I Am Okay Indonesia

Kehilangan Diri Sendiri

Banyak rencana terkait masa depan yang sudah dirancang sebaik mungkin. Mencari tahu cara terbaik untuk mewujudkannya dan melakukan banyak pengorbanan untuk meraihnya. Tak seorang pun ingin realita tidak sejalan dengan rencananya. Rasanya semua yang aku inginkan tidak pernah terwujud. Semua usaha, tenaga, hati, dan pikiran yang aku curahkan pada setiap perjuanganku berakhir sia-sia. Tahun 2020 kemarin adalah tahun terberat untukku, banyak yang sudah direncanakan sebaik dan sematang mungkin, namun tak terwujud sesuai ekspektasi. Berakhir dengan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang tidak aku kenali dan jurusan yang tidak aku minati, rasanya seperti jalan di tempat berduri, tak ke mana-mana, hanya sakit dan lelah yang terasa. Rasanya berat, ditambah lagi ekspektasi yang dilimpahkan banyak orang terhadap diriku yang sudah lelah untuk berusaha. Merasa bahwa dari dulu semua usahaku tak ada yang berhasil. 

Mau tak mau, kegiatan pengenalan lingkungan kampus dan ospek harus dijalani, semua terasa baik-baik saja hingga masa ospek selesai. Namun tidak saat pertemuan pertama pembelajaran. Masih kuingat jelas matematika mata kuliahnya. Pada pertemuan itu kelasku sudah diberi tugas dan dikumpulkan sebelum mata kuliah selesai. Aku yang notabenenya lebih tertarik ke jurusan sosial humaniora pun tertinggal. Menangis di pertemuan pertama kuliah tidak pernah ada di wishlist hidup siapapun, termasuk aku. Namun, rasa terintimidasi melihat teman-teman lain bisa mengerjakan soal dan bisa berinteraksi dengan mudah membuat aku merasa kecil hati dan rendah diri. 

Aku yang sejak kecil dikenal sebagai anak yang ceria, mudah beradaptasi, percaya diri, berambisi, serta humoris berevolusi menjadi anak yang pendiam dan sulit bergaul. Kesulitan mengikuti kegiatan belajar mengajar pun menjadi salah satu alasan untuk sulit bergaul. Merasa bahwa diri tidak bisa apa-apa membuat aku membatasi diri untuk bergaul. Teman-teman di SMA yang melanjutkan pendidikan di kampus yang sama pun merasa bahwa aku  berubah. Aku menjalani semester satu seperti angin lalu. Hanya mengikuti alur yang ada. Tidak maksimal dalam belajar, hanya mendengarkan dosen menjelaskan tanpa mencoba memahami. Rasanya aneh, terbiasa punya tujuan dan cita-cita kini berjalan tanpa tujuan. Terbiasa melakukan yang terbaik, kini hanya melakukan seadanya. Melakukan hobiku pun rasanya aneh sekarang. Bernyanyi dan membaca novel tak lagi jadi daftar kegiatan yang aku gemari. Terlalu berfokus pada rasa sakit hati atas kegagalan kemarin ternyata berdampak sejauh ini. 

Tak ingin berlarut seperti ini akhirnya aku memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk mengeksplor kegiatan-kegiatan yang ada di kampus. Bermodal informasi dari teman jurusan lain dan beberapa cerita kakak tingkat, akhirnya aku mencoba untuk mengikuti organisasi. Tujuan awalnya agar aku tidak berlarut dengan keadaan seperti ini, namun ternyata semakin hari aku semakin nyaman di organisasi itu. Semakin hari aku merasa bahwa aku semakin berkembang dan rasa percaya diri muncul kembali. Mulai memberanikan diri sebagai koordinator divisi di salah satu program kerja ternyata mulai membawaku kembali menjadi aku yang sebelumnya. Namun masih belum seratus persen kembali, ada tahapnya. Aku masih belajar menumbuhkan rasa semangat belajar dan disiplin kembali dalam kegiatan belajar mengajar. Sekarang semua masih dalam proses dan semoga aku bisa mengembalikan diriku yang sebelumnya, yang ceria, mudah beradaptasi, percaya diri, berambisi, dan humoris. 

Penulis: Karya Esther Mei M. S.
Editor: Nurul Malahayati
Desain: Dono

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.