I Am Okay Indonesia

Kenali “Notification Anxiety”: Panik Saat Mendapat Notifikasi di HP

Pernah tidak kamu sedang mendapatkan notifikasi di ponsel, bukannya senang tapi malah panik? Padahal notifikasi itu hanyalah pesan dari teman yang sedang menanyakan kabar.

Sejak aktivitas kita lebih banyak dilakukan di rumah karena pandemi, penggunaan ponsel sebagai media komunikasi juga semakin meningkat. Tak hanya sebagai komunikasi saja, belakangan ponsel juga digunakan sebagai alat untuk melakukan berbagai macam aktivitas virtual, mulai dari sekolah, bekerja, mengikuti berbagai macam webinar bahkan ibadah sekalipun. 

Maka tak heran jika ponsel yang sebelumnya menjadi media komunikasi dan hiburan setelah lelah beraktivitas di dunia nyata, kini berubah menjadi benda yang menyeramkan bagi sebagian orang. Terutama ketika ponsel itu berbunyi atau mendapatkan notifikasi pesan. Jika kamu sudah berada pada fase ini, bisa jadi kamu sedang mengalami notification anxiety.

Apa itu Notification Anxiety?

Sederhananya, notification anxiety merupakan suatu keadaan dimana kamu mengalami kegelisahan dan kepanikan secara tiba-tiba ketika mendapatkan notifikasi di ponsel kamu. Notifikasi itu bisa berupa apa saja: email, DM di Instagram, telepon, pesan dari orang-orang terdekat, bahkan random notification seperti pop uppop up berita dan pemberitahuan update sekalipun. Tidak peduli notifikasi apapun itu, ketika kamu mendapatkan getaran atau atau bunyi ding di ponsel kamu, hal itu seolah mengirimkan gelombang kepanikan ke seluruh tubuh.

Kenapa Notification Anxiety Bisa Terjadi?

Faktanya, sebuah penelitian yang dilakukan jauh sebelum pandemi, menemukan jika orang-orang yang sudah bekerja secara instan lebih sering membuka notifikasi email yang masuk sebanyak 41% dan 71% notifikasi pesan. Bahkan, ketika tidak diminta untuk membuka notifikasi, orang-orang secara terus-menerus tetap mengecek ponsel mereka. Hal ini menjadi salah satu yang menyebabkan munculnya gangguan dan kepanikan.

Kepanikan ini muncul lebih sering ketika aktivitas lebih banyak dilakukan lewat ponsel selama pandemi ini. Kita mungkin membayangkan enaknya beraktivitas di rumah tanpa perlu bermacet-macetan di jalan dan lebih fleksibel. Padahal, melakukan berbagai aktivitas di rumah dengan menggunakan ponsel sebagai media justru menjadi tidak menentu. Kamu harus selalu stand by  di depan layar ponsel kamu untuk mengecek notifikasi yang masuk agar tidak ketinggalan informasi mengenai pekerjaan, sekolah dan yang lainnya.

Di sisi lain kepanikan ini bisa terjadi karena kamu mungkin berpikir jika notifikasi yang masuk menjadi pertanda jika kamu telah melakukan kesalahan dan si pengirim pesan ingin menyalahkanmu. Misalnya, ketika kamu telah mengumpulkan tugas kemudian mendapatkan pesan dari guru atau dosen yang memberitahukan jika tugasmu tidak sesuai dan kamu gagal.

Tidak berhenti ketika menerima pesan saja, kepanikan juga muncul karena kekhawatiran kamu tentang bagaimana merespon dengan baik pesan yang masuk. Terlebih ketika kamu menerima pesan dari orang tidak begitu akrab. Hal itu bisa lebih membuat stres memikirkan bagaimana kamu merespons untuk mempertahankan hubungan apa pun yang kamu inginkan dengan mereka, bukan?

Bagaimana dengan waktu? Sekarang setelah kamu menerima notifikasi, apakah masuk akal untuk segera merespons? Bagaimana jika orang itu menanggapi kamu beberapa jam setelah kamu menghubungi? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang memunculkan kepanikan di diri kamu.

Terlalu sering bermain ponsel bisa menjadi salah satu penyebab munculmya notification anxiety

Bagaimana Mengatasi Notification Anxiety?

  1. Menonaktifkan Bunyi Notifikasi

Ini menjadi hal yang paling mudah untuk dilakukan. Dengan menonaktifkan notifikasi ponsel, kamu bisa menjadi lebih rileks dan tidak cepat terdistraksi terhadap notifikasi yang masuk.

  1. Mengatur Penggunaan Ponsel

Cobalah untuk mengatur jam penggunaan ponsel kamu. Kapan waktunya untuk beraktivitas di ponsel, kapan waktunya untuk stay away from that

  1. Lakukan Social Media Detox

Notifikasi pada media sosial menjadi yang paling sering muncul di ponsel. Oleh karena itu, kamu perlu menerapkan social media detox atau membatasi diri untuk bermedia sosial.

  1. Berhenti Menjadi Multitasking

Siapa yang sering mengikuti webinar dua atau bahkan lebih di waktu yang bersamaan? Atau mengikuti kegiatan lainnya secara bersamaan? Mulai dari sekarang, sebaiknya hindari multitasking. Sebab, semakin banyak kegiatan yang kamu ikuti, kamu juga akan lebih sering menerima notifikasi. Namun bukan berarti kamu jadi orang yang mager-an. Tapi prioritaskan kegiatanmu satu per satu.

  1. Lakukan Aktivitas Lain yang Menghibur

Dengan memberikan jeda waktu untuk meninggalkan ponsel, kamu jadi lebih punya waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat dan menghibur lainnya. Misalnya, dengan membaca buku, berolahraga, memasak dan kegiatan lainnya yang bisa menjauhkan kamu dari ponsel.

Mendapatkan notifikasi kadang menjadi menyenangkan, namun tak jarang juga dapat memunculkan stress. Kita sadar saat ini kita memang seolah tidak bisa lepas dari yang namanya ponsel. Namun bukan berarti kamu harus 24 jam mengeceknya. Menonaktifkannya untuk beberapa waktu dapat membantu menenangkan pikiran kamu dan memberi kamu lebih banyak kontrol atas penggunaan ponsel dan media sosial.

Penulis: Abd. Hamid
Editor: Nurul Malahayati
Desain: Zordy

Referensi:

  1. Katsha, Habiba. Agustus 2020. In Defence of Turning off All Your Notification. https://www.refinery29.com/en-gb/2020/08/9929778/notifications-causing-anxiety
  2. Makarm, dr. Fadhli Rizal. Februari 2021. WFG Bisa Sebabkan Whatsapp Anxiety, Ini Penjelasannya. https://www.halodoc.com/artikel/wfh-bisa-sebabkan-whatsapp-anxiety-ini-penjelasannya
  3. Warnai, Asril. Februari 2021.  Quick Tips: Dealing with Messaging Anciety During WFH. https://medium.com/life-at-telkomsel/quick-tips-dealing-with-messaging-anxiety-during-wfh-c5a453c7fb56 
  4. NN. November 2019.  Do Notifications Heighten Your Anxiety?. https://sova.pitt.edu/social-media-guide-do-notifications-heighten-your-anxiety
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.