I Am Okay Indonesia

Baca Ini Untuk Lebih Memahami Perasaan Negatifmu di Masa Pandemi!

Perasaaan duka adalah reaksi berupa perasaan terhadap kehilangan. Tidak hanya kematian, tetapi juga kehilangan kesempatan, waktu, peluang, atau kebebasan

Halo, terima kasih ya sudah memberanikan diri meng-klik artikel ini. Terima kasih sudah mau mencoba menghadapi perasaan tidak nyaman dengan mempelajarinya. Sekarang, kita akan membahas salah satu perasaan yang umum dirasakan di masa sulit ini, yaitu duka. 

Gambaran Perasaan Duka di Masa Pandemi

  • Dalam kurun kurang lebih 1.5 tahun pandemi, terdapat sekitar 2.600 penelitian yang membahas isu duka di berbagai populasi masyarakat.
  • Pandemi Covid-19 meningkatkan risiko Prolonged Grief Disorder pada masyarakat global, atau gangguan psikologis akibat rasa duka yang berkepanjangan
  • Perasaan duka akibat Covid-19 dan duka di masa pandemi Covid-19 ditemukan lebih tinggi dibandingkan dengan penyebab bukan Covid-19 dan di masa sebelum pandemi.

Tiga poin di atas menggambarkan betapa signifikannya perasaan duka di masa ini. Duka adalah reaksi berupa perasaan terhadap kehilangan. Tidak hanya kematian orang yang dikenal, tetapi juga kehilangan kesempatan, waktu, peluang, kebebasan, rutinitas lama, produktivitas, dan sebagainya. Kamu bisa berduka karena orang yang kamu kenal meninggal, tetapi kamu juga bisa berduka karena kehilangan kebebasan berkuliah tatap muka. Keduanya sama-sama valid.

Jenis-Jenis Duka

Dari paragraf di atas mungkin kamu sudah bisa menebak bahwa duka ada beberapa jenis, seperti:

  1. Duka Ambigu

Duka yang muncul tanpa penjelasan yang pasti. Kamu merasa berduka akan hilangnya waktu, kesempatan, dan hal-hal abstrak lainnya. Kamu juga tidak memiliki “rutinitas” tertentu untuk melalui proses duka ini, berbeda dengan adanya ritual khas yang biasa dilakukan untuk melepas kematian seseorang. 

  1. Duka Antisipatif

Duka yang muncul sebelum kejadian pemicu duka itu terjadi. Misalnya, kita mengkhawatirkan orang yang kita kenal yang sedang sakit atau kita mengkhawatirkan kestabilan finansial dan kesehatan kita. Sekadar mengantisipasi ketakutan, tanpa benar-benar mengalaminya, bisa memicu perasaan ini.

Sebenarnya, Bagaimana Ekspresi Rasa Duka?

Duka mungkin identik dengan sedih dan tangisan. Namun, duka juga bisa terwujud dalam bentuk:

  1. Menjauh dari interaksi sosial
  2. Mudah merasa kesal, marah, atau bahkan bersalah
  3. Kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang disukai
  4. Merasa lelah
  5. Menghindari kondisi atau situasi tertentu yang memicu memori buruk
  6. Menurunnya nafsu makan
  7. Sering mimpi buruk atau mimpi yang menimbulkan kecemasan
Perasaaan duka adalah reaksi berupa perasaan terhadap kehilangan. Tidak hanya kematian, tetapi juga kehilangan kesempatan, waktu, peluang, atau kebebasan
Ekspresi ini bisa berubah-ubah seiring berjalannya waktu.

Cara Mengelola Rasa Duka dengan Sehat

Duka adalah salah satu perasaan tersulit yang perlu dihadapi. Namun, dengan beberapa strategi di bawah ini, perasaan tersebut dapat dikelola secara sehat:

  1. Akui dan validasi perasaan

Dengan membaca artikel ini, semoga langkah pertama sudah berhasil kamu lakukan ya. If you can name it, you can tame it. Perlu diingat juga bahwa duka adalah suatu proses yang perlu dijalani secara utuh, bukan kejadian atau perlombaan yang harus segera diselesaikan. Jadi, tidak perlu merasa bersalah atau membandingkan kondisimu dengan orang lain.

  1. Buat rutinitas

Rutinitas bisa menawarkan kepastian dan stabilitas dalam dunia yang dirasa sedang runtuh. Coba bangun rutinitas sederhana yang fleksibel dan mudah dijalani. Hal ini bukan aturan baku yang harus diikuti, melainkan alat untuk mempermudah situasi.

  1. Rawat diri

Duka memang terasa begitu overwhelming, tapi usahakan untuk tetap merawat diri dengan memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, kebersihan, dan istirahat.

  1. Cari dukungan dan bantuan

Dukungan dan bantuan bisa datang dari mana saja, seperti teman, keluarga, komunitas di media sosial yang kamu temukan yang memiliki isu serupa, sampai tenaga profesional. Jangan ragu untuk memanfaatkan semua dukungan tersebut ya.

You probably are far from okay right now, but it’s okay, because it won’t last forever. Hang in there, ya!

Desain oleh: Zordy
Penulis: Khairunnisa Syafira Dumbi
Editor: Nida Zhafira

Referensi:

  1. Johns, L., Blackburn, P., & McAuliffe, D. (2020). COVID-19, Prolonged Grief Disorder and the role of social work. International Social Work, 63(5), 660–664. https://doi.org/10.1177/0020872820941032
  2. Eisma, M. C., & Tamminga, A. (2020). Grief before and during the COVID-19 pandemic: Multiple group comparisons. Journal of pain and symptom management, 60(6), e1-e4.
  3. Cassatha, C. (2021, June 23). The “New Normal” May Come with Grief. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com /the-new-normal-may-come-with-grief -5179566#citation-1
  4. Canada Mental Health Association. (n.d.). Loss and Grief During the COVID-19 Pandemic. Retrieved July 17, 2021, from https://ontario.cmha.ca/documents /loss-and-grief-during-the-covid-19-pandemic/
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.