I Am Okay Indonesia

Negative Self-Talk: Jangan Menjatuhkan Dirimu Sendiri!

Kalian familiar gak, dengan suara kecil di pikiran yang selalu seakan mengomentari banyak hal yang kalian lalui? Suara kecil tersebut rasanya tidak pernah berhenti dan selalu menemani dalam keseharian kita.

Kalian tau gak sih, suara ini sebenarnya dihasilkan oleh mekanisme kompleks otak manusia sehingga membuat kita seolah ‘mendengar’ diri sendiri berbicara dalam pikiran tanpa benar-benar menghasilkan suara. Suara ini sendiri bernama self-talk.

Apa itu self-talk?

Self-talk biasa juga dikenal dengan sebutan monolog internal atau inner voice, yaitu suara internal yang hanya dapat didengar oleh kita sendiri dan dilakukan secara sadar maupun tidak. Uniknya, kita selalu melakukan hal ini setiap, bahkan ketika kita menahan diri untuk tidak melakukannya, loh! Self-talk ini diproses oleh alam bawah sadar dan dipengaruhi oleh pikiran, kepercayaan, perasaan, pertanyaan, dan ide-ide yang kita miliki.

Kedengarannya keren banget kan, fellas? Self-talk ini juga terdiri dari beberapa macam jenis, loh. Yuk, simak selengkapnya dibawah ini!

Jenis-jenis self-talk yang harus kamu ketahui

Tidak hanya sekedar berbicara pada diri sendiri, self-talk ini dikategorisasikan menjadi tiga jenis, yaitu positif, negatif dan instruksional. 

  1. Self-talk positif: jenis self-talk yang satu ini bersifat optimistik sehingga membuat kita merasa cukup dan baik terhadap diri sendiri dan kejadian-kejadian yang sedang kita alami dengan berfokus pada hikmah atau pengalaman yang dapat diambil serta dipelajari dari kejadian tersebut.
  2. Self-talk instruksional: seperti namanya, self-talk ini bersifat instruksional atau mengarahkan perilaku kita. Dalam kata lain, instuctional self-talk ini berfokus pada aspek teknis dalam kinerja kita, misalnya lebih memfokuskan langkah-langkah penyelesaian dibandingkan mengutamakan pengelolaan emosi dalam menghadapi masalah.
  3. Self-talk negatif: jenis self-talk yang satu ini sering diasosiasikan dengan pandangan buruk terhadap diri sendiri serta menghasilkan rasa kecemasan, keraguan, ketakutan, serta rasa tidak percaya pada diri sendiri sehingga dapat menjadikan sesuatu yang baik sekalipun jadi terasa buruk.

Dari ketiga jenis self-talk tersebut, negative self-talk menjadi jenis inner voice yang paling tidak baik dan harus dihindari karena self-talk umumnya tidak merefleksikan kenyataan dan hanya menjadi motivasi atau dukungan dari diri sendiri. Jadi, ketika seseorang meyakinkan atau mempercayai hal-hal buruk tentang dirinya, hal tersebut akan melumpuhkan kondisi mental mereka sehingga hanya akan membawa kesengsaraan lebih bagi orang yang melakukannya.

Ketika negative self-talk membuatmu menjadi haters terbesar dirimu sendiri

Terlepas dari sederhananya konsep ‘self-talk’, ternyata dampak dari self-talk ini cukup besar. Hal ini dikarenakan self-talk mempengaruhi apa yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri. Hal ini termasuk memengaruhi cara pandang serta cara kita memaknai diri dan hal-hal yang terjadi pada kita sehingga negative self-talk dapat dengan mudahnya merusak skema diri dan ketenangan serta kesejahteraan mental kita, loh.

Suara kecil dalam pikiran kita yang satu ini dapat bermula dari kritikan-kritikan kecil yang ditujukan untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik. Namun, apabila hal ini terjadi secara konstan dan tanpa terkendali, negative self-talk dapat berkembang menjadi musuh jahat yang dapat membuat kita membenci diri sendiri dengan menurunkan self-esteem, kepercayaan diri, dan bahkan merusak hubungan interpersonal kita. Pada dasarnya, negative self-talk dapat merubah sikap dan perilaku kita secara negatif tentunya.

Beberapa orang menjustifikasi negative self-talk sebagai alternatif valid untuk membangun atau menjadikan diri seseorang lebih baik. Beberapa orang menganggap bahwa negative self-talk dapat membuat mereka ‘merendah’ dan ‘membumi’ atau dalam kata lain, mereka mengekang ego dengan cara terus menerus mengkritik diri sendiri serta mengingatkan diri bahwa mereka masih memiliki banyak kekurangan. Alasan lain yang memvalidasi penggunaan negative self-talk adalah adalah untuk ‘mempersiapkan’ diri untuk merasa kecewa baik pada diri sendiri atau orang lain. Perilaku ini secara tidak langsung mencerminkan sikap pesimis atau memperkirakan yang terburuk dari setiap situasi.

Negative self-talk dapat terjadi karena disebabkan oleh berbagai macam hal yang beberapa diantaranya adalah karena emotional burnout, bullying, trauma, serta yang paling umum adalah tingginya ekspektasi, dan mengkomparasikan diri dengan orang lain. Negative self-talk dapat terjadi melalui kalimat-kalimat sederhana seperti;

“Ih, aku kenapa, sih. Gini aja gak bisa.”

“Payah banget ya, aku ini. Masa gitu doang takut padahal mereka bisa.”

“Susah banget, deh. Mana bisa aku melakukan hal tersebut.”

“Terjadi lagi, terjadi lagi. Bodoh banget sih, aku”

“Ini semua karena mungkin aku kurang layak. Jadi wajar aku gagal.”

“Aku mana bisa melakukannya. Ekspektasi mereka ketinggian, sih.”

“Outfitnya lucu, deh. Coba kalau badan aku bagus.”

“Aku terlalu percaya diri, padahal aku tau aku tidak bisa.”

Fellas, apabila salah satu dari kalimat tersebut pernah terlintas dibenak kalian, itu tandanya kalian sedang melakukan negative self-talk. Apabila hal ini terjadi secara berkepanjangan tanpa adanya intervensi, dampaknya terhadap kesehatan mental kalian bisa sangat merugikan, loh!Untuk itu, yuk perbanyak refleksi diri dan belajar cara sederhana untuk bahagia dengan apa yang kita miliki bersama melalui artikel ini!

Valójában ez a reggeli erekció lényegének gyakori félreértése. Két különféle folyamat, amelyeket az emberek egyben kombinálnak. Gondolhatja, hogy kapcsolat van közöttük, mert a gerincidegek ellenőrzik az erekciót, és ugyanakkor “kommunikálnak” a hólyaggal. De https://magyar-kamagra.com/vasarlas-viagra-noknek-recept-nelkul-online/ testnek elegendő rendszere van ahhoz, hogy megállítsa az éjszakai kékítőket, és ebben az esetben a verébre történő lövöldözés meglehetősen furcsa. A vesék sokkal jobban szembesülnek!

acquisto cialis
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.