I Am Okay Indonesia

Konformitas: Alasan di Balik Trend Ikut-ikutan

Konformitas: Alasan di Balik Trend Ikut-ikutan

Konformitas: Alasan di Balik Trend Ikut-ikutan – Semasa sekolah, pasti kebanyakan dari kita punya kelompok pertemanan masing-masing. Nah, terkadang perbedaan-perbedaan bisa saja muncul antara satu dengan yang lain, baik itu pendapat, selera berpakaian, ataupun hobi.

Tidak jarang ketika perbedaan itu muncul, usaha untuk berbaur dengan teman lainnya juga mulai meningkat di dalam diri kita. Coba kita ambil salah satu contoh deh, fellas.

Pada malam tahun baru, kamu dan teman-teman ingin makan malam bersama untuk merayakan pergantian tahun. Tiap-tiap orang memberikan ide untuk dress code acara.

Ternyata, semua orang mengusulkan warna yang sama yaitu hitam, kecuali kamu.

Di saat seperti ini, kamu akan secara otomatis ikut dengan pendapat teman lainnya walaupun hitam bukanlah warna favoritmu. Salah satu alasan utama kamu melakukan hal tersebut yaitu agar dapat semakin kompak dengan teman-temanmu.

Fakta menariknya adalah bahwa perilaku ikut-ikutan ini berlandaskan teori lho, fellas! Ilmu psikologi berperan sebagai fondasi di mana teori tersebut dikenal sebagai konformitas.

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, simak artikelnya sampai habis!

Definisi Konformitas

Konformitas adalah kecenderungan seorang individu untuk mengubah dan menyesuaikan sikap, kepercayaan, serta perilakunya dengan orang-orang sekitar dengan tujuan agar dapat diterima dan bergabung dengan kelompok tertentu.

Konformitas ini sendiri dapat terbentuk karena adanya tekanan sosial yang nyata atau pengaruh eksternal yang tidak disadari. Maka dari itu, tak jarang seseorang akan setuju dan bertindak layaknya mayoritas orang dalam suatu kelompok. 

Alasan Kita Melakukan Konformitas

Setelah mengetahui definisi dari konformitas, mungkin sekarang fellas bertanya-tanya, “kenapa ya, aku ikut-ikutan orang?”. Tenang aja, nih. Para peneliti juga sudah mengeksplorasi alasan di balik konformitas alias perilaku ikut-ikutan. Berikut ini empat alasan utama seseorang melakukan konformitas, yaitu: 

  1. Informational Influence

Dalam konteks ini, konformitas akan dilakukan ketika kita merasa bingung dan tidak yakin akan respon yang harus diberikan. Contohnya, saat guru mengajukan pertanyaan yang kurang dimengerti, kita cenderung akan mengikuti jawaban teman yang pintar di kelas. Maka dari itu, konformitas di sini terjadi untuk menjadi atau melakukan hal yang dinilai tepat. 

  1. Normative Influence

Alasan seseorang melakukan konformitas juga didasari oleh pengaruh norma sosial. Hal ini biasanya dilakukan sebab seseorang ingin menghindari hukuman dan mendapatkan imbalan (reward). Dengan begitu, ia akan mengubah perilakunya menurut norma yang ada agar tujuan tersebut dapat tercapai.

  1. Social Proof

Ketika mayoritas orang melakukan tindakan tertentu seperti mengantri di depan kasir, maka umum bagi seseorang untuk berasumsi bahwa tindakan tersebut benar untuk dilakukan. Hal inilah yang menyebabkan munculnya konformitas walaupun seseorang belum tahu pasti alasannya bertindak seperti orang-orang lainnya.

  1. Social Harmony

Tanpa sadar, konformitas juga sering dilakukan untuk menjaga keharmonisan interaksi sosial. Seperti contoh di awal artikel, ketika kita memiliki pendapat yang berbeda dengan teman lainnya, maka konformitas akan muncul dengan tujuan mengurangi kemungkinan ketidaksepakatan dan meningkatkan kekompakan.

Jenis-jenis Konformitas

Pada dasarnya, konformitas dibagi menjadi dua, yaitu: 

  1. Compliance (Public Agreement)

Jenis konformitas ini mengartikan bahwa perubahan perilaku datang untuk menyesuaikan dengan tindakan lain yang memang kita dukung. Contohnya, ketika ketua kelas mengadakan petisi anti contek, kita yang juga mendukung hal tersebut akan ikut menandatangani petisi tersebut selagi juga distimulasi oleh keadaan sekitar. 

  1. Acceptance (Private Agreement)

Berbeda dengan compliance, jenis konformitas yang satu ini lebih merujuk pada kepercayaan pribadi yang diiringi dengan rasa hormat (respect). Contohnya yaitu saat terjadi demo mahasiswa.

Saat mayoritas teman kita ikut bergabung, akan muncul proses timbang-menimbang. Kepercayaan kita yang menolak demo akan menghalangi konformitas untuk muncul. Namun, rasa hormat dan penerimaan akan keputusan teman lainnya akan tetap ada. 

Dampak Konformitas 

Selayaknya teori-teori lain, konformitas juga memiliki sisi positif dan negatif. Jika dilihat dari sisi positifnya, konformitas memegang dampak sangat besar bagi keharmonisan sosial. Kok bisa begitu? Coba bayangkan deh, fellas.

Misalkan perilaku membuang sampah pada tempatnya diikuti oleh banyak orang, pastinya negara dan dunia kita bisa menjadi lebih bersih dan sehat. Namun, di sisi negatif, konformitas dapat mengurangi tingkat self-esteem seseorang karena selalu muncul rasa untuk sama dengan orang lain yang juga berarti kurangnya keterbukaan dari diri sendiri. 

Fellas, berikut sedikit pembahasan mengenai konformitas. Sekarang, kita jadi lebih paham alasan dan teori dari munculnya trend ikut-ikutan yang sering dilakukan. Namun, kita juga harus pandai memilah-milah hal yang ingin diikuti.

Jangan sampai salah; pilihlah yang memberikan dampak positif ya, fellas!


Penulis: Agnes
Editor: Zandha
Desain: Hemal
SEO Editor: Hafizh


Referensi