I Am Okay Indonesia

Kesedihan dibalik Sikap People Pleaser

Pernahkah kalian mengalami People Pleasing? Kalau pernah, berarti kita memiliki tingkat mengasihi yang tinggi kepada orang lain, teman-teman. Untuk yang belum tahu apa itu people pleasing, ini merupakan sebuah keinginan untuk menyenangkan orang di sekitar kita tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Nah ini bahayanya, karena kita bereksistensi demi orang di sekitar kita disenangkan, bukan kita bereksistensi supaya kita dapat menjadi diri kita sendiri dan bermanfaat bagi orang lain. Aku punya pengalaman yang nightmare terkait people pleasing.

Jadi, ketika aku mau melanjutkan masa kepengurusanku di sebuah kepengurusan UKM, aku sulit memutuskan untuk berkata “ya” atau “tidak” kepada dua pihak, yaitu pengurus senior UKM dan orang tua. Orang tua aku sangat khawatir pada Kesehatan dan nilaiku jika aku bergabung kepengurusan. Sedangkan, pengurus senior di UKM sudah memberikan nilai atau respon yang sangat positif sampai mendorong aku untuk melanjutkan kepengurusan ke tingkat “top management”. Memberikan jawaban kepada salah satu pihak pasti menyakiti hati salah satu pihak. Kalau aku jawab “tidak” kepada pengurus UKM, maka aku menyenangkan hati orang tua. Kalau aku jawab “ya” kepada pengurus UKM, maka aku menyakiti hati orang tua. Bagaikan buah Simalakama bukan?

Muncul berbagai overthinking dan aku sampai kepada tahap depresi, di mana sebelum tidur aku hampir menangis selama 5 hari berturut-turut dan ngobrol banyak dengan orang tua dan pengurus senior UKM terkait ini. Titik permasalahannya adalah aku tidak mau mengecewakan dua-duanya, tetapi kalau aku terlalu lama terjebak dalam sindrom “people pleaser” ini, maka aku akan merusak diriku perlahan-lahan tetapi pasti.

Maka, apa yang aku lakukan? Aku membuat sebuah pertimbangan berdasarkan acuan dari pihak siapa yang lebih berhak mendapatkan keputusanku dan pihak mana yang akan memberikan dampak paling tidak mengenakan dari keputusanku. Alhasil, aku memilih berkata “ya” kepada orang tuaku alias aku tidak melanjutkan kepengurusan. Apakah karena aku menjadi “anak mama” ketika mengambil keputusan ini? Tidak, mereka memang benar. Aku tidak sadar bahwa diriku mudah capai dan lelah, sehingga mudah sakit. Kalau aku sakit, maka kuliah menjadi tidak maksimal dan nilai pun turun. Akhirnya, aku gagal menyenangkan dan membanggakan orang tua.

Dan bagaimana reaksi pengurus UKM itu? Aku berpikiran mereka akan marah besar dengan cara diam dan tidak mau berbicara lagi dengan aku. Ini menjadi ketakutan terbesarku pada saat itu, dimusuhi oleh orang-orang karena keputusanku. Tetapi apa yang terjadi? Mereka malah mendukung keputusanku! Aku  speechless dan kaget sekali mengetahui reaksi mereka. Dan sampai aku menulis cerita ini pun, aku masih berhubungan baik dengan mereka!

Pesan aku untuk kalian, tolong jangan terjebak pada sindrom ini. Karena, seperti yang aku bilang, ini akan merusak kesehatan mental kalian secara perlahan tetapi pasti. Dan jika kalian masih terjebak pada sindrom ini, maka kalian boleh konsultasi pada teman dekat atau psikolog yang mampu memahami jalan keluar terbaik untukmu. Jangan diam dan pendam kesulitan ini karena aku sudah mengalaminya dan hampir seperti orang gila, di mana mood aku selama hampir satu minggu itu adalah sedih dan sedih. Menyenangkan orang lain itu baik, tetapi jangan lupa memperhatikan diri kalian ya! Karena kalian dicipta untuk menjadi berkat buat banyak orang, bukan untuk orang tertentu saja!

Penulis: Gregorian Jerahmeel
Editor: Nurul Malahayati
Desain: Keke

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.