I Am Okay Indonesia

Tips Buat Kamu yang Suka Oversharing

Belakangan ini berbagai aplikasi media sosial mengeluarkan terobosan-terobosan fitur unik yang menarik. Mulai dari instagram, twitter, hingga tiktok rasanya menciptakan belenggu adiksi tersendiri di balik keseruan trend yang diciptakan oleh pengguna-penggunanya. Salah satu trend yang sampai saat ini masih berlangsung adalah fenomena story sharing di sosial media.

Bermula dari fitur thread di twitter, kini banyak orang memanfaatkan media sosial sebagai tempat bagi mereka untuk bercerita. Mengikuti trend tersebut, saat ini hampir semua media sosial mempunyai fitur yang dapat memudahkan kita untuk bercerita serta membagikan cerita tersebut ke jejaring yang lebih luas lagi. Katakan saja misalnya fitur write a prompt di instagram. 

Kamu sendiri gimana nih, fellas?  Apakah kamu menjadi salah satu orang yang aktif dan suka share kegiatan kamu di sosial media? Berapa kali dalam sehari kamu update kegiatan di IG Story? Apakah kamu suka menulis dan bercerita melalui thread twitter? Atau mungkin curhat lewat media sosial?

Caption: Hati-hati dengan oversharing ya!

Apabila tidak bijak dalam menyikapinya, keseruan-keseruan dan pelarian kecil-kecilan melalui sosial media tersebut dapat membawa petaka dan penyesalan, loh.

Wait, emangnya apa sih oversharing itu?

Jadi, oversharing dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dimana seseorang terlalu banyak mengungkap detail-detail terkait dengan kehidupan pribadinya kepada orang lain. Uniknya, oversharing umum sekali terjadi dalam interaksi sosial antara dua orang atau lebih yang baru saja bertemu atau belum terlalu mengenal satu sama lain. Lalu, yang lebih bahaya lagi adalah ketika kita membagikan detail kehidupan pribadi kita di media sosial, dimana publik dapat mengakses profil kita dengan sangat mudah.

Selain itu, oversharing tidak selalu mengenai info-info pribadi yang besar, melainkan detail seremeh nama kecil atau alasan kamu putus sama doi juga termasuk informasi yang krusial.

Apa yang membuat kita overshare?

Ada beberapa hal umum yang dapat membuat seseorang melakukan overshare, beberapa diantaranya adalah:

  1. Keinginan untuk membangun relasi cepat dengan orang lain. 

Ketika kita overshare hal ini mungkin saja dimotivasi oleh keinginan kita untuk segera membangun relasi agar cepat akrab dengan seseorang. 

  1. Tempat pelampiasan. 

Ini menjadi salah satu alasan umum lainnya tentang mengapa kita melakukan overshare terutama apabila kita ingin opini kita didengar oleh masyarakat luas. Beropini bukanlah hal yang merugikan selama kita tidak turut menyertakan informasi pribadi yang berlebihan di dalamnya, yaa!

  1. Kebutuhan untuk mendapatkan validasi dari orang lain.

Biasanya hal ini disebabkan oleh fear of missing out atau FOMO yang membuat kita terus menerus mengikuti trend agar tidak terkesan ketinggalan.

  1. Rutinitas update aktivitas di sosial media. 

Nah, beberapa orang malah melakukan overshare dengan tidak sadar karena terbiasa mengunggah cerita kehidupan sehari-harinya di sosial media. 

Hati-hati ya, fellas. 

Jangan biarkan rutinitas keseruan update di sosial media kalian malah memancing oknum jahat untuk memanfaatkanmu. Apabila kamu merasa bahwa selama ini telah cukup sering melakukan oversharing yang dapat bersifat merugikan, cobalah untuk sedikit-demi sedikit merubah kebiasaanmu tersebut. 

Yuk, simak beberapa tips dibawah ini untuk mengurangi oversharing!

Berikut adalah beberapa tips yang dapat menjadi referensi untuk kamu terapkan sehari-harinya.

  1. Ingat batasan mana hal pribadi dan mana hal yang umum. 

Sebisa mungkin apabila ingin bercerita dengan orang yang kurang kita kenal, cobalah untuk bercerita secara garis besarnya saja.

  1. Siapa yang paling kamu percaya? 

Apabila benar-benar ingin melampiaskan ceritamu, berceritalah dengan orang yang benar-benar kamu percaya. Sebagai alternatif, kamu bisa juga melampiaskannya melalui tulisan, loh!

  1. Bijak dalam mengikuti trend. 

Apabila trend yang berbau “personal-info sharing” yang sifatnya benar-benar pribadi (seperti nunjukkin foto ktp), sebisa mungkin skip aja deh, fellas.

  1. Sesuaikan situasinya. 

Ketika ingin bercerita, kamu juga harus memperhatikan konten cerita dan setting tempat dan kondisi juga, ya. Jangan sampai kamu bercerita mengenai kehidupan pribadi di acara formal sehingga membuatmu tampak kurang profesional.

  1. Diskusi internal. 

Dengan menggunakan inner voice, coba tanyakan pada dirimu sendiri, “Apakah kamu yakin mau cerita kepada dia/mereka?”, “apakah dia/mereka dapat dipercaya”, “apa untungnya sharing sekarang?”, “apakah kamu akan menyesal setelah bercerita?”, dan lain sebagainya untuk membuatmu berpikir ulang ketika mau sharing.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan banyak bercerita pada orang lain terutama di sosial media. Nyatanya, penelitian yang dilakukan Seabrook et al. (2016) mengenai hubungan antara social networking dengan kesehatan mental menemukan bahwa interaksi positif di media sosial secara konsisten berhubungan dengan level depresi dan kecemasan yang rendah. 

Terlepas dari hal itu, overshare yang salah adalah apabila kita sharing ke orang yang tidak bertanggung jawab sehingga dapat merugikan kita baik secara mental maupun material.
Untuk itu, jangan bosan bersikap bijak dalam bersosial media ya, fellas!

PIC: Litara Fathin
Editor: Muthia Nida
Desain: Keke

Referensi:

Chamberlin, J. (2014). Beware the overshare. American Psychological Association. https://www.apa.org/gradpsych/2014/01/overshare

  1. Jacobson, S. (2020). Oversharing syndrome – the truth about too much info. Harley Therapy Counseling Blog. https://www.harleytherapy.co.uk/counselling/oversharing-syndrome.htm
  2. Seabrook, E. M., Kern, L. M., & Rickard, N. S. (2016). Social networking sites, depression, and anxiety: A systematic review. JMIR Mental Health, 3(4). DOI: 10.2196/mental.5842
I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.