Inner Child: Rahasia ‘Kecil’-mu yang Butuh Perhatianmu

Fellas, di era sekarang ini, kalian pasti merasakan bahwa pembahasan mengenai kesehatan mental semakin banyak dibicarakan. Hal tersebut membuat semakin banyak pula orang yang peduli dengan kesehatan mental mereka. Istilah-istilah seputar psikologi dan kesehatan mental pun semakin banyak yang terdengar familiar. Salah satu istilah yang belakangan ini sering digaungkan adalah ‘inner child’. Fellas juga pasti sudah tak asing dengan istilah ini, kan? Sebenarnya, fellas udah tau belum sih pengertian dan makna sebenarnya dari inner child ini? Apakah benar diri kita versi kanak-kanak akan selalu ada hingga kita dewasa? Yuk, simak artikelnya sampai habis, ya!

Sebenarnya, Apa Sih Inner Child Itu?

Istilah inner child dapat dimaknai sebagai alam bawah sadar berupa sifat dan sikap kekanak-kanakan yang dimiliki setiap orang. Akan tetapi, bentuk yang dihasilkan dari sikap ini berbeda-beda karena inner child bergantung pada pengalaman masa kecil yang telah dilalui masing-masing individu. Inner child juga dapat diartikan sebagai bagian dari dalam diri kita yang tidak ikut mendewasa dan akan ‘selalu’ menjadi anak-anak. Dalam perkembangan pribadi kita, inner child akan senantiasa mengikat erat memori-memori serta emosi masa kecil kita. Oleh karena itu, memori dan emosi buruk pada inner child dapat menjadi magnet yang menarik energi negatif pada lingkungan dan kejadian yang sedang kita alami. 

Setiap orang pasti memiliki ketakutan, trauma akan sesuatu, kecemasan, maupun usaha untuk menghindari suatu tempat, kegiatan, bahkan orang. Sesungguhnya, di saat-saat seperti ini, inner child kita sedang mengambil peran lho, fellas! Saat ia sedang berperan dalam dirimu, ia akan menentukan pikiran, pilihan, serta perilaku yang harus kamu lakukan berdasarkan memori masa lalu yang menurutnya akan membuatmu merasa aman. Karena apa yang dilakukannya berdasarkan pada pengalaman masa lalu, terkadang si inner self salah memilih langkah. Ia tidak tahu bahwa kondisi dan situasi sekarang mungkin telah berbeda dengan masa lalu. Karena ia memegang sebagian kendali atas diri kita, inner self menjadi salah satu faktor pembentuk karakter dan kepribadian seorang individu. Karena itulah kita perlu menjalin koneksi yang baik terhadap inner child kita agar ia tak lepas kontrol dan menjadi sisi buruk yang memusuhi kebaikan.       

Tanda-Tanda Inner Child kamu Terluka

Salah satu hal yang harus kita lakukan untuk mengenali inner child kita dengan baik adalah peka terhadap luka yang inner child kita miliki. Berikut beberapa hal yang dapat menandakan bahwa inner child kamu terluka:

  1. Sering membesar-besarkan masalah yang sepele

Kita mungkin sudah tidak dapat mengingat beberapa luka masa lalu secara spesifik. Lalu, bagaimana cara kita mengetahui bahwa luka tersebut pernah ada? Salah satu caranya adalah dengan mempelajari reaksi kita terhadap suatu situasi, terlebih jika kamu memberikan reaksi yang sedikit berlebihan dan tidak wajar terhadap kesalahan kecil. Reaksi berlebihanmu itu dapat menjadi tanda bahwa mungkin ada suatu kebutuhan masa kecilmu yang tidak terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu, secara tak sadar masalah mental, emosi, dan relasi yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari dapat menjadi penanda rasa sakit masa lalu, baik yang masih diingat maupun yang sudah terlupakan. 

  1. Diri sendiri yang tersabotase

Apakah fellas pernah berargumen dengan relasi baru tanpa alasan yang jelas? Atau, melewatkan wawancara untuk suatu posisi yang padahal kamu impikan? Nah, hal ini ternyata dapat menjadi hal yang menandakan inner child kamu terluka loh, fellas! Dirimu yang sekarang mungkin sudah sangat siap dengan tantangan dalam hubungan, pekerjaan, serta tantangan lain. Sebaliknya, inner child-mu mungkin memiliki kekhawatiran terhadap ketidakamanan akan hal tersebut. Oleh karena itu, kita tidak boleh kehilangan kendali atas diri kita sendiri.

  1. Tidak bisa move on dari masa lalu

Peristiwa gagal move on ternyata juga dapat menandakan bahwa inner child kamu terluka loh, fellas! Ketika kamu dewasa, kamu mungkin masih merasakan dendam dan sakit hati terhadap sesuatu. Hal tersebut dapat terjadi karena ada yang belum terselesaikan dari masa lalu dan inner child-mu belum bisa berdamai dengan hal itu.

  1. Coping mechanism yang tidak baik

Secara singkat, coping mechanism merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang untuk mengelola emosinya. Orang yang memiliki luka kanak-kanak biasanya akan melakukan coping mechanism dengan cara yang tidak sehat, seperti mengonsumsi narkoba, meminum minuman keras, maupun kegiatan merugikan lainnya. Hal ini dapat terjadi karena orang tua mereka tidak mengajarkan bagaimana mengelola emosi yang baik. 

  1. Masalah dalam menjalin hubungan

Jika kamu merasa sulit dan selalu gagal dalam membangun hubungan dengan orang lain, maka mungkin luka pada inner child kamu belum disembuhkan. Mungkin ‘anak-anak’ dalam dirimu memiliki trauma dalam suatu hubungan maupun merasa clueless terhadap bagaimana membangun hubungan yang baik.

Cara Menyembuhkan Inner Child-mu

Dari beberapa tanda di atas, ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk menyembuhkan luka pada jiwa ‘kecil’-mu

  1. Pahami lukamu

Hal pertama yang dapat kamu lakukan adalah mengidentifikasi rasa sakit yang pernah kamu alami di masa lampau. Ketika kamu sudah mendapatkan sumber dari luka itu, maka kamu akan lebih mudah mencari obat untuk luka tersebut. 

  1. Sayangi diri ‘kecil’-mu

Satu hal penting lainnya yang perlu kamu lakukan adalah dengan menyayangi inner child-mu sendiri. Setelah mengidentifikasi apa yang dibutuhkan oleh inner child-mu, kamu adalah orang yang berpeluang paling besar untuk memberikan keinginan serta kebutuhan yang belum terpenuhi oleh diri ‘kecil’-mu sendiri. 

  1. Memaafkan

Jalan lain untuk mengobati inner child-mu adalah dengan memaafkan. Kamu dapat memilih untuk membiarkan luka masa kecilmu selalu hidup dalam dirimu atau memaafkannya. Hal ini mungkin tidak mudah. Faktanya, kita tidak selalu bisa memperbaiki hal-hal di luar diri kita, tetapi kita dapat menata diri sebebas yang kita inginkan.

  1. Jadikan ia sebagai motivasi

Bagaimanapun, luka masa kecil tak boleh kita jadikan sebagai penghambat untuk membangun diri kita ya, fellas! Sebaliknya, jadikan ia sebagai sarana pembenahan dirimu untuk membangun emosi serta kepribadian yang baik. 

  1. Terapi

Masalah yang dihadapi setiap orang tentu berbeda-beda. Jika kamu merasa bahwa cara apapun tidak mempan untuk mengobati inner child-mu, maka datangilah psikolog, psikiater, atau pihak profesional lainnya. Bantuan dari pihak luar dapat membantumu untuk mencari jalan keluar atas luka masa kecilmu. 
Nah, itu dia, fellas pembahasan kita mengenai inner child. Mulai sekarang, diri ‘kecil’-mu jangan luput dari perhatianmu, ya!


Penulis: azmihhanifa 

Editor: Lala

Desain: Yafi

SEO Editor:


Referensi:

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.