I Am Okay Indonesia

Pratfall Effect : Tidak Apa Berbuat Salah Sesekali

Pratfall Effect – Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita berusaha untuk memberikan dan menjadi yang terbaik. Segala usaha kita kerahkan sebagai upaya meningkatkan kualitas diri.

Beberapa orang mungkin akan berlatih musik atau memilih mengikuti les ekstra mata pelajaran favoritnya, bahkan tak jarang ada yang memutuskan bergabung dengan klub olahraga.

Pastinya semua kegiatan tersebut dilakukan untuk mengembangkan diri sendiri, selayaknya pernyataan yang mengatakan “be the best version of yourself”. 

Berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik atas diri sendiri bukanlah hal yang salah kok, fellas! Namun, seringkali kita lupa akan fakta bahwa manusia tidak sempurna dan tak luput dari kesalahan.

Terkadang membuat error atau kesalahan bukanlah sesuatu yang terburuk, selagi kita bisa belajar darinya dan menjadi lebih baik kedepannya. Selain itu, fellas tau gak kalau kesalahan kecil itu juga dapat memberikan dampak positif dalam bersosialisasi, loh! Dalam ilmu psikologi fenomena ini dikenal sebagai pratfall effect. Wahh.. apa tuh? Penasaran kan, yuk simak artikelnya sampai habis!

Apa itu pratfall effect?

Pratfall effect termasuk salah satu fenomena psikologis, dimana orang yang dianggap kompeten dan memiliki kualitas diri yang sangat baik, akan dinilai lebih menarik juga disukai ketika membuat kesalahan kecil sehari-hari. 

Dari definisinya mungkin fellas jadi bingung, “kok kesalahan bisa membuat kita lebih menarik?”. Maka dari itu, kita intip sejarahnya dulu yuk!

Jadi, pratfall effect pertama kali dipelajari pada tahun 1966 oleh seorang psikolog sosial bernama Elliot Aronson. Saat itu, Aronson berspekulasi jika individu yang dinilai superior di mata orang lain akan menjadi lebih menarik ketika mereka melakukan kesalahan kecil.

Hal ini dikarenakan individu tersebut dianggap terlalu sempurna (superhuman), maka ketika ada kesalahan sehari-hari yang dibuatnya, orang-orang akan lebih mampu untuk melihat dia sebagai manusia biasa pada umumnya dan tak luput dari kekurangan. Sehingga tembok pembatas yang ada runtuh, membuat individu tersebut lebih disukai orang-orang. 

Penelitian yang dilakukan Aronson juga menyatakan hasil bahwa pratfall effect bergantung pada kemampuan setiap individu, mereka yang berkemampuan menengah cenderung semakin kurang menarik ketika melakukan kesalahan. Maka bagi beberapa orang efek ini bisa saja tidak terjadi nih, fellas.  

Contoh Nyata dari Pratfall Effect 

Setiap dari kita pasti setidaknya memiliki satu teman yang kita anggap top banget, serba sempurna dari berbagai aspek, sampai terasa tidak ada kekurangan dalam diri dia. Tapi suatu waktu, kita mendapati dia ceroboh, misalkan tidak sengaja menjatuhkan buku di rak perpustakaan.

Mungkin bagi dia kejadian itu terkesan memalukan, tapi faktanya kita sebagai pengamat mulai memiliki ketertarikan yang meningkat. Sebab anggapan kita yang sebelumnya “dia mah orang nya keren banget, perfect” berubah menjadi “oh ternyata dia sama aja kaya aku, bisa ceroboh juga”.

Lebih lagi, hal ini juga bisa menurunkan rasa minder dan meningkatkan rasa nyaman saat berinteraksi dengan orang tersebut.  

Sekarang kita coba sama-sama lihat dari sisi lain, yuk! Pasti kebanyakan dari fellas tahu dengan BTS, salah satu boyband ternama asal Korea Selatan. Nah, leader BTS yaitu Kim Namjoon, sangat terkenal akan kecerdasan dan skill leadership dia yang memukau di kalangan para fans.

Walaupun begitu, Namjoon juga dikenal dengan sifat cerobohnya, sampai-sampai dijuluki sebagai God of Destruction oleh para fans. Alih-alih berefek negatif, sifat ceroboh Namjoon malah menjadi penambah daya tarik tersendiri untuk dirinya, baik itu di kalangan fans maupun non-fans. 

3 Poin Bermanfaat dari Eksperimen Pratfall Effect 

  1. Tidak apa jika berbuat salah 
    Lagi-lagi, kita sebagai manusia tidak pernah luput dari kesalahan dan kekurangan. Ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi versi terbaik atas diri sendiri dan muncul suatu kesalahan, itu adalah hal yang sangat wajar kok, fellas. Malah terkadang tanpa disadari, kesalahan itu bisa menjadi hal yang positif untuk diri kita sendiri.
  1. Pratfall Effect terjadi secara kontekstual
    Faktanya, kesalahan tidak memiliki interpretasi yang akurat akan efek yang diberikannya pada individu di mata orang lain. Penelitian juga telah mengungkapkan jika pratfall effect terjadi secara kontekstual.
    Hal ini berarti pratfall effect dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor eksternal lainnya dan tidak terjadi setiap saat pada semua orang.
  1. Kemampuan berperan penting dalam pratfall effect
    Individu dengan kemampuan yang tinggi akan cenderung lebih sering mengalami pratfall effect. Berbeda dengan mereka yang memiliki kemampuan rata-rata.
    Sebab ketika membuat kesalahan, alih-alih lebih menarik individu tersebut cenderung dinilai negatif oleh orang lain, misalnya sebagai orang yang ceroboh. 

Itu dia fellas sedikit penjelasan mengenai pratfall effect. Hal yang bisa kita simpulkan yaitu membuat kesalahan adalah hal yang normal, kok! Jadi sembari mengembangkan diri tidak apa untuk sesekali berbuat salah, ya.


Penulis: Agnes
Editor: Aski
Desain: Zordy
SEO Editor: Alif Ashari


Referensi:

  1. Barney, J. (2020, December 9). The Pratfall Effect in Marketing: Profit From Your Mistakes. Einstein Marketer. Retrieved March 18, 2022, from https://www.einsteinmarketer.com/pratfall-effect-marketing/
  2. Brescia University. (2017, June 26). Interesting Psychological Phenomena: The Pratfall Effect – Brescia University. Brescia University. Retrieved March 18, 2022, from https://www.brescia.edu/2017/06/pratfall-effect/
  3. Elliot, A., Ben, W., & Joanne, F. (1966). The effect of a pratfall on increasing interpersonal attractiveness. Psychonomic Science, 4(6), 227-228. https://psycnet.apa.org/record/1966-05356-001
  4. Teeny, J. (2019, September 16). The Pratfall Effect. Everyday Psych. Retrieved March 18, 2022, from https://everydaypsych.com/the-pratfall-effect/