I Am Okay Indonesia

Keluarga Nggak Ngerti Masalah Kesehatan Mentalmu? Coba Baca Ini

Rachel sedang stres dan cemas karena tuntutan akademik, organisasi, dan magang yang ia ikuti. Tekanan dan kecemasan ini terus berlanjut sampai Rachel berubah. Ia jadi mudah tersinggung serta cenderung sedih dan bete berkepanjangan. 

Keadaan semakin buruk ketika keluarga Rachel tidak mendukungnya dalam situasi sulit ini. Orang tuanya gusar karena Rachel terus murung tanpa sebab yang jelas. Kakaknya kesal karena Rachel malah banyak tidur. Adiknya kecewa karena Rachel enggan bermain dengannya. Sementara, Rachel sendiri merasa kewalahan kalau harus menjelaskan apa yang terjadi dengannya.

Pernah mendengar atau melihat situasi di atas? Atau mungkin, kamu sendiri pernah mengalaminya? Pada satu waktu tertentu, setiap orang pasti pernah kesulitan menjaga kesehatan mentalnya sehingga muncul sedih yang tidak beralasan, cemas berlebihan, sampai gangguan mental klinis. Hal ini tentunya mempengaruhi individu tersebut serta hubungan dengan orang di sekitarnya. 

Sayangnya, tidak semua orang sadar dan paham kesehatan mental dan bagaimana dampaknya jika hal itu terganggu, seperti yang dialami Rachel. Mungkin, orang tua Rachel tumbuh dalam keluarga yang tidak mengajarkan pentingnya kesehatan mental. Mungkin, kakak dan adik Rachel masih terjebak dalam stigma yang membayangi gangguan kesehatan mental. Atau mungkin, mereka hanya tidak memahami tekanan yang dialami dan dampaknya terhadap kesehatan mental Rachel. Jadi, apa yang bisa dilakukan?

Rachel perlu memahami kemungkinan alasan keluarganya tidak mendukungnya, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Selanjutnya, Rachel perlu fokus menjadikan diri sendiri sebagai pendukung utamanya. Berkata baik terhadap diri sendiri, merawat diri dengan melakukan hal yang menenangkan dan menyenangkan, menulis jurnal, dan tidur ternyata cukup membantu menata perasaan Rachel yang kacau. Apa yang menyenangkan bagimu mungkin berbeda dengan Rachel, jadi carilah apa yang paling sesuai untukmu. Usahakan agar kegiatan ini menjadi rutinitas harian. Ini akan membuatmu merasa punya kendali atas emosi dan fokus melakukan hal baik untuk diri sendiri. 

Menjelaskan apa yang kamu alami kepada keluarga mungkin terasa berat. Tidak apa, coba dari hal sederhana dan spesifik dulu. Misalnya “Kak, aku lagi gak enak badan, aku mau tidur lebih lama ya”, “Dek, aku lagi capek nih, kita gak main dulu ya” akan membantu mereka memahami sedikit perasaanmu. Satu lagi, kamu berhak meminta bantuan ke orang lain ya, dari teman sampai tenaga profesional.

Penulis : Shavira Izqiva
Desain oleh : Tri Wulandari
Editor : Nida Zhafira

Referensi:

  1. Schimelpfening, Nancy. (2020). Dealing With Unsupportive Friends and Family When You’re Depressed. Retrieved from https://www.verywellmind.com/unsupportive-friends-and-family-1067469
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.