I Am Okay Indonesia

Jangan Cuma Optimis atau Pesimis, Jadilah Pemikir Fleksibel!

Pernah gak sih fellas ngerasa dalam suatu waktu kalian itu punya keyakinan yang tinggi bahwa Dewi Fortuna akan memihak pada kalian? Tapi, di lain hari kalian merasa pesimis dan jadi demotivasi seakan-akan langit akan runtuh? 

Sebagai manusia, kita sering kali tanpa sadar terlalu memikirkan hal yang bahkan belum terjadi. Kita secara otomatis membuat asumsi saat ingin melakukan kegiatan tertentu, khususnya hal-hal baru yang mulai kita coba. Pada kegiatan satu kita merasa optimis, tapi kegiatan yang lain merasa pesimis.

Ada satu buku yang berjudul, “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring yang menyatakan bahwa ada hal yang dapat kita kendalikan dan ada yang tidak. Salah satu hal yang dapat kita kendalikan adalah pikiran dan usaha kita, sementara hal yang tidak dapat kita kendalikan adalah hasilnya serta pandangan orang lain. Penting untuk berfokus pada hal yang dapat kita kendalikan saja.

Salah satu cara untuk mulai membiasakannya adalah dengan mencoba menjadi pemikir yang fleksibel. Mau tau apa itu pemikir yang fleksibel dan tips dalam menerapkannya? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

Menjadi Pemikir Fleksibel

Pemikir fleksibel dapat dikatakan merupakan seseorang yang berada di tengah-tengah antara optimisme dan pesimisme. Mereka dapat mengendalikan pikiran mereka untuk tidak condong ke salah satunya.

Bayangkan ketika kamu akan melakukan tes wawancara untuk pekerjaan yang kamu lamar. Kamu memiliki keyakinan bahwa tidak ada alasan perusahaan untuk menolakmu sebagai pekerja mereka karena pengalaman terdahulu yang kamu miliki. Kamu optimis bahwa kamu adalah kandidat yang mereka cari. Karena terlalu optimis, kamu bahkan tidak mempersiapkan dirimu dan menyepelekan proses wawancara tersebut. Alhasil, ketika kamu menghadapi pertanyaan yang tidak kamu bayangkan, kamu menjadi kaku dan terbata-bata.

Bandingkan dengan jika kamu optimis, namun kamu imbangi dengan pemikiranmu yang cenderung pesimis. “Nanti pertanyaan yang seperti ini, gimana cara jawabnya, ya?” atau “Kira-kira yang bakal ditanyain apa saja, ya?” dan berbagai kemungkinan yang dapat menyebabkan kamu tidak lolos di tahap wawancara tersebut. Dari keraguanmu tersebut, kamu akan mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi-situasi di luar kendalimu. Kamu tidak hanya memiliki keyakinan yang tinggi tetapi juga memiliki persiapan yang matang.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa menjadi pemikir yang fleksibel artinya kamu mempertimbangkan berbagai alternatif, baik yang bersifat positif dan negatif. Kamu dapat menyadari bahwa kepercayaan diri dan juga rasa putus asa akan suatu hal merupakan emosi yang sifatnya jangka pendek. Kamu tidak perlu ambil pusing dengan terus condong ke arah negatif ataupun terlalu santai karena pikiranmu begitu positif. Kamu seimbang dan siap untuk berbagai kemungkinan yang ada.

Pemikir fleksibel dapat dikatakan merupakan seseorang yang berada di tengah-tengah  optimisme dan pesimisme serta tidak condong pada salah satunya.
Pemikir fleksibel dapat dikatakan merupakan seseorang yang berada di tengah-tengah optimisme dan pesimisme serta tidak condong pada salah satunya.

Optimisme Vs Pesimisme

Kita tentu tahu bahwa segala hal yang berlebihan pasti akan mengarah kepada sesuatu yang buruk untuk diri kita sendiri.  Seperti; Kebanyakan makan gula, dapat menyebabkan penyakit. Kebanyakan bekerja tanpa memperhatikan jam istirahat, dapat membuat tubuh lelah.

Begitu pula dengan pemikiran. Terlalu optimis ataupun terlalu pesimis, keduanya dapat memberikan dampak yang kurang baik untuk diri kita. Penelitian yang dilakukan oleh Weinstein (1980) menunjukkan bahwa otak kita memiliki bias optimisme. Kita cenderung berpikiran bahwa hidup kita akan lebih baik daripada orang-orang secara umum. Kita percaya bahwa kita akan selalu sejahtera selama menjalani kehidupan, padahal pada kenyataannya tidak.

Jika kamu tidak bisa mengendalikan bias optimisme tersebut, kamu mungkin akan menghadapi situasi yang sama seperti pada contoh wawancara kerja di atas. Dengan persiapanmu yang tidak matang, kamu pada akhirnya dapat menyalahkan diri sendiri atau malah memandang sebelah mata pewawancara. Padahal, sudah kewajiban bagimu untuk mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi selama proses wawancara. Ini akan menimbulkan emosi negatif yang mengganggu aktivitas.

Begitu pula jika kamu terlalu pesimis dengan diri sendiri. Kamu sulit untuk mengekspresikan diri karena sudah dihantui dengan kecemasan. Memandang negatif segala hal akan membuatmu berdiri di tempat dan tidak pernah bergerak maju. Jika pikiran negatif ini bertumpuk-tumpuk seiring berjalannya waktu, sama saja dengan kamu membahayakan kondisimu sendiri dengan asumsi negatif.

Tips untuk Menjadi Pemikir Fleksibel

Setelah banyak membahas tentang apa itu berpikir fleksibel dan perbedaannya dari optimisme dan pesimisme, yuk sekarang kita belajar untuk jadi pemikir fleksibel dengan memperhatikan hal-hal berikut ini.

  • Mengetahui bahwa setiap hal memiliki dua sisi. Semua hal di dunia ini memiliki sisi baik dan buruknya. Kamu harus menyadarinya dan mempertimbangkan kedua hal tersebut dalam pengambilan keputusan.
  • Ketahuilah bahwa pikiranmu belum tentu sama dengan orang lain. Cobalah untuk memahami dari berbagai perspektif dengan menanyakan pendapatnya. Dengan begitu kamu akan mendapatkan sudut pandang baru.
  • Sadarkah kamu kalau rasa cemas sebenarnya bisa diatasi dengan perencanaan? Iya, kamu dapat menuangkan segala rasa cemasmu dan mulai berbenah.
  • Jangan pernah menyepelekan sesuatu, meskipun kamu tahu bahwa kamu berpengalaman dalam permasalahan itu.
  • Kenali perasaanmu saat ini, terima, dan tuliskan pada buku jurnal. Kita terkadang tidak bisa mengendalikan perasaan kita terhadap suatu hal, entah itu perasaan senang atau sedih. Namun, pahamilah kalau perasaan itu hanya sesaat. Pemikir yang fleksibel tidak akan terpengaruh pada emosi sesaat.

Perlu kamu ingat, untuk menjadi pemikir yang fleksibel juga memerlukan waktu. Sama halnya ketika kamu ingin mengubah kebiasaan. Cobalah lakukan dari hal terkecil yang dapat kamu lakukan karena setiap perubahan yang baik itu sangat berarti.

Penulis:  Dwi Nantari
Editor: Muthia Nida
Desain: Keke

Referensi:

  1. Boyes, Allce. (2014, September 17). Become a More Flexible Thinker. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com /intl/blog/in-practice/201409 /become-more-flexible-thinker.
  2. Shuman, Carla. (2020, November 12). Developing Flexible Thinking Improves Resilience. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com /intl/blog/trial-triumph/202011 /developing-flexible-thinking-improves-resilience.
  3. Cherry, Kendra. (2020, May 10). Understanding the Optimism Bias. VeryWellMind. https://www.verywellmind.com /what-is-the-optimism-bias-2795031#:~:text=Optimism %20bias%20increases%20the%20belief,re% 20not%20worried%20about%20risks.
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.