I Am Okay Indonesia

Selingkuh = Bahagia di Atas Penderitaan Orang Lain

Selingkuh adalah salah satu masalah yang umum dalam suatu hubungan romantis. Meskipun begitu, perselingkuhan bukanlah sesuatu yang dapat dimaklumi—meskipun sudah sering kali terjadi. Tentu tidak ada yang berharap bahwa ketika menjalin hubungan dengan orang yang kita anggap spesial, akan berujung pada perselingkuhan yang menyakiti hati.

Dapat dikatakan bahwa selingkuh artinya sama saja dengan bahagia di atas penderitaan orang lain. Secara umum, permasalahan terbesar dari perselingkuhan adalah adanya satu pihak yang tidak menjaga memiliki komitmen terhadap pasangannya.

Mengapa Orang Selingkuh?

Satu pertanyaan tersebut pasti akan muncul di pikiran seseorang yang menjadi korban perselingkuhan maupun mereka yang mendengar orang terdekat mereka diselingkuhi. Fellas mungkin akan bertanya, “Apa kurangnya aku sampai dia selingkuh?” Rupanya ada delapan alasan utama yang menyebabkan seseorang selingkuh.

  • Kurangnya cinta dari pasangan yang menyebabkan salah satu pihak merasa perlu untuk mencari cinta lainnya.
  • Untuk mencari kesenangan yang baru karena adanya perasaan bosan terhadap hubungan yang sedang dijalani. Sebagian besar perselingkuhan karena alasan ini lebih sering terjadi pada pria.
  • Merasa diabaikan oleh pasangan. Lebih banyak wanita selingkuh dengan alasan ini dibandingkan pria.
  • Faktor keadaan yang tidak terduga atau bahkan tidak direncanakan juga bisa jadi penyebab seseorang selingkuh dari pasangannya. Kurangnya komitmen sangat berpengaruh pada situasi ini.
  • Beberapa orang merasa dengan selingkuh, mereka dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka.
  • Seperti yang disebutkan sebelumnya, komitmen yang rendah adalah salah satu faktor yang sering mendorong terjadinya perselingkuhan.
  • Adanya hasrat seksual yang kini tidak bisa mereka dapatkan dari pasangan, entah apapun itu alasannya. Sebagian besar pria berselingkuh karena alasan ini. 
  • Amarah juga bisa menjadi salah satu penyebab orang selingkuh. Mereka merasa bahwa pasangan mereka perlu untuk dihukum atau mereka ingin balas dendam, dan perselingkuhan adalah jalan yang dipilih.

Selingkuh untuk Balas Dendam

Perselingkuhan karena balas dendam sangat mungkin terjadi. Sebuah studi oleh Boon et al. (2009) menemukan bahwa sebagian besar orang yang melakukan selingkuh untuk balas dendam memiliki harapan bahwa hal itu akan membawa perubahan pada pasangan mereka. Menurut mereka, ini dapat menunjukkan bahwa mereka sangat terluka oleh pasangannya.

Akan tetapi sebagian besar kasus perselingkuhan untuk balas dendam diklasifikasikan sebagai tingkat rendah atau sedang, yang artinya bahwa mereka tidak sepenuhnya berniat untuk membalas perbuatan pasangan mereka terhadap orang lain.

Selingkuh untuk balas dendam ini terjadi karena beberapa faktor. Penyebabnya dapat bervariasi tergantung pada situasi yang sedang dihadapi. Misalnya seperti dari segi bagaimana mereka mengetahui pasangannya berselingkuh, apakah ada permohonan maaf yang diajukan, atau bisa jadi dari jenis perselingkuhan yang dilakukan (emosional atau seksual).

Namun, secara umum penelitian oleh Schumann et al. (2010) menemukan bahwa orang berselingkuh untuk balas dendam pada pasangannya terjadi karena empat faktor berikut.

  • Persepsi biaya, yang mengacu pada pengukuran terhadap kerugian yang dihadapi oleh korban perselingkuhan secara mental dan emosional dengan hasil yang diharapkan dari adanya tindakan perselingkuhan tersebut.
  • Seberapa besar kemarahan korban perselingkuhan terhadap pengkhianatan yang dilakukan pasangannya. Ini berkaitan dengan reaksi emosional mereka.
  • Kepercayaan terhadap nilai budaya dan agama juga mempengaruhi keputusan apakah orang yang diselingkuhi juga akan melakukan tindakan yang sama untuk membalaskan rasa sakit hati yang dirasakan atau justru tidak melakukannya.
  • Pertimbangan terhadap apakah tindakan tersebut akan berdampak terhadap pasangannya, baik itu dari segi kesehatan mental pasangan ataupun hubungan pasangan dengan sahabat-sahabatnya.

Selingkuh: Emosional & Seksual

Perselingkuhan juga dapat terjadi karena perbedaan persepsi pihak satu dengan yang lain terhadap definisi dari selingkuh itu sendiri. Mungkin bagi si wanita selingkuh sudah dikatakan terjadi jika pasangannya melontarkan pujian kepada wanita lain. Namun, bagi orang lain hal tersebut adalah hal yang biasa saja dan tidak berarti apa-apa.

Terdapat dua jenis perselingkuhan, yaitu selingkuh secara emosional dan juga secara seksual.

  • Selingkuh secara emosional adalah ketika salah satu pihak memiliki ikatan secara emosional yang lebih mendalam dengan pihak di luar hubungan mereka.
  • Selingkuh secara seksual adalah saat di mana salah satu pihak dalam hubungan percintaan (pernikahan) melakukan hubungan seksual dengan orang lain.

Penelitian oleh Kato T. (2019) menunjukkan bahwa sebagian besar wanita lebih tidak menghargai perselingkuhan emosional sementara selingkuh secara seksual lebih mengecewakan untuk sebagian besar pria.

Namun terlepas dari hal tersebut, fakta bahwa pasangan sudah melanggar janji yang dibuat saat memulai hubungan merupakan tindakan yang salah, apapun itu alasannya. Mengetahui bahwa pasangan lebih nyaman bersama orang lain bahkan sampai terikat secara emosional dengan pihak lain akan sangat menyakiti perasaan pihak yang diselingkuhi.

Perselingkuhan bahkan bisa membuat pihak yang diselingkuhi kehilangan kepercayaan diri hingga sulit membuka hatinya untuk orang lain.

Dampak Perselingkuhan terhadap Kesehatan Mental

Memang tak bisa dipungkiri bahwa perselingkuhan akan berdampak pada psikis seseorang yang menjadi korban. Beberapa dampak yang bisa dialami antara lain:

  • Korban perselingkuhan bisa saja justru menyalahkan dirinya sendiri sebagai akibat perselingkuhan pasangannya. Perlu ditekankan bahwa selingkuh bukanlah jalan keluar ketika kamu berselisih dengan pasanganmu.
  • Kesulitan untuk membangun hubungan percintaan ke depannya adalah dampak yang cukup sering dialami oleh korban perselingkuhan. Trauma hubungan masa lalu bisa berdampak pada kehidupannya kelak.
  • Perasaan gelisah atau cemas cenderung memberikan efek psikologis yang cukup besar terhadap orang yang pernah diselingkuhi. Jika berlanjut untuk waktu yang cukup lama, perlu adanya penanganan dari pihak yang lebih profesional untuk membantu.
  • Kehilangan rasa percaya diri juga sering dialami oleh sebagian besar korban perselingkuhan. Kata “seandainya” akan lebih sering muncul di kepala hingga tidak bisa melihat kekuatan diri sendiri.

Tidak ada dari kita yang dapat memprediksi bagaimana hubungan percintaan akan berlangsung ketika kita mulai menjalaninya dengan pasangan. Memiliki pasangan akan berdampak lebih besar jika dijalani dengan ketulusan dan niat untuk saling berbagi satu sama lain dalam segala hal.

Selingkuh bukanlah cara yang tepat untuk mengatasi permasalahan dalam hubungan. Komunikasi-lah yang dapat membantu dalam meluruskan konflik yang ada.

Penulis: Dwi Nantari
Editor: Muthia Nida
Desain: Zordy

Referensi:

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.