Perhatikan Hal Ini Jika Kamu Ingin Membangun Personal Boundaries dalam Keluarga!

Privasi atau boundaries termasuk teritori penting dalam keluarga karena dapat memberikan batasan atau manfaat bagi kehidupan individu

Mungkin memang banyak dari kita yang berpikir bahwa setiap anggota keluarga harus selalu terbuka satu sama lain dan mengkomunikasikan segala hal. Mulai dari kegiatan yang akan dilakukan, pikiran yang sedang membebani, hingga orang-orang selain keluarga kita yang sedang dekat dengan kita. Tapi, sering kali juga kita ingin memiliki privasi sendiri dimana tidak segala sesuatunya diketahui oleh anggota keluarga.

Rasanya ingin sekali memiliki privasi sendiri dan bisa memberikan batasan tertentu kepada orang-orang di rumah. Rasanya ingin juga memberikan pemahaman bahwa semakin dewasa kamu semakin ingin memiliki kehidupanmu sendiri. Ditambah lagi situasi saat ini yang mewajibkan kita semua untuk tetap berada di rumah dimana biasanya kita bisa menghabiskan waktu di luar bersama teman-teman. Tapi, kenyataan sering kali tidak semudah keinginan ya. Bahkan, mungkin muncul juga keraguan apakah tidak apa-apa jika memiliki keinginan seperti itu.

Privasi atau boundaries termasuk teritori penting dalam keluarga karena dapat memberikan batasan atau manfaat bagi kehidupan individu
Nah, kira-kira, wajar atau tidak ya?

Mengenal Healthy Boundaries dalam Keluarga

Privasi atau batasan tertentu dalam keluarga disebut juga sebagai boundaries atau personal space. Boundaries ini sebenarnya termasuk teritori penting dalam keluarga yang berarti memang seharusnya ada di dalam keluarga. Tapi, boundaries yang dibentuk ini harus termasuk healthy boundaries ya teman-teman alias batasan-batasan yang memang bermanfaat untuk menjaga otonomi kita sebagai individu. 

Contoh Healthy Boundaries

Terdapat beberapa contoh healthy boundaries dalam keluarga yang kemungkinan paling sering ditemui yaitu sebagai berikut:

  1. Anak tidak boleh masuk ke kamar atau ruang kerja orang tua di jam-jam tertentu saat orang tua sedang melakukan pekerjaan penting, begitu juga sebaliknya. 
  2. Orang tua maupun anak tidak boleh terlalu sering mengecek ponsel satu sama lain tanpa izin atau kebutuhan tertentu.
  3. Anggota keluarga saling menginformasikan kegiatan di luar rumah seperti kapan, dimana, dan dengan siapa.
  4. Kesepakatan pekerjaan rumah apa saja yang harus dilakukan oleh para anggota keluarga. 
  5. Meminta izin atau menginformasikan kepada anggota keluarga jika ingin mengundang tamu tertentu ke rumah. 

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Membangun Healthy Boundaries dalam Keluarga

Setelah mengenal lebih dalam mengenai healthy boundaries, lalu bagaimana ya caranya untuk dapat membangun healthy boundaries yang bisa diterima oleh semua anggota keluarga? 

Nah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ya teman-teman. 

  1. Jelas dan konsisten

Jika kamu ingin membangun healthy boundaries tertentu, informasikan kemauanmu dengan jelas ya. Kamu juga harus menetapkan batasan tersebut dengan konsisten agar orang lain juga tidak keberatan untuk memenuhi keinginanmu dalam membangun healthy boundaries tersebut. 

  1. Tujuannya dapat dipertanggungjawabkan

Healthy boundaries berfungsi untuk mempertahankan otonomi setiap anggota keluarga sebagai individu yang memang berbeda. Tapi, pastikan bahwa tujuanmu dalam menentukan boundaries tertentu jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, kamu tidak ingin ada orang lain yang masuk ke kamarmu di jam-jam tertentu tanpa izin. Kamu harus menjelaskan tujuan dari keinginanmu tersebut, seperti tidak ingin kegiatanmu yang sedang belajar atau bekerja terganggu. Jangan sampai healthy boundaries yang kamu tentukan justru digunakan untuk menyembunyikan sesuatu atau menjauhkan hubunganmu dengan anggota keluarga yang lain. 

  1. Komunikasi secara asertif

Hal penting selanjutnya adalah bagaimana caramu mengomunikasikan healthy boundaries yang kamu inginkan. Mengungkapkan perasaan atau keinginan memang sulit tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan ya. Jangan memaksakan kehendak dan tetap berusahalah untuk mendengarkan pendapat anggota keluarga yang lain ya. Jangan ragu untuk berbagi sudut pandang agar keputusan terbaik dapat disepakati oleh semua anggota keluarga. 

  1. Berusaha pahami dan hormati batasan orang lain

Jika kamu ingin membangun healthy boundaries dalam keluarga, maka kamu juga harus menyadari bahwa anggota keluarga yang lain juga mungkin ingin memiliki batasan mereka sendiri. Berusahalah untuk memahami keinginan mereka dan hormati batasan-batasan tersebut. 
Selain itu, kamu bisa coba mengikuti worksheet ini ya. Jadi, tidak ada salahnya jika kamu ingin memiliki batasan-batasan tertentu dalam keluarga. Tapi, tetap prioritaskan keluarga dan jangan sampai batasan yang kamu buat justru menjauhkan hubunganmu dengan anggota keluarga yang lain ya..

Desain oleh: Dono
Penulis: Syafira Dumbi
Editor: Muthia Nida

Referensi:

  1. Jesuit Social Services. (2021). Retrieved from http://www.strongbonds.jss.org.au/handling/boundaries.html 
  2. Peaceful Parent Institute (2020). The importance of healthy boundaries in the family. Retrieved from https://www.peacefulparent.com/can -you-maintain-and-model-healthy-boundaries/ 
  3. Zoffness, R. (2019). How to set boundaries with family. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/pain-explained /201912/how-set-boundaries-family

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.