I Am Okay Indonesia

Menjadi Bahagia Dengan Apa Yang Dimiliki

Ada yang pernah nonton The Pursuit of Happynes? Film yang dirilis tahun 2006 ini dibintangi oleh aktor Will Smith bersama putranya sendiri, Jaden Smith. Film ini berkisah tentang seorang Ayah bernama Chris Gardner yang sedang berada di titik terendahnya. Selain masalah finansial, ia juga terancam kehilangan keluarganya. Ia harus membesarkan anaknya dalam keadaan tidak punya uang, tidak punya rumah dan tidak punya pekerjaan. Ia harus memutar otak agar mendapatkan pekerjaan dan menghidupi keluarganya.

Dari menjadi sales alat kedokteran hingga bekerja di perusahaan pialang ia coba. Dari sederet kisah yang dilewati, Chris hanya memiliki satu tujuan, yaitu memberikan kebahagiaan kepada anaknya. 

***

Jadi apa bahagia itu? 

Bahagia atau kebahagiaan sering digambarkan sebagai munculnya perasaan atau emosi positif dan kepuasaan akan sesuatu. Namun kebahagiaan cenderung memiliki makna yang sangat luas dan beragam, sehingga para psikolog atau ilmuwan biasanya menggunakan makna “subjective well-being”. Artinya, kebahagiaan berfokus pada perasaan emosi personal terhadap hidup yang sedang dijalani.  

Ketika orang-orang sedang merasakan atau membicarakan kebahagiaan, bisa jadi mereka sedang membicarakan perasaan mereka di moment tersebut, atau mereka merujuk pada hal yang lebih luas terhadap kehidupan secara keseluruhan.

Setidaknya ada dua komponen kebahagiaan yang harus dipertimbangkan;

  1. Kesimbangan emosi

Ibarat yin and yang, setiap orang memiliki dua sisi yang berbeda, emosi atau perasaan positif dan negatif. Namun kebahagiaan cenderung berkaitan dengan hal positif dibanding negatif.

  1. Kepuasaan hidup

Hal ini berkaitan dengan seberapa puas kamu terhadap segala hal yang kamu miliki atu lalui. Baik itu dari segi hubungan, pekerjaan, penghargaan hingga hal-hal kecil yang menurut kamu sangat penting.

Jenis-jenis kebahagiaan

Ketika membicarakan kebahagiaan, ada banyak jenis dan cara yang berbeda. Salah satu yang paling terkenal berasal dari filosofer terkenal, Aristoteles. Ia membagi kebahagiaan ke dalam dua jenis.

  1. Hedonia

Kebahagiaan hedonia berasal dari pleasure atau kepuasan. Hal ini sering diasosiasikan dengan melakukan hal-hal yang kamu senangi, self-care, memenuhi hasrat, mengalami kegembiraan, dan merasakan kepuasaan terhadap sesuatu. 

  1. Eudominia

Jenis kebahagiaan ini berasal dari pencarian sebuah makna dan tujuan hidup. Hal penting dari eudominia adalah merasa bahwa kehidupan kamu penuh dengan makna, nilai-nilai dan tujuan hidup. Hal ini seringnya diasosiasikan dengan cara memenuhi tanggungjawab, memiliki goal jangka panjang yang ingin dicapai, fokus pada kesejahteraan diri sendiri dan orang lain, hingga hidup dengan cita-cita.

Meski kata peneliti, kebanyakan orang cenderung menilai eudominia lebih tinggi dibanding hedonia, namun ternyata kedua jenis kebahagiaan ini memegang peranan yang sangat penting dalam hal kebahagiaan.

Apakah Kamu Sudah Bahagia?

Perasaan bahagia mungkin saja berbeda tiap individu, namun psikolog mengatakan jika ada beberapa tanda yang bisa kamu lihat untuk mengukur apakah kamu sudah bahagia atau belum. Diantaranya:

  1. Kamu merasa hidup dengan kehidupan yang kamu inginkan
  2. Merasa bahwa kondisi hidup yang kami alami baik
  3. Meras jika kamu telah mencapai atau akan mencapai apa yang kamu inginkan
  4. Merasa puas dengan kehidupanmu
  5. Selalu merasa dan berpikir positif

Tips Menjadi Bahagia Dengan Apa Yang Dimiliki

Lalu bagaimana agar kita bisa merasakan bahagian? Hal ini bisa jadi menjadi pertanyaan yang selalu ada. Untuk merasakan kebahagiaan, kamu harus mengeksplorasi apa yang sedang kamu miliki di hidup kamu saat ini, ukur level kebahagiaan kamu sendiri, kemudian temukan kebahagiaan kamu sendiri. Beberapa hal yang harus kamu perhatikan, antara lain:

  1. Identifikasi apa yang membuat kamu bahagia

Caption: Tanyakan pada dirimu apa yang paling kamu senangi dan membuatmu bahagia

Hal pertama yang harus kamu perhatikan adalah, temukan apa yang membuat kamu sangat senang dan bergairah. Artinya, kamu sendiri harus menilai apa yang membuat kamu senang. Bukan lingkungan yang memberitahu kamu tentang kebahagiaan kamu.

Orang-orang mungkin saja akan memberikan standar kebahagiaan kamu dengan tubuh yang indah, mobil yang bagus dan lain sebagainya. Namun, yang tahu ukuran kebahagiaan kamu adalah kamu sendiri.

  1. Faktor Yang Meningkatkan Kebahagiaan Kamu

Meski tingkat kebahagiaan akan berbeda tiap individu, namun ada beberapa faktor yang bisa berkontribusi dalam meningkatkan kebahagiaan kamu. Hal ini disampaikan oleh seorang psikolog berpengalaman yang fokus pada psikologi positif. Diantaranya materi, pertemanan atau persahabatan, kesehatan, kondisi hidup, spiritual, kehidupan sosial, hingga keinginan untuk memiliki makna dan tujuan hidup. 

  1. Bagaimana Sikapmu Mempengaruhi Kebahagiaanmu

Sudah menjadi rahasia umum jika seorang yang optimis dan positif cenderung lebih bahagia. Namun harus disadari, jika menjadi optimis tidak hanya terbatas pada terlihat bahagia atau terlihat senang saja, bahkan ketika berada di fase gagal. 

Lebih jauh, seorang yang optimis lebih kepada memiliki kontrol diri terhadap sesuatu yang terjadi  di luar kendali, harapan dan rencana. Jadi, sikapmu terhadap hidup dan sesuatu yang sedang terjadi setiap harinya sangat berdampak pada munculnya rasa bahagia dan puas.

  1. Menemukan Keseimbangan

Banyak orang menganggap jika menjadi bahagia adalah hasil akhir yang harus dicapai. Sehingga banyak yang berlomba-lomba untuk memenuhi faktor kebahagiaan dari satu sisi saja. Padahal, menjadi bahagia, sejatinya adalah menemukan kesimbangan hidup. Baik dari sisi spiritual, kesehatan, materi dan lain sebagainya yang menjadi faktor bahagia kamu.

  1. Ciptakan Kebiasaan Untuk Bahagia Setiap Harinya

Sangat penting memang untuk mengejar kebahagiaan jangka panjang. Namun hal besar tidak akan muncul jika bukan dari hal-hal kecil. Maka mulailah dari hal-hal sederhana terlebih dahulu, yang nantinya akan menjadi kebiasaan kamu. Misalnya berjalan santai di pagi hari, membuat ‘gratitude journal’ setiap malam sebelum tidur, mengejar rasa penasaran dan lain sebagainya.

Menjadi bahagia memang menjadi impian semua orang. Namun satu hal yang perlu diingat, jika kebahagiaan tidak selalu berjalan konstan. Seseorang yang bahagia juga merasakan semua emosi, seperti marah, sedih, bosan, hingga merasa sendiri. Namun meski merasakan hal demikian, seseorang yang bahagia tidak berlarut dalam emosi negatif tersebut. Namun tetap optimis dan bisa berdamai dengan apa yang sedang dialami.

Penulis: Abd. Hamid
Editor: Muthia Nida
Desain: Dono

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.