dejavu adalah teori split perception. Teori ini berpendapat bahwa dejavu dapat dialami karena seseorang melihat hal yang sama di waktu yang berbeda.
    Otak kita dapat membentuk suatu ingatan meskipun pengalaman tersebut hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Teori ini dapat dimisalkan ketika kamu melewati suatu toko secara terburu-buru, tetapi kamu tetap melihat isi toko tersebut walaupun sekilas, lalu beberapa bulan kemudian kamu melihat temanmu mempunyai suatu benda dari dalam toko tersebut.
    Pada saat itu, kamu merasakan deja vu karena merasa pernah melihat benda semacam itu, tetapi kamu tidak dapat menjelaskan secara gamblang kapan atau dimana kamu pernah melihatnya.
    Hal tersebut terjadi karena memori mengenai benda tersebut tersimpan secara tidak sadar dan cepat di dalam otakmu.
  2. Memory Recall
    Teori memory recall mengaitkan dua suasana yang mirip pada waktu yang berbeda. Misalnya ketika kamu sedang berada di suatu tempat, kamu mencium suatu aroma yang membuatmu merasakan suasana tertentu, kemudian kamu mengalami dejavu.
    Ternyata, aroma tersebut adalah aroma parfum sahabat kecilmu. Jadi, berbeda dengan teori sebelumnya yang menekankan pada persepsi visual, teori yang kedua ini lebih berfokus pada suasana terkini yang menarik suasana serupa yang pernah terjadi di masa lampau.
  3. Gangguan Sirkulasi Otak
    Selain dari dua penyebab di atas, dejavu juga dapat disebabkan oleh minor brain circuit malfunctions atau gangguan sirkulasi otak. Otak memiliki dua macam penyimpanan memori, jangka pendek serta jangka panjang.
    Gangguan sirkulasi otak ini dapat berupa ketidaksinkronan otak dalam mengambil suatu memori secara sesaat.
    Misalnya kamu baru pertama kali melihat sesuatu, hal tersebut seharusnya disimpan ke dalam penyimpanan jangka pendek, tetapi otakmu langsung membawanya ke penyimpanan jangka panjang.
    Saat kamu melihat hal yang sama beberapa menit kemudian, kamu merasa hal tersebut pernah terjadi di masa lalu, padahal beberapa menit lalu kamu baru melihatnya untuk pertama kali.
  4. Kejang Lobus Temporal
    Penyebab dejavu yang terakhir adalah kejang kecil pada lobus temporal. Umumnya, ini hanya terjadi pada penderita stroke, epilepsi, kelainan pembuluh darah di otak, maupun tumor.
    Lobus temporal merupakan salah satu bagian otak yang memproses short term memory atau ingatan jangka pendek. Ketika kejang lobus temporal ini sedang terjadi, respons seseorang terhadap lingkungannya dapat menurun.
    Hal ini membuat penderitanya dapat melakukan sesuatu secara berulang dan dapat membuat mereka merasakan halusinasi ataupun dejavu.

Apakah Dejavu Berbahaya?

Karena dejavu merupakan peristiwa yang melibatkan otak dan sistem saraf di dalamnya, apakah peristiwa dejavu ini merupakan sesuatu yang berbahaya bagi orang-orang yang merasakannya?

Ketika seseorang mengalami dejavu berulang kali dalam sebulan dan disertai dengan gangguan ingatan, atau ketika peristiwa tersebut diiringi dengan gejala-gejala seperti jantung berdebar, meraba-raba, atau mengunyah secara tidak sadar, maka hal tersebut perlu ditindaklanjuti lebih jauh oleh tenaga profesional karena hal ini dapat menjadi tanda dari epilepsi atau gangguan saraf lainnya.

Akan tetapi, selama kamu mengalami dejavu tanpa disertai tanda-tanda tersebut, maka dejavu yang kamu rasakan mungkin hanyalah bagian dari pemrosesan ingatan pada otak.


Penulis: azmihhanifa
Editor: Lala
Desain:
SEO Editor: Noviarazm


Referensi:

  1. Nanda, S. (2021, September 07). Apa itu dejavu? Kenapa kita sering mengalaminya?. Brain Academy. https://www.brainacademy.id/blog/pengertian-dan-penyebab-dejavu 
  2. Cleary, A. (2022, Oktober 03). What is déjà vu? Psychologists are exploring this creepy feeling of having already lived through an experience before. Theconversation. https://theconversation.com/what-is-deja-vu-psychologists-are-exploring-this-creepy-feeling-of-having-already-lived-through-an-experience-before-187746 
  3. Saleh, N. (2016, Oktober 26). 4 possible explanations for déjà vu. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-red-light-district/201610/4-possible-explanations-d-j-vu 
  4. Masters, M. (2022, Augustus 31). What causes déjà vu?. Health. https://www.health.com/mind-body/deja-vu-causes