I Am Okay Indonesia

“Stop Comparing Yourself to Others” Ternyata Bukan Berarti Gak Boleh Sama Sekali Lho!

Social comparing merupakan hasil pemikiran seseorang dalam membuat penilaian terkait dirinya sendiri melalui relasi sosialnya.

“Kok aku gak bisa kayak dia ya?”

“Dia cantik banget, pintar, baik lagi, sempurna banget deh! Beda sama aku yang kayak butiran debu ini deh.”

Kamu pernah berpikir seperti kalimat-kalimat di atas?

Atau justru saat ini kamu sedang dalam tahap itu?

Kemungkinan besar, mayoritas dari kita pasti pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain ya, mungkin dengan teman atau bahkan selebriti di televisi. Kemungkinan besar juga mayoritas dari kita sudah pernah mendengar atau melihat pepatah yang mengatakan “stop comparing yourself to others!”

Tapi, kamu tau gak nih kalau ternyata kita memang sebaiknya membandingkan diri kita dengan orang lain sesekali lho! Hal ini dikarenakan membandingkan diri sendiri dengan orang lain merupakan salah satu cara kita untuk mengevaluasi diri. 

social comparing menjelaskan bahwa seseorang membuat penilaian terkait dirinya sendiri melalui relasi sosialnya.
Bagaimana cara membandingkan diri yang dapat membawa kebaikan? Baca terus artikelnya ya!, jangan berhenti di ilustrasi pohon yang belum mengevaluasi diri!

Yuk Mengenal Social Comparison Theory

Dalam psikologis, social comparison theory pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang membuat penilaian terkait dirinya sendiri melalui relasi sosialnya. Contohnya, ketika kamu ingin masuk sekolah seni, pasti kamu akan membandingkan kemampuanmu dengan calon-calon siswa lainnya. 

Jenis-Jenis Social Comparison

Social comparison sendiri ternyata terbagi menjadi 2 nih.

  1. Downward Social Comparison

Downward social comparison terjadi ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang kita anggap tidak sebaik atau seberuntung kita. 

  1. Upward Social Comparison

Upward social comparison terjadi ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang lebih hebat. Nah, jenis social comparison inilah yang lebih sering kita lakukan teman-teman. 

Kita cenderung melakukan downward social comparison ketika kita ingin merasa lebih baik atau sedang berusaha menerima keadaan kita yang masih penuh kekurangan karena kita tahu kalau ternyata bukan hanya kita yang tidak sempurna. Sedangkan kita cenderung melakukan upward social comparison ketika kita ingin termotivasi atau terinspirasi untuk mencapai sesuatu.

Jadi Sebenarnya Bolehkah Membandingkan Diri Sendiri?

Jawabannya tentu saja boleh. Tapi, perhatikan ya teman-teman! Semuanya tergantung dari hasil social comparison yang kalian lakukan dan bagaimana hasil tersebut mempengaruhi dirimu. Jika social comparing itu membuat kalian termotivasi untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik, atau membuat kamu menjadi lebih bersyukur atas apapun keadaanmu, maka tidak apa-apa. Tapi, kalau justru social comparing yang kamu lakukan malah membuat dirimu merendahkan dirimu sendiri, tidak percaya diri, hingga merasa tidak berharga, langsung hentikan ya! Itu tandanya kamu sudah membandingkan dirimu secara berlebihan. Ingat ya teman-teman bahwa segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak berdampak baik.
Jadi, yuk lakukan social comparison secukupnya agar tidak membebani dirimu ya!

Desain oleh: Nanda Luthfiah
Penulis: Khairunnisa Syafira Dumbi
Editor: Muthia Nida

Referensi:

  1. Cherry, K. (2020). Social comparison theory in psychology. Retrieved from https://www.verywellmind.com /what-is-the-social-comparison -process-2795872 
  2. Pulih. (2017). Mengenal social comparison. Retrieved from http://yayasanpulih.org /2020/07/mengenal-social-comparison/
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.