I Am Okay Indonesia

The Real Hero: Simone Biles, Kesehatan Mental itu Penting!

Olimpiade Tokyo 2020 saat ini sedang menjadi pembahasan hangat di berbagai belahan dunia. Tak heran, karena ajang bergengsi tersebut hanya dilakukan empat tahun sekali. Para atlet yang bertanding di perlombaan dunia itu pun turut menjadi sorotan media, baik lokal hingga internasional.

Perhatian publik juga tertuju pada pesenam asal Amerika Serikat peraih empat medali emas Olimpiade Rio pada 2016 lalu bernama Simone Biles. Atlet berusia 24 tahun tersebut mengumumkan bahwa dirinya mundur dari nomor senam beregu putri pada hari Selasa tanggal 27 Juli lalu dengan alasan kesehatan mental. Meskipun menimbulkan pro dan kontra, tak sedikit orang yang mendukung keputusan Biles. Sebelum menentukan kamu berada di tim pro atau kontra, ada baiknya kamu simak dulu ulasan berikut ini, ya.

Hidup dengan Tekanan Gelar GOAT: Greatest of All Time

Sudah terbukti dari prestasi-prestasi yang diraihnya, Biles merupakan atlet senam yang luar biasa. Jejak prestasinya itulah yang menyebabkan banyak orang menaruh harapan pada Biles. Ia digadang-gadangkan untuk menjadi orang yang bisa memecahkan rekor Larisa Latynina, atlet senam Uni Soviet yang berhasil mendapatkan sembilan medali emas Olimpiade. Media juga sering mengaitkan pemberitaan terhadap Biles dengan berbagai ekspektasi tinggi. Bisa dibayangkan bahwa hidup dengan ekspektasi tinggi dari banyak orang bukanlah hal yang mudah.

Beberapa waktu lalu, atlet senam bernama Simone Biles membuat keputusan untuk mengundurkan diri dari Olimpiade Tokyo 2020 karena kesehatan mental
Gelar GOAT: Greatest of All Time yang disematkan pada Biles adalah sebuah tekanan dan ia berjuang untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Olimpiade: Adu Mental Melebihi Adu Skill Teknikal

Tentu para atlet yang berlaga di Olimpiade merupakan orang-orang yang hebat dalam hal teknikal. Hal yang menjadikan mereka berbeda adalah kesehatan mental setiap atlet dalam menghadapi tekanan yang mereka pikul. Hal ini juga ditegaskan oleh Herry IP selaku pelatih The Minions, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon.

Kalian tentu pernah mendengar istilah mental juara, bukan? Setiap atlet yang akan bertanding tidak hanya melewati proses latihan fisik, tetapi juga latihan mental. Latihan tersebut ditujukan untuk melatih kemampuan atlet untuk mengkonseptualisasi fungsi ide, introspeksi, dan untuk latihan imajiner tanpa latihan fisik yang tampak. Pelatihan keterampilan mental ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Keterampilan dasar merupakan dasar keterampilan mental untuk mencapai kesuksesan dalam olahraga yang meliputi: Motivasi berprestasi; Kesadaran diri; Harga diri; Berpikir produktif; dan Kepercayaan diri.
  2. Keterampilan performa adalah keterampilan yang digunakan selama pertandingan berlangsung, terdiri dari: Pengelolaan energi; Ketergugahan fisik optimal; Ketergugahan mental optimal; Perhatian optimal.
  3. Keterampilan fasilitatif adalah keterampilan yang tidak secara langsung memengaruhi performa atlet, tapi jika dikuasai akan memfasilitasi perilaku sang atlet. Misalnya adalah keterampilan interpersonal dan manajemen gaya hidup.

Gejala Depresi yang Dialami Para Atlet

Simone Biles menunjukkan beberapa tanda-tanda bahwa kondisi mentalnya sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari tidak bisa tidur dengan tenang hingga performanya yang tak stabil di lapangan. Dua gejala tersebut termasuk dalam beberapa gejala yang timbul kala atlet mengalami depresi.

  1. Performanya kurang baik
  2. Kelelahan, sakit, atau gagal pulih
  3. Perubahan perilaku atau biasanya menjadi lebih mudah tersinggung
  4. Perubahan kebiasaan tidur dan makan
  5. Menarik diri dari lingkungan sekitar
  6. Penyalahgunaan alkohol

Belajar Menjadi Hero untuk Diri Sendiri

Berada di lingkungan sosial kadang kala membuat kita lupa untuk memikirkan kesejahteraan diri sendiri dan membiarkan ekspektasi orang lain merangkul kehidupan kita. Simone Biles telah mengajarkan pada banyak orang bahwa kesehatan mental adalah aspek penting melebihi segalanya. Keputusan Biles untuk mengakui keadaannya dan mengambil tindakan untuk melindungi dirinya adalah salah satu keputusan yang masih sering terlupakan oleh orang lain.

Jadi, bukan hanya kesehatan secara fisik yang harus kamu perhatikan, cobalah lihat lebih dalam lagi pada dirimu. Kenali setiap perasaan yang kamu miliki dan carilah solusi dari yang paling mudah yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi perasaan cemas yang ada. Jangan ragu lagi untuk melindungi dirimu, ya. Karena hero sejati tahu kapan saatnya istirahat dan kapan saatnya berjuang.

Desain oleh: Farah Shalihah
Penulis: Dwi Nantari
Editor: Nurul Malahayati

Referensi:

  1. Antara. 2021. Kisah Simone Biles di Olimpiade, Kala Bintang Besar Goyah Ditekan Beban Dunia. Diakses pada 3 Agustus 2021 dalam https://sport.tempo.co/read/1488158 /kisah-simone-biles-di-olimpiade-kala-bintang -besar-goyah-ditekan-beban-dunia?page_num=2
  2. Sin, Tjung Hauw. 2016. Persiapan Mental Training Atlet Dalam Menghadapi Pertandingan. Jurnal Performa Olahraga, 1(01), 61-73.
  3. Salusi, Novitasari Dewi. 2021. Pelatih Akui Kevin/Marcus Bermasalah di Mental. Diakses pada 3 Agustus 2021 dalam https://sport.detik.com/raket/d-5662324 /pelatih-akui-kevinmarcus-bermasalah-di-mental
  4. Hackney, Suzzet. Simone Biles is a Role Model for Prioritizing Her Own Mental Health Over an Olympic Medal. Diakses pada 3 Agustus 2021 dalam https://www.usatoday.com/story/opinion /2021/07/27/olympics-gymnastics-mental -health-awareness-simone-biles/5385110001/
  5. Walden, Mike. 2021. Signs of Depression In Athletes. Diakses pada 3 Agustus 2021 dalam https://www.sportsinjuryclinic.net/sport-injuries /sports-injury-prevention/depression
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.