I Am Okay Indonesia

Healthy Boundaries: Berani Bilang Tidak!

Menjadi manusia yang suka menolong dan membantu orang lain adalah hal yang baik, namun terkadang anggapan ini malah membawa kerugian. Adanya kebiasaan membantu dan berusaha bersikap baik, membuat beberapa orang lupa untuk mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

Bahkan beberapa orang rela untuk menunda kewajiban dan tanggung jawabnya demi “membantu” kepentingan orang lain. Keadaan ini jika dibiarkan secara terus menerus bisa membawa stres ataupun burn out karena kewalahan. Oleh karena itu, dibutuhkannya batasan yang jelas untuk merespon permintaan orang lain agar kamu dapat memberikan bantuan dengan hati yang bahagia serta kepentingan dirimu pun tidak terbengkalai. Situasi ini disebut sebagai healthy boundaries yaitu batasan yang ditetapkan oleh seseorang untuk memastikan kestabilan diri secara mental dan emosional”

Mengapa Healthy Boundaries Itu Penting?

Nelson (2016) berkata bahwa healthy boundaries merupakan komponen penting dari self-care atau perawatan diri. Hal tersebut dapat dilihat dari batasan yang buruk (poor boundaries) dalam suatu hubungan pribadi ataupun profesional akan menyebabkan kebencian, kemarahan, dan kelelahan.  Lebih jelasnya, berikut merupakan alasan pentingnya healthy boundaries

  1. Hubungan Profesional yang Awet

Sering membantu rekan kerja merupakan hal yang baik, namun ternyata menerima permohonan orang lain tanpa adanya batas yang jelas akan mempersingkat hubunganmu dengannya. Tak perlu waktu yang lama, kamu akan kewalahan bahkan kesal dengan rekanmu, begitupun sebaliknya. Dengan adanya batasan dalam hubungan, kamu bisa mempertahankan hubungan yang sehat.

  1. Meminimalisir burnout

Berdasarkan Prism Health North Texas (n.d) poor boundaries dapat berdampak negatif pada seluruh aspek kehidupan seseorang seperti manajemen finansial, waktu, bahkan hubungan personal. 

  1. Membangun Identitas Diri

Adanya prinsip dalam membangun hubungan memudahkan orang lain untuk menentukan sikap kepadamu dan memahami waktu-waktu untuk berinteraksi denganmu. 

Healthy Boundaries untuk hubungan yang lebih sehat, gapapa kok untuk bilang “tidak!”

Tips Menetapkan Healthy Boundaries

Berikut merupakan tips yang dapat kamu lakukan demi menjaga kesehatan mental dengan lebih baik lagi!

  1. Latihan Memahami Diri 

Sebelum menetapkan batas terhadap hubungan dengan orang lain, perlu untuk mengetahui kemampuan dan batas diri. Berdasarkan Sarri Gilman, penulis buku Transform Your Boundaries seseorang dapat memikirkan batasan dengan melakukan “intuisi” melalui kata “Ya” atau “Tidak”. Lebih lanjut, manusia memiliki sense of wisdom atau kata batin yang mengarahkannya untuk berkata “Ya” atau “Tidak”

  1. Latihan untuk Menoleransi Reaksi Orang Lain

Saat pertama kali membangun batasan terhadap orang lain, reaksi emosi seperti marah dan kesal bisa saja terjadi. Kamu perlu untuk memikirkan kemungkinan tersebut, agar tidak kaget dan meruntuhkan batasan yang telah coba untuk dibangun. Di sisi lain, respon orang lain juga dapat menjadi tahapan seleksi terhadap orang sekitar. Jika orang lain tidak bisa menghormati personal boundaries-mu maka mungkin saja kalian tidak ditakdirkan untuk menjadi kerabat dekat, dan itu bukanlah masalah yang besar. Ingat, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang!

  1. Ingat, Dikomunikasikan!

Batasan yang kamu buat menyangkut hubunganmu dengan orang lain, oleh karena itu agar batasan tersebut dapat dipahami kamu perlu untuk mengkomunikasikannya. Pertama, jelaskan kepada orang lain batasan yang kamu harapkan beserta alasannya. Kedua, jangan lupa untuk menjelaskan secara singkat dan jelas. Penjelasan yang berlebihan biasanya menghilangkan poin utamanya, bisa jadi orang lain tidak menangkap “batas” yang kamu harapkan melainkan hanyalah “alasan” yang tidak jelas. Ketiga, jika diperlukan kamu bisa menjelaskan konsekuensi dari melanggar batas yang kamu bangun.

Contohnya, “aku kayaknya gak bisa bantu kamu di kemudian hari kalau kepepet kayak gini” agar memberikan pemahaman yang lebih jelas bagi orang tersebut.
Membangun healthy boundaries bisa jadi penuh dengan rintangan karena melibatkan orang lain, namun kontrol dirimu lah yang paling berperan di sini. Jika bukan dirimu yang paling peduli dengan kesehatan mentalmu, bagaimana orang lain bisa membantu?

Penulis: Fadila KR
Editor: Noor Faa’izah
Desain:

Referensi:

  1. Rollin, J. (2016, June 3). 3 Ways to Set Boundaries and Learn to Say “No”. Psychology Today. Retrieved January 24, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/mindful-musings/201606/3-ways-set-boundaries-and-learn-say-no
  2. Selva, J. (2021, December 8). How to set healthy boundaries: 10 examples + PDF worksheets. PositivePsychology.com. Retrieved January 24, 2022, from https://positivepsychology.com/great-self-care-setting-healthy-boundaries/
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.