I Am Okay Indonesia

Mengenal Emotional Defense Mechanism: Alat Utama Manusia Untuk Mempertahankan Skema Diri

Emotional defense mechanism adalah strategi psikologis yang digunakan untuk melindungi diri dari ancaman berupa perasaan dan pikiran tidak menyenangkan

“Gak, kok. Aku nggak begitu.”

Mungkin secara tidak sadar, kita sering kali mengutarakan kalimat tersebut ketika mendengar pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan pendapat kita. Terlebih ketika mereka sedang membicarakan tentang diri kita. Secara otomatis, kita menyangkal pendapat-pendapat yang bertolak belakang dengan apa yang kita ketahui dan rasakan. 

“Sok tau banget, sih. Emang kamu tau gimana rasanya jadi aku?”

Orang terbaik yang tau dan mengerti tentang kita dari luar-dalam, ya adalah diri kita sendiri. Jadi, wajar saja apabila kita merasa defensif—merasa harus membela diri—ketika pendapat orang lain tentang diri kita tidak sejalan dengan skema diri kita.

Wait! Skema diri? 

Jadi, skema diri atau self-scheme adalah kesan yang kita miliki tentang diri kita dan bagaimana kesan-kesan tersebut mempengaruhi cara kita berpikir, berpendapat, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kalian memiliki kesan bahwa kalian adalah orang yang pemalu. Lalu, kesan tersebut dapat terefleksi dalam cara kalian berinteraksi dengan orang lain. Kalian cenderung pasif dalam pembicaraan atau mungkin kalian jadi takut untuk melakukan public speaking.

Nah, untuk melindungi dan mempertahankan kesan-kesan kalian tentang diri kalian tersebut, alam bawah sadar kalian dilengkapi dengan emotional defense mechanism

Apa sih emotional defense mechanism itu?

Emotional defense mechanism sendiri adalah strategi psikologis dari alam bawah sadar yang digunakan untuk melindungi diri dari ancaman berupa perasaan dan pikiran tidak menyenangkan yang dapat membahayakan konstruk skema diri kita.

Perasaan-perasaan yang mengancam tersebut dapat berupa rasa iri, bersalah, malu, tersinggung, kecewa, dan lainnya. Sedangkan pikiran-pikiran yang mengancam dapat berupa pikiran bahwa kita tidak berharga, pikiran bahwa kita diabaikan, dan pikiran-pikiran tidak menyenangkan lainnya.

Lalu mengapa emotional defense mechanism itu penting?

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali hal-hal yang dapat menjadi pemicu stress bagi kita. Ditambah sibuknya aktivitas, tidak jarang beban pikiran membuat kita merasa kewalahan.

Apabila hal ini terjadi tanpa segera ditangani, dampaknya pada kinerja dan motivasi kita sangat besar, loh, fellas!

Nah, untuk itu, kita menggunakan emotional defense mechanism untuk melindungi diri dari perasaan dan pikiran tidak menyenangkan yang muncul ketika kita merasa terancam, sebelum ancaman tersebut menjadi lebih besar dan menuntut. Mekanisme ini memungkinkan kita untuk memanipulasi, menyangkal, atau mendistorsi realitas yang tidak menyenangkan menjadi lebih mudah untuk dapat diterima oleh kita sehingga secara tidak langsung juga dapat mengurangi stress dan beban pikiran yang kita rasakan.

Jenis-jenis emotional defenses yang paling sering terjadi

  1. Denial

Denial atau penyangkalan adalah mekanisme dimana seseorang tidak mengakui realitas yang terjadi. Mekanisme ini membuat seseorang mengabaikan situasi yang membutuhkan perhatian mereka.

  1. Distortion

Distorsi atau pikiran yang menyimpang, merupakan mekanisme dimana seseorang menganggap suatu hal adalah benar, padahal kenyataannya tidak. Dalam beberapa kasus, distorsi juga dapat  mengindikasikan gangguan psikologis seperti: depresi, anxiety, anorexia, bulimia, dan juga body dysmorphic disorder.

  1. Dissociation

Disosiasi adalah suatu mekanisme dimana kita merasa seperti tidak mengalami kejadian traumatis yang telah kita alami. Disosiasi ini terjadi untuk melindungi alam sadar kita tentang peristiwa yang dapat menjadi sumber stress dengan cara memblokir trauma atau kejadian yang traumatis sehingga seringkali membuat seseorang tidak dapat mengingat peristiwa traumatis yang ia alami.

  1. Projection

Proyeksi adalah mekanisme pertahanan dimana seseorang menuduh orang lain memiliki pikiran, perasaan, atau bahkan perilaku yang sebenarnya diri mereka sendiri juga rasakan atau lakukan.

  1. Intellectualization/Rationalization

Mekanisme ini melibatkan akal dan logika untuk menjelaskan peristiwa negatif yang memicu perasaan tidak menyenangkan. Namun, dalam konteks tertentu, intelektualisasi juga dapat menyebabkan seseorang meremehkan perasaan mereka sendiri, sehingga cenderung mengabaikan apa yang mereka rasakan.

  1. Displacement

Displacement merupakan mekanisme pertahanan dimana kita melakukan pengalihan emosi secara destruktif (biasanya berupa agresi) ke objek atau subjek pengganti.

  1. Repression

Represi adalah mekanisme dimana kita menghalangi perasaan, emosi, dan impuls yang tidak menyenangkan atau menyakitkan. Represi biasanya terjadi tanpa kita sadari.

  1. Suppression/Distraction

Supresi atau distraksi adalah mekanisme yang memungkinkan kita untuk mengelompokkan perasaan-perasaan kita, sehingga kita bisa memutuskan mana perasaan yang bisa diproses atau ditindaklanjuti dan mana yang harus diabaikan. Hal ini memungkinkan kita untuk secara efektif mengatasi realitas yang tidak menyenangkan secara sadar.

  1. Sublimation

Sublimasi ini hampir mirip dengan displacement. Bedanya adalah, sublimasi cenderung mengarahkan emosi kita kepada aktivitas yang konstruktif dan dapat diterima secara sosial.

Lalu jenis emotional defense mana yang paling efektif?

Secara teori, supresi dan sublimasi merupakan mekanisme yang paling baik dan efektif. 

Mengapa? Karena kedua jenis mekanisme tersebut menuntut seseorang untuk aware terhadap apa yang ia rasakan tanpa menyangkal emosinya, sehingga ia bisa menentukan jalan keluar secara sadar untuk mengatasi stress dan dampak negatif dari kejadian tidak menyenangkan yang ia alami.

Untuk lebih lengkapnya, fellas juga bisa membaca jurnal ini untuk mengetahui lebih jauh tentang kategorisasi dan jenis-jenis emotional defense lainnya, ya!

Penulis: Litara Fathin
Editor: Noor Faa’izah
Desain: Keke

Referensi

  1. Legg, T. J. (2020, July 30). Defense mechanisms in psychology: What are they?. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/defense-mechanisms 
  2. McLeod, S. (2020). Defense mechanisms. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/defense-mechanisms.html
  3. Vaillant, G. E. (1994). Ego mechanisms of defense and personality psychopathology. Journal of Abnormal Psychology, 103(1), 44-50. DOI: 10.1037//0021-843x.103.1.44
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.