“Jalan Tepat Yang Berat”

Hi Fellas!

Ini kisahku, anak 15 tahun yang harus menentukan jalan yang akan ditempuh di sisa hidupnya. Menjadi seorang pelajar, mungkin sudah tidak asing lagi dengan problematika penjurusan, terlebih bagi kita yang sudah beranjak ke Sekolah Menengah Atas. Penjurusan dari berbagai bidang studi mulai dari IPA, IPS, Bahasa atau bahkan kejuruan lainnya. Begitu sering aku berdebat dengan kedua orang tuaku , dan diriku sendiri tentang penjurusan ini. Mulai dari stigma-stigma bidang studi yang dianggap tidak menjanjikan hingga bahasan prospek kerja dan lain sebagainya. Hingga akhirnya dengan segala konsekuensi yang siap aku tanggung dan dengan tegas aku memutuskan untuk masuk jurusan IPS, Ilmu Pengetahuan Sosial. 

Orang tuaku? Jelas sangat kecewa, bahkan hingga detik ini aku tahu mereka berusaha keras menyembunyikan kekecewaan tersebut. Bagaimana dengan aku? Tidak pernah kubayangkan, aku akan sangat menikmati belajar, selalu tidak sabar untuk mengais-ngais ilmu, seperti saat ini. Aku belajar sesuai dengan kemampuanku. Alhasil nilai yang terpampang dalam laporan hasil belajarku yang baru-baru ini aku terima terbilang baik. 

Akan tetapi, sepertinya aku terlalu termakan buaian dengan segala pujian yang mereka ucapkan, dan menjadikan hal tersebut sebagai sumber kebahagiaan. Aku menjadi kecewa. Kenapa? Karena ternyata, tanggapan mereka atas hasil belajarku tidak sesuai dengan harapanku. Sejujurnya aku tidak mengharapkan validasi dari mereka, tetapi yang aku butuhkan hanya sedikit saja apresiasi.

Sejak hari itu aku sadar, selama ini aku terlalu menyandarkan sumber kebahagiaanku di punggung mereka. Aku menjadikan pujian dan  validasi orang sekitar sebagai asupan kebahagiaan. Bagaimana agar aku dapat terus-menerus dipuji? Betul, menjadi sempurna di mata mereka, menjadi seperti apa yang mereka inginkan.

Namun, aku memforsir seluruh energi, menelantarkan jadwal tidurku, hingga hobi dan hal-hal yang aku cintai terbengkalai. Aku mencintai dan puas dengan diriku sendiri, ketika aku akhirnya dipuji. Kalau tidak? Aku akan kecewa dan marah. Kepada siapa? Kepada diriku sendiri. Hingga hal tersebut menjadi sebuah siklus. Mengerjakan sesuatu, lalu merasa hal tersebut kurang, kecewa dan marah, overworked, dipuji, mengerjakan sesuatu kembali agar dipuji.

Hingga di satu titik, aku mengalami burnout.  Aku sadar bahwa aku lelah dan muak akan semua pujian yang ingin aku kejar, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan, tubuhku secara otomatis terus bekerja dan mengejar pujian. Alhasil seluruh pekerjaanku tidak baik, terutama keadaan ku secara jiwa maupun raga.  Aku memutuskan untuk lari sebentar dari  segala kericuhan yang terjadi, dan aku mempersilahkan diriku untuk rehat sejenak.

Ketika aku merenung, aku tersadar bahwa aku sudah melewati begitu banyak hal. Begitu banyak apresiasi yang kuterima, begitu sering tepuk tangan untuk ku terdengar. Tapi, apakah aku pernah mengapresiasi diriku sendiri? Apakah aku sudah mencintai diriku sendiri, sama seperti besarnya aku mencintai orang lain dan apresiasi yang mereka berikan? Aku juga sadar bahwa aku tidak akan selalu bisa menjadi sempurna selalu di mata mereka. Akan sangat melelahkan untuk, menyesuaikan diri kita dengan selera mereka masing-masing yang selalu berubah-ubah, agar kita dapat dipuji. Akan sangat melelahkan untuk memaksa diri kita untuk menjadi seperti apa yang mereka harapkan. 

Aku sadar, bahwa apresiasi, validasi dan cinta kasih yang paling berharga dan mempengaruhi diri kita, sebaiknya datang dari diri kita sendiri. Mari mulai mencintai diri dan menerima kekurangan diri.

Penulis: Ursula Lara Pagitta Tarigan
Editor: Noor Faa’izah
Desain: Keke

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.