Sering Nyalahin Keadaan Pas Lagi Gagal? Yuk Kurangi Self Serving Bias!

“Aduh, tadi malam kan aku udah belajar dan review semua materi, tapi kenapa nilaiku C+ ya? Oh, tapi kan banyak banget materi yang ditanyain nggak sesuai sama yang dijelasin di kelas, pasti kalau materinya sama aku bisa dapet A.” 

Fellas sering nggak sih ada di posisi kayak gitu? Ketika mengalami kegagalan, akhirnya nyalahin keadaan. Sebenarnya, perilaku seperti itu bisa ditinjau dari sisi psikologis, loh, Fellas. Biasanya disebut sebagai self serving bias. Jadi apa sih self serving bias itu, dan kira-kira ada tips buat mengurangi perilaku self serving bias ini nggak, sih?

Apa Itu Self Serving Bias?

Terdapat individu yang memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya secara positif dan menyalahkan orang lain atau situasi ketika menghadapi kegagalan. Robert A. Baron & Donn Byrne (2012 dalam Wiyono, dkk, 2020) menyebutkan bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari kesalahan atribusi. Atribusi adalah proses mencari informasi bagaimana individu berbuat dan alasan dari perbuatan tersebut. Nah, atribusi pada diri manusia seringkali keliru. Ada dua jenis kekeliruan atribusi, yaitu efek faktor pengamat dan self serving bias.

Self serving bias didefinisikan sebagai sebuah kecenderungan dari seorang individu untuk mengaitkan peristiwa positif dengan karakter diri sendiri dan mengaitkan peristiwa negatif dengan faktor eksternal. Contohnya nih, ketika fellas dapat nilai A pada sebuah ujian, fellas akan mengaitkan dengan kemampuan dan usaha fellas untuk belajar dan berlatih soal. Namun, ketika fellas mendapatkan nilai C pada sebuah ujian, fellas akan mengaitkannya dengan faktor eksternal, misalnya materi yang tidak sesuai dengan yang dijelaskan oleh guru di kelas. 

Self serving bias ini memiliki beberapa bentuk yang berbeda, di antaranya yaitu;

  1. Self-serving attribution, yaitu kecenderungan di mana seseorang akan menghubungkan hasil positif untuk diri sendiri dan hasil negatif pada sesuatu hal yang lain. 
  2. Self congratulatory comparisons, yaitu keadaan di mana seseorang membandingkan diri sendiri lebih tinggi dari orang lain, cenderung memandang dirinya lebih etis, baik, dan pintar. 
  3. Illusory optimism, yaitu optimisme yang tidak realistis, di mana seseorang akan mengharapkan agar segala sesuatu dapat berakhir dengan baik. 
  4. False consensus for fallings, yaitu konsensus yang salah di mana seseorang menganggap orang lain memiliki sikap, pandangan, atau minat yang sama dengan dirinya sendiri.  

Nah, seseorang yang memiliki self serving bias akan cenderung untuk selalu menyalahkan orang lain ataupun keadaan sehingga membuat mereka tidak mampu untuk melakukan introspeksi diri. Muncul juga perasaan tidak bersalah karena adanya dorongan dari perasaan menganggap dirinya sendiri selalu lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Selain itu juga, karena muncul bentuk optimisme yang berlebihan dan tidak realistis, akan membawa individu ke dalam sebuah kondisi tidak perlu khawatir, takut, waspada, atau gentar terhadap apapun yang akan dihadapi. Dari dampak-dampak yang telah disebutkan, self serving bias pada dasarnya adalah perilaku maladaptif. Namun, ada beberapa perilaku self serving bias yang dapat menjadi adaptif, yaitu perilaku-perilaku yang ditunjukkan dengan tendensi untuk mencegah depresi, meningkatkan harga diri, dan menahan stres.

Faktor Apa yang Memunculkan Self Serving Bias? 

Ada dua faktor besar yang memengaruhi munculnya self serving bias, yaitu; 

  1. Peningkatan diri (self-enhancement), yaitu sebuah konsep peningkatan diri yang berlaku untuk menjaga harga diri individu. 
  2. Presentasi diri (self-presentation), yaitu sebuah keinginan untuk tampil sempurna di depan orang lain. Self serving bias akan membantu untuk mempertahankan citra individu di depan orang lain. 

Cara Mengurangi Self Serving Bias pada Diri Sendiri 

Nah fellas, udah baca tentang self serving bias dan faktor-faktor penyebabnya, kan? Jadi gimana, nih, fellas merasa pernah melakukan self serving bias nggak kira-kira? Kalau pernah, coba simak beberapa tips berikut untuk mengurangi perilaku self serving bias;

  1. Mindfulness 

Konsep mindfulness di sini yaitu mengendalikan kesadaran diri, lebih memperhatikan diri, dan melakukan koreksi terhadap diri sendiri. 

  1. Self-compassion 

Konsep self-compassion di sini berfungsi untuk mengurangi sikap defensif sehingga dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan perbaikan diri. Maka, ketika individu melakukan sebuah kesalahan, ia akan terfokus untuk melakukan perbaikan diri. 

  1. Melakukan positive self 

Positive self adalah perilaku untuk terbiasa memberikan ucapan yang positif untuk diri sendiri, khususnya ketika melakukan sebuah kesalahan. Dengan adanya positive self ini, ketika individu melakukan kesalahan, ia akan memaklumi diri sendiri dan menerima fakta bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan. 

  1. Self love 

Tidak berbeda jauh dengan positive self, tetapi pada self love ini, individu harus sering memberikan apresiasi untuk diri sendiri terhadap apapun yang telah dilalui. 

Nah, gimana nih fellas, sudah cukup paham, kan, sama self serving bias? Jadi, kalau fellas merasa selama ini sering melakukan self serving bias, bisa mengikuti tips untuk cara menguranginya, ya!

Glosarium : 

tendensi : kecenderungan; kecondongan (pada suatu hal)

defensif : sikap bertahan, yaitu ketika seseorang memilih untuk tetap bertahan dengan sikapnya sendiri, walaupun sikap yang ditunjukkan tersebut adalah sikap yang buruk.


Penulis: emithadwisaa

Editor: Zandha

Desain: Yuli, Riska

SEO Editor:


Referensi:

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.