I Am Okay Indonesia

Selain Takut Tambah Dewasa, Kamu Takut dengan Apa Lagi?

🎶 Takut tambah dewasa, takut aku kecewa, takut tak sekuat yang ku kira 🎶

Fellas, kamu pasti sudah familiar dengan kutipan lagu tersebut bukan? Lagu yang dibawakan oleh musisi idgitaf ini menceritakan tentang ambisi masa muda yang semakin lama semakin pudar, dipenuhi kebimbangan karena rintangan yang terus menghadang. Relate kah, kalian dengan hal tersebut?

🎶 Pertengahan dua lima. Selanjutnya bagaimana?​​—ku tak tahu apalagi yang ‘kan ku kejar 🎶

Merasa bimbang, kehilangan arah, dilema, dan takut berbuat salah adalah beberapa perasaan yang sepertinya menjadi langganan untuk kita rasakan sebagai generasi muda saat ini. Di tengah lingkungan dengan persaingan mencekik, ambisi untuk saling menyaingi, dan drama growing-up yang pelik, rasanya kita dipaksa untuk mengawali masa dewasa lebih awal. Relate kah, kalian dengan hal tersebut?

Seperti kutipan-kutipan tadi, apakah kalian familiar dengan rasa bimbang, kehilangan arah, dan bingung akan masa depan? Berbagai perasaan tersebut ternyata mengarah kepada Quarter Life Crisis (QLC) lho, fellas! Nyatanya, secara eksplisit, lagu yang dibawakan idgitaf di atas menceritakan tentang kondisi QLC yang menghadang banyak dewasa muda tanpa ada habisnya.

Gen Z dan Drama Quarter Life Crisis-nya

Quarter life crisis bukan hanya dirasakan oleh Gen Z. Nyatanya yang sekarang ini sedang kritis-kritisnya adalah Gen Y alias para millennial yang banyak terjebak masalah antar dua generasi. Sebut saja salah satunya

adalah perkara menjadi Generasi Sandwich. Mungkin kalian bertanya-tanya, lalu mengapa pembahasan mengenai QLC saat ini umumnya cukup banyak menyoroti Gen Z?

Salah satu alasannya dikemas dalam bentuk fenomena peng-gadang-gadangan Gen Z sebagai generasi superior calon pemimpin dunia. Belum juga lulus sekolah, Gen Z pun sudah hanyut derai arus ambisi berkompetisi untuk menjadi true leader di masa depan. Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. Hanya saja, tuntutan untuk menjadi si paling hebat di masa belia menciptakan tekanan mental tersendiri bagi para Gen Z ini. 

Gen Y vs Gen Z

Kita harus mengakui bahwa masalah yang terjadi memang unik dan pelik sesuai dengan porsi dan histori masing-masing generasi, fellas. Kita tidak dapat mengatakan bahwa termasuk ke dalam suatu generasi lebih sulit dibandingkan dengan menjadi generasi lainnya. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki masalah dibalik keuntungannya masing-masing. Nah, begitu pula dengan kelompok generasi. Berikut adalah 3 perbedaan antara Gen Z dan Gen Y yang mungkin perlu kamu ketahui.

  • Mandiri vs Kolaboratif. Gen Z tumbuh dengan diiringi kalimat motivasi “if you want it done right, do it yourself” yang kurang lebih menekankan kualitas unggul dari kerja secara mandiri. Ditambah kompetisi antar sesama yang ketat, hal ini menciptakan kultur mandiri pada diri Gen Z. Berbeda seperti Gen Y yang lebih familiar dengan kalimat motivasi “teamwork makes dream work” yang menekankan pada pentingnya kerjasama untuk menyelesaikan sesuatu.
  • Menciptakan Dunia Digital vs Tinggal di dalam Dunia Digital. Membahas mengenai teknologi, Gen Y merupakan pioneer—pencetus kemajuan teknologi itu sendiri. Sebut saja Instagram, Twitter, Snapchat, dan segudang dunia digital lainnya yang diciptakan oleh Gen Y. Bertransisi menjelajahi dunia nyata ke dunia maya membuat Gen Y secara lebih aktif menelusuri kebaruan di sektor ini. Lain halnya dengan Gen Z yang telah mengenal dunia maya sejak kecil, teknologi bukanlah hal besar bagi mereka.
  • Private vs Publik. Berkaitan dengan perbedaan diatas, Gen Y disinyalir lebih aktif menjelajahi media sosial dibandingkan Gen Z. Hal ini menjadikan Gen Y lebih aktif mempublikasikan pendapat dan mem-posting kehidupan mereka di media sosial. Berbeda dengan Gen Z yang bukan hanya menggunakan media sosial untuk membagikan kehidupannya, tetapi juga mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja dan mengembangan kompetensinya.

Aku, Kamu, dan Anticipatory Anxiety

Perbedaan antargenerasi beserta ciri unik yang menandai timeline hidup kedua generasi tersebut menjadikan kita bertanya-tanya apakah intensitas dan konteks Quarter Life Crisis yang mereka rasakan berbeda? Jangan salah ya, fellas. QLC ini tidak pandang bulu. Entah kalian adalah Gen Z ataupun Gen Y, QLC akan tetap kalian rasakan dengan ciri yang sama dan konteks yang serupa pula. 

Sumber masalah dari alasan dibalik terjadinya QLC ini sebenarnya adalah rasa cemas akan masa depan alias kecemasan antisipatif. Jenis kecemasan ini adalah sebuah perasaan takut yang kita alami sebelum kita tahu pasti mengenai hal yang kita takutkan itu sendiri. Ditambah ketidakstabilan hidup yang sedang dialami Gen Z dan Gen Y di berbagai konteks kehidupannya, jenis kecemasan ini sering hinggap dan menambah beban hidup nih, fellas. Kalau kamu masih bingung mengenai apakah kamu sedang merasakan anticipatory anxiety atau tidak, coba berefleksi sejenak dan pikirkan hal ini;

Apakah kamu sering bingung untuk memilih A atau B? Harus ke kanan atau ke kiri? Mau lanjut atau cukup sampai disini? Mau pindah jalur tapi takut dengan konsekuensinya. Sudah selesai satu masalah, takut akan ada masalah lagi.
Kalau kalian merasakan salah satu skema kebingungan tersebut, itu tandanya kalian sedang mengalami anticipatory anxiety dibalik QLC yang sedang kalian alami nih, fellas. Untuk itu, kalian harus selalu ingat bahwa hidup itu tidak pasti. Roda akan selalu berputar. Jadi, pastikan kalian menikmati proses dan selalu bersyukur atas kebaikan dan juga masalah yang kalian terima ya, fellas. Jadikan rintangan hidup sebagai batu loncatan untuk mengasah mental dan pengalaman sehingga kamu menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri!


Penulis : Litara Fathin
Editor : Lala
Desain : Yafi
SEO Editor : Della AP


Referensi