I Am Okay Indonesia

Kesal dengan Suara yang Bising? Yuk, kenalan dengan Misophonia!

Suara sudah tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Dalam menjalani aktivitas apapun, aneka macam suara selalu kita dengar setiap harinya. Mulai dari suara musik, ketukan, gesekan buku, meja, atau kursi, suara orang bicara, suara televisi, suara binatang, dan aneka suara lainnya.

Menurut sebuah penelitian, suara juga membuat seseorang lebih memahami situasi dalam kehidupan sehari-hari, emosi, suasana hati, serta menciptakan perasaan tertentu.

Terkadang, suara juga bisa mengganggu aktivitas seseorang, terutama ketika mereka ingin merasakan ketenangan, waktu sendiri, atau kegiatan yang dijalani berjalan dengan lancar.

Namun, ada salah satu fenomena yang berkaitan dengan suara, lho! Mereka sangat terganggu dengan berbagai macam suara, mulai dari suara yang kecil hingga yang besar. Kira-kira, mengapa bisa ada fenomena ini, ya?

Bagaimana proses manusia mendengar suara?

Sebelum mengetahui mengapa seseorang sangat terganggu dengan suatu suara, mungkin kita perlu memahami proses manusia mendengar sebuah suara melalui telinga setiap hari, Fellas!

Telinga manusia mampu mendeteksi frekuensi dari 1.000-4.000 hertz. Sedangkan, kisaran pendengaran manusia sebesar 0-13 desibel.

Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), proses mendengar suara diawali dengan gelombang suara yang masuk ke telinga luar, berjalan melalui saluran telinga, hingga mengarah ke gendang telinga. Setelah itu, telinga menghasilkan getaran serta mengirim sinyal tersebut ke telinga tengah kemudian ke koklea.

Kemudian, gelombang suara mengarah ke membran basilar dan sel-sel sensorik untuk mengendalikan suara. Ada yang mendeteksi bernada tinggi dan ada juga yang bernada rendah.

Setelah itu, terdapat stereocilia atau rambut-rambut kecil terbuka yang menyebabkan bahan kimia masuk ke dalam sel, sehingga terciptalah sinyal listrik. Ketika mengarah ke sistem saraf pusat, gelombang tersebut sudah menjadi suara yang kita kenali dan pahami.

Lalu, apa itu Misophonia?

Misophonia adalah sebuah gangguan ketika suara-suara tertentu dapat memicu emosional atau fisiologis seseorang, tapi mereka mengartikannya dalam sesuatu yang tidak masuk akal serta merasa sangat terganggu dengan suara tersebut.

Contoh-contoh suara yang membuatnya terganggu seperti, suara orang mengunyah, menyeruput minuman, mengetuk jari ataupun benda lain, memainkan pensil atau pulpen, suara langkah kaki orang, bersiul, dan lain-lain.

Misophonia berasal dari bahasa Yunani, yaitu miso yang berarti benci dan phon yang berarti suara, sehingga artinya adalah benci akan suara. Pasien yang menderita misophonia biasanya akan memiliki reaksi impulsif terhadap suatu suara.

Menurut Jastreboff seorang Professor di bidang Audiologi, misophonia ada hubungannya dengan tinnitus, yaitu kondisi neurologis yang kompleks ketika salah satu atau kedua telinga seseorang mengalami dering, sehingga mempengaruhi emosional seseorang.

Jastreboff juga menyatakan, bahwa misophonia berhubungan dengan sistem pendengaran pusat dan sistem limbik, yang berkaitan dengan rasa cemas dan takut, serta mengalami hiperakusis yaitu sensitif terhadap suara yang terlalu keras.

Bagaimana sih, tanda-tanda orang yang mengalami Misophonia?

Terdapat gejala fisik dan emosi yang dirasakan ketika seseorang mengalami misophonia. Biasanya, mulai muncul perasaan jengkel, marah, adanya keinginan menyerah secara fisik dan verbal, gugup, gelisah, cemas, panik, sesak, dan peningkatan denyut jantung.

Selain gejala di atas, proses seseorang mengalami misophonia dimulai dari adanya pelepasan hormon adrenalin dan norephinefrin, otot mulai mengencang, pembuluh darah menyempit, pupil melebar, rasa waspada dan kesadaran meningkat.

Seseorang yang mengalami misophonia kesulitan untuk mengontrol suara-suara di sekitarnya, bahkan bisa sampai menghindari tempat-tempat yang menimbulkan suara, teman-teman, keluarga, hingga bolos kerja dan sekolah.

Mengapa Misophonia bisa terjadi?

Seseorang bisa mengalami misophonia karena ada beberapa hal, diantaranya seperti:

  1. Kimia Otak: terdapat konektivitas antara korteks insular anterior, yaitu area otak yang penting dalam pemrosesan emosional, dan korteks pendengaran
  2. Tinnitus: yaitu sering mendengar suara dering atau mendengar suara yang tidak didengar oleh orang lain
  3. Genetik: ada bagian genetik yang diturunkan dalam keluarga

Adanya gangguan psikologis: seperti OCD (Obsessive Compulsive Disorder), Sindrom Tourette, gangguan kecemasan, phobia, dan kecenderungan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Lalu, bagaimana pengobatan untuk penderita Misophonia?

Ada beberapa terapi yang biasanya diberikan oleh orang yang menderita misophonia, diantaranya seperti:

  1. Tinnitus Retraining Therapy: terapi ini membantu seseorang untuk menerima dan toleransi dengan suara-suara yang ada atau yang bisa menjadi pemicu.
  2. Counterconditioning: terapi ini memberikan pemicu suara yang lebih lemah dengan tujuan mendorong penderitanya ada rasa positif, bahagia, dicintai, tenang, dan tersentuh.

Cognitive Behavioral Therapy: terapi ini membantu seseorang untuk mengubah cara berpikir terhadap suara-suara yang bisa memicu respon tertentu. Dalam sebuah penelitian, sekitar 50% orang telah mengalami penurunan gejala misophonia dengan menggunakan terapi ini.

Ada gak sih, tips sederhana untuk orang yang mengalami Misophonia?

Beberapa cara yang bisa dilakukan bagi orang yang mengalami misophonia atau yang terganggu dengan suara-suara bising diantaranya adalah:

  1. Mengenakan earphone ketika ada suara yang memicu
  2. Mempraktikkan manajemen stres, relaksasi pernafasan atau visualisasi
  3. Menyesuaikan volume TV ataupun musik agar tidak terlalu kencang

Itulah informasi seputar Misophonia! Bagi kamu yang mungkin terganggu dengan suara-suara di sekitarmu, kamu tentunya punya hak untuk tenang dengan melakukan cara yang membuatmu nyaman. Semoga, suara-suara di sekitarmu dapat berubah menjadi lebih tenang dan indah, ya!


Penulis: Shania Amalia Hafta
Editor: Lala
Desain:
SEO: Novia Razmuliani


Referensi

  1. Brout, J, J., etc. (2018). Investigating Misophonia: A Review of the Empirical Literature, Clinical Implications, and a Research Agenda. Frontiers in Neuroscience. Vol. 23 (36). pp. 1-13. DOI: 10.3389/fnins.2018.00036.
  2. Cassoobhoy, A. (2020, 13th December). What Is Misophonia?. webmd.com. Retrieved from: https://www.webmd.com/mental-health/what-is-misophonia .
  3. Evans, J., R. (2021, 1st November). Everyday Sounds Cause Distress. healthline.com. Retrieved from: https://www.healthline.com/health/misophonia .
  4. Hayes, K. (2022, 18th February). What Is Misophonia?. verywellmind.com. Retrieved from: https://www.verywellmind.com/misophonia-hatred-of-sound-1191958 .
  5. Iakovides, S., etc. (2004). Psychophysiology and psychoacoustics of music: Perception of complex sound in normal subjects and psychiatric patients. Annals of General Hospital Psychiatry. Vol. 3 (1), pp. 1-4. DOI: 10.1186/1475-2832-3-6.
  6. Nanda, M. (2021, 5th March). Misophonia, Alasan Mengapa Anda Benci Suara Tertentu. hellosehat.com. Retrieved from: https://hellosehat.com/mental/gangguan-kecemasan/misophonia-alasan-mengapa-anda-benci-suara-tertentu/ .
  7. Nurin, F. (2021, 12th October). Mengenal Urutan Proses Mendengar Pada Manusia. hellosehat.com. Retrieved from: https://hellosehat.com/tht/proses-mendengar/