Terjebak dalam lamunan, memangnya bisa? Yuk, Kenalan Sama Maladaptive Daydreaming!

Melamun bisa menjadi salah satu aktivitas yang cukup menyenangkan untuk dilakukan, terlebih lagi disaat-saat kita merasa bosan. Saat asyik melamun, kita biasanya akan terlepas dari kesadaran pada segala hal yang terjadi di sekitar. Dalam arti lain, kita menjadi terlalu nyaman dengan isi pikiran diri sendiri. Tapi, tau nggak sih fellas kalau melamun yang berlebihan bisa berdampak buruk untuk diri kita? Yup, kedengarannya cukup membingungkan ya. Namun faktanya, di dunia psikologi ada istilah yang menggambarkan sisi negatif dari melamun dengan sebutannya yaitu maladaptive daydreaming. Kira-kira dampak buruk apa aja yah yang bisa diakibatkan dari melamun berlebihan? Penasaran kan? Yuk, disimak artikelnya sampai habis! 

Maladaptive Daydreaming: Apa sih itu?

Maladaptive daydreaming bisa diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang terjebak dalam lamunan yang begitu intens hingga menyebabkannya terlalu fokus pada khayalan pribadi dibandingkan kehidupan nyata. Jadi, persis seperti namanya yang berarti semakin sering seseorang melamun, maka ia akan cenderung semakin sulit menyesuaikan ataupun membedakan antara lamunan dan realita. 

Lalu, apa sih penyebab dari maladaptive daydreaming ini?

Sayangnya sampai saat inipun penyebab pasti dari maladaptive daydreaming belum diketahui. Walaupun begitu, para peneliti telah menemukan beberapa kondisi yang terkait dengan munculnya maladaptive daydreaming. Pertama, individu yang mengalami maladaptive daydreaming cenderung memiliki perilaku adiksi tertentu. Hal tersebut menyebabkan munculnya tendensi untuk terus-menerus melamun alias daydreaming, bisa jadi dikarenakan keinginan untuk lari dari masalah kehidupan atau menganggap lamunannya sebagai suatu kepuasan tersendiri. 

Kedua, maladaptive daydreaming juga dapat dipicu oleh adanya perasaan cemas, takut, serta ketidakmampuan untuk menunjukan kebutuhan ataupun hal yang diinginkannya. Pengalaman-pengalaman pemicu bisa seperti di-bully, tidak dipedulikan semasa kecil, hingga kurangnya dukungan secara emosional dari orang-orang terdekat. Sebab hal inilah, seseorang bisa menggunakan maladaptive daydreaming sebagai bentuk dari pertahanan psikologisnya. 

Kalau begitu, apa aja sih tanda-tanda dari maladaptive daydreaming?

Sama halnya dengan gangguan mental pada umumnya, maladaptive daydreaming juga memiliki tanda-tanda khusus agar dapat diidentifikasi. Nah, beberapa tanda yang biasa dialami individu dengan maladaptive daydreaming, yaitu : 

  • Memiliki lamunan yang sangat jelas, mulai dari karakter, alur, latar dan detail lainnya yang merefleksikan cerita di dalam pikirannya 
  • Kesulitan dalam melakukan aktivitas harian
  • Memiliki keinginan yang sangat besar untuk melanjutkan lamunannya
  • Menghabiskan waktu berjam-jam untuk melamun 
  • Mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari
  • Kerap kali menggerakan tubuh secara berulang, berbisik, dan berekspresi saat sedang melamun

Jadi, gimana sih cara untuk meminimalisir maladaptive daydreaming ini?

Hingga saat ini, penanganan khusus untuk mengurangi maladaptive daydreaming belum bisa dipastikan oleh para peneliti. Namun, berdasarkan beberapa studi kasus dan hasil pengamatan, peneliti memperoleh setidaknya dua penanganan alternatif yang mampu meminimalisir maladaptive daydreaming itu sendiri. Pertama, peneliti menemukan bahwa melakukan terapi konseling dan meditasi mindfulness dalam jangka waktu tertentu dapat meminimalisir maladaptive daydreaming hingga 50%. Kedua, peneliti menyarankan penggunaan teknik Exposure and Response Prevention (ERP). Teknik ini bertujuan untuk mengubah alur cerita dalam lamunan seseorang menjadi tidak sesuai dengan keinginannya. Dengan begitu, kemungkinan seseorang akan melakukan maladaptive daydreaming akan semakin berkurang. Mungkin terkesannya sepele ya, fellas, tapi harus tetap diingat kalau maladaptive daydreaming juga bisa menimbulkan kesulitan-kesulitan, seperti sulit fokus, depresi, cemas, kurangnya produktivitas, sampai menurunnya kesejahteraan psikologis. Maka dari itu, yuk kita sama-sama belajar untuk memberikan porsi yang cukup untuk segala hal, termasuk melamun. Semoga artikel ini bermanfaat ya, fellas!


Penulis: Agnes
Editor: Hera
Desain: hemal
SEO Editor:


Referensi: