Greysia/Apriani yang Dapat Emas, Kamu yang Senang: Kok Emosi Bisa Menular Ya?

Penularan emosi adalah situasi ketika emosi dan perasaan seseorang menyerupai emosi dan perasaan orang lain yang seringkali terjadi tanpa disadari.

Indonesia gempar ketika tanggal 2 Agustus 2021 lalu duet maut Greysia/Apriyani mencetak sejarah sebagai pasangan ganda putri bulutangkis pertama Indonesia yang meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Di Twitter saja, tidak sampai satu jam setelah kemenangan tersebut, #GreyApFinalTokyo2020 dan #AlhamdulillahYaAllah tembus ratusan ribu cuitan dari netizen Indonesia.    Apakah kamu salah satunya? 

Kamu mungkin di rumah, tapi deg-degan dan bahagianya Greysia/Apriyani sampai ke kamu dan mungkin seluruh masyarakat Indonesia. Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi?

Mengenal Penularan Emosi

Sesuai namanya, penularan emosi adalah situasi ketika emosi dan perasaan seseorang menyerupai emosi dan perasaan orang lain yang seringkali terjadi tanpa disadari. Sedih, senang, cemas, marah bisa dengan mudah ditularkan, bahkan mungkin lebih mudah dibanding menularkan flu.  

Kok Bisa?

Semakin ekspresif seseorang, semakin mungkin baginya untuk memperhatikan emosi dan ekspresi wajah orang lain dan menirunya, seperti ikut tertawa, cemberut, tersenyum, atau mengerutkan kening. Ekspresi wajah yang ditiru inilah yang memicu munculnya perasaan. 

Ditinjau dari cara otak bekerja, kita memiliki mirror neuron atau sel otak yang aktif baik ketika kita melakukan suatu perilaku maupun melihat orang lain melakukan perilaku tersebut. Jadi, sel otak yang sama aktif ketika kita melakukan sesuatu atau hanya melihat orang melakukan sesuatu, sehingga hasilnya menjadi sama, yaitu sama-sama merasakan perasaan tertentu.

Kita Bisa Tertular Emosi dari Siapa Saja?

Dari jaringan sosial kita, alias teman, keluarga, rekan kerja, dan siapapun orang yang sering berinteraksi dengan kita sehari-hari. Tidak berhenti sampai situ, kita juga bisa tertular kesenangan dari temannya teman kita, temannya temannya teman kita, bahkan orang yang tidak kenal sekalipun. Bahkan, lagu, foto, dan film juga bisa menjadi sumber penularan emosi.

Penularan emosi adalah situasi ketika emosi dan perasaan seseorang menyerupai perasaan orang lain yang seringkali terjadi tanpa disadari.
Jadi, sudah jelas ya mengapa ketika Grey/Apriyani yang dapat emas, kamu, bahkan se-Indonesia, bisa ikut merasakan euforianya!

Bagaimana Memanfaatkan Penularan Emosi?

  1. Evaluasi diri

Tanyakan kepada diri sendiri biasanya emosi apa yang dirasakan dan pada akhirnya ditularkan kepada orang di sekitar. Kalau jawabannya belum memuaskanmu, jangan khawatir, masih ada kesempatan untuk mengubahnya.

  1. Selektif dalam memilih teman

Penelitian menunjukan bahwa sama seperti emosi positif, emosi negatif juga dapat ditularkan dan mempengaruhi kita. Jadi, penting untuk memilih teman yang dapat mempengaruhi  kita dengan lebih banyak emosi positif.

  1. Evaluasi hubungan dengan orang lain

Seberapa sering kamu membiarkan emosimu dipengaruhi orang lain? Sadarkah kamu hal ini terjadi? Dengan pengetahuan mengenai penularan emosi, kamu bisa mulai mengamati hubunganmu dengan orang lain dalam aspek emosi yang kalian bagikan.

  1. Lebih produktif dengan lingkungan yang bahagia

Kehadiran rekan atau teman yang menularkan rasa senang membuat kita lebih relaks dan terbuka terhadap berbagai ide dan inovasi baru serta kerjasama lebih mudah dilakukan.

  1. Lingkungan yang bahagia tidak melulu tentang orang lain

Kamu bisa menempatkan benda yang membuatmu tenang atau senang di meja atau ruang kerja atau belajarmu, seperti foto teman, tanaman, hiasan dinding, dan sebagainya. Ini berguna untuk menetralkan perasaan negatif yang mungkin muncul akibat tekanan kerja.

  1. Sadari bahwa setiap orang bertanggungjawab terhadap emosinya masing-masing

Kamu mungkin merasakan emosi yang sama dengan orang di sekitarmu. Ketika emosi tersebut adalah emosi negatif, tetap ingat bahwa kalian mungkin berbagi emosi yang sama, tapi bukan berarti kamu yang bertanggungjawab terhadap kesedihan temanmu atau kamu merasa harus mengeluarkan dia dari kesedihan itu.

Desain oleh: Zordy
Penulis: Shafira Izqiva R.
Editor: Nurul Malahayati

Referensi:

  1. Jodi Schulz, Michigan State University Extension. (2018, November 19). Emotions are contagious: Learn what science and research has to say about it. MSU Extension. https://www.canr.msu.edu/news /emotions_are_contagious_learn_what_science _and_research_has_to_say_about_it
  2. Boyles, S. (2008, December 4). Happiness is Contagious. WebMD. https://www.webmd.com/balance /news/20081204/happiness-is-contagious
  3. mediaindonesia.com developer. (2021, August 2). Catatan Bersejarah yang Mengiringi Medali Emas Greysia/Apriani. mediaindonesia.com, All Rights Reserved. https://mediaindonesia.com/olahraga /422585/catatan-sejarah-yang-mengiringi -medali-emas-greysiaapriani
  4. Perkasa, S. (2021, August 2). Greysia/Apriyani Sumbang Emas Pertama, Jagat Twitter Nasional Dipenuhi Rasa Haru – Medcom.id. medcom.id. https://www.medcom.id/olahraga /bulutangkis/GNlggl9K-greysia-apriyani-sumbang -emas-pertama-jagat-twitter-nasional-dipenuhi-rasa-haru
  5. ScienceDirect. (2019). Emotional Contagion – an overview | ScienceDirect Topics. https://www.sciencedirect.com/topics/psychology/emotional-contagion
  6. Raypole, C. (2019, December 12). Emotional Contagion: Why Emotions Are Contagious. Healthline. https://www.healthline.com/health/emotional-contagion#avoiding-it

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.