Toxic Positivity Ternyata Bahaya, Lho! Beberapa Cara ini Bisa Diterapkan untuk Menguranginya!

Toxic Positivity Ternyata Bahaya – “Ini nggak seburuk yang kamu pikirkan kok” 
“Udah yuk pasti bisa yuk!” “Kamu lebih beruntung, daripada aku, kalau aku sih …” 

Pernah nggak sih Fellas mendapat kata-kata ini dari teman-teman kalian? Atau malah Fellas sendiri sering bilang kata-kata ini ke teman-teman Fellas? Bisa dibilang kata-kata atau ungkapan diatas adalah bentuk pikiran positif.

Menurut Peale (1986) pikiran positif adalah bentuk pikiran yang terbiasa untuk mencari hasil-hasil terbaik dari kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Konsep pikiran positif ini banyak digunakan ketika menghadapi permasalahan atau digunakan ketika memberi saran, namun sayangnya tidak selalu berdampak baik bagi semua orang.

Pada beberapa kasus, ketika orang berfokus pada hal-hal positif saat menghadapi permasalahan justru akan merasa lebih buruk, tidak berharga, dan menyalahkan diri sendiri. 

Pengalaman untuk selalu fokus pada hal-hal positif pada saat yang sama juga diartikan sebagai penolakan terhadap hal-hal negatif, khususnya disini adalah pengalaman emosi negatif.

Maka disinilah konsep pikiran selalu positif ini justru dianggap tidak realistis dan tidak membantu. Anggapan berlebihan tentang konsep positivity ini sering disebut dengan toxic positivity.

Toxic positivity adalah kepercayaan akan konsep positif yang berlebihan, menuntut individu untuk selalu berpikir positif di setiap keadaan dan harus mengabaikan hal-hal yang negatif.

Berpikiran positif disatu sisi dipandang sebagai pilihan yang tepat, namun jika hal itu berlebihan akan menjadi toxic. Menurut Lukin (2019) mengabaikan dan tidak menghiraukan emosi negatif justru akan memperbesar emosi tersebut.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Gross & Levenson (1997), menyimpulkan bahwa individu yang menekan emosinya di atas kondisi yang tidak mengenakkan atau berperilaku seperti tidak sedang terjadi apa-apa, akan memiliki psychological arousal (keadaan sadar, waspada, dan memiliki perhatian penuh, ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas seperti detak jantung yang lebih kencang) yang lebih signifikan. 

Bagaimana sih Bentuk dari Toxic Positivity? 

Berikut adalah beberapa ekspresi umum dari toxic positivity supaya Fellas dapat mengenali bagaimana keadaan ini bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya yaitu : 

  1. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya 
  2. Mencoba untuk “melanjutkan saja” dengan menyingkirkan atau mengabaikan emosi 
  3. Meminimalkan pengalaman dari orang lain dengan menekankan pernyataan atau keyakinan “merasa baik” pada diri sendiri 
  4. Mencoba memberikan perspektif seseorang (misalnya, “dia lebih buruk (…..)” daripada memvalidasi pengalaman emosional diri sendiri 
  5. Mempermalukan atau menghukum orang lain karena mengekspresikan frustasi atau apapun selain kepositifan  

Dampak yang Ditimbulkan dari Toxic Positivity 

Menurut beberapa studi psikologi, menghindari atau menolak perasaan akan memunculkan stres serta sulit untuk menghindari pikiran dan perasaan stres tersebut.

Selain memunculkan stres, menghindari emosi negatif juga akan menjadi manifestasi dari rasa kecemasan dan depresi. Tidak hanya memberikan pengaruh buruk di bidang kesehatan mental, namun toxic positivity juga memberikan dampak bagi hubungan seorang individu dengan orang disekitarnya.

Ketika individu menolak apa yang sebenarnya dia rasakan, maka akan mulai hidup dengan kepalsuan serta hilang koneksi bahkan dengan diri sendiri dan tentunya kehidupannya (Quintero & Long, 2019).

Ketika seorang individu telah kehilangan koneksi dengan diri sendiri, maka orang lain pun akan sulit juga terkoneksi dengan individu tersebut.

Secara tidak langsung, ketika muncul penolakan atas perasaan negatif dari diri sendiri akan membuat kesan bagi individu untuk selalu mengekspresikan hal positif.

Akibatnya, orang-orang yang berada di sekitar individu tersebut merasa sulit untuk mengekspresikan hal lain, selain hal positif, sehingga akan membuat orang lain cenderung memilih menjaga jarak. 

Tips Kalimat Pengganti Supaya jadi nggak Toxic Positivity!

Mungkin Fellas banyak di curhatin nih sama temen-temen kalian, nah mungkin ini ada beberapa tips mengganti kalimat supaya nggak menimbulkan toxic positivity. 

Toxic Positivity Non-Toxic 
“Jangan pikirkan hal itu, tetaplah positif!”“Coba jelaskan apa yang kamu rasakan, aku akan mendengarkan”
“Jangan khawatir, berbahagialah!”“Aku melihat kamu benar-benar sedang stres, ada yang bisa aku bantu?”
“Kegagalan bukanlah pilihan.”“Kegagalan adalah bagian dari pertumbuhan dan kesuksesan.” 
“Semuanya akan berhasil pada akhirnya.”“Aku tahu ini sangat sulit, aku mengkhawatirkanmu.”
“Kalau aku bisa melakukannya, kamu juga pasti!”“Cerita, kemampuan, keterbatasan setiap orang berbeda, jadi gapapa.” 

Berikut Beberapa Cara Menghindari Toxic Positivity! 

  1. Kembangkan sikap “tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja”. Alih-alih memiliki pandangan bahwa memiliki perasaan negatif itu salah, kita harus menerima bahwa tidak realistis untuk selalu baik-baik saja.
    Ingatkan diri sendiri bahwa seseorang tidak merasa baik-baik saja itu bisa diterima. 
  2. Mengelola emosi negatif, tapi jangan menyangkalnya. Emosi negatif jika tidak dikendalikan akan menimbulkan stres. 
  3. Berfokus untuk mendengarkan orang lain dan menunjukkan dukungan. Ketika seseorang mengekspresikan emosi yang sulit, jangan tutupi dengan toxic positivity, tetapi sebaliknya, beri tahu mereka bahwa apa yang mereka rasakan adalah normal dan kamu ada disana untuk mendengarkan. 
  4. Jangan suka membandingkan baik dalam hal positif ataupun hal negatif karena akan menimbulkan dampak yang tidak baik. 
  5. Berdamai dengan diri sendiri. Sebelum mencoba untuk memahami orang lain, hendaknya harus bisa memahami diri sendiri.
    Cobalah untuk menghargai dan mencintai diri sendiri mulai dari hal yang paling sederhana, misalnya mendengarkan isi hati. 

Menghindari toxic positivity mungkin memang sulit, karena kebanyakan individu tidak menyadari telah melakukan toxic positivity.

Tapi coba Fellas untuk melakukan introspeksi pada diri sendiri, dan mulai menerapkan tips yang udah ditulis di atas. Semoga kita bisa dihindarkan dari toxic positivity, yaaa!


Penulis: Emithadwisaa
Editor: Hera
Desain:
SEO Editor: Alif Ashari


Referensi:

  1. Kojongian, M. G. R., & Wibowo, D. H. (2021). Toxic positivity : sisi lain dari konsep untuk selalu positif dalam segala kondisi. Psychopreneur Journal, 6(1) : 10-25. 
  2. Quintero, S., LMFT., CHT., & Long, J. Toxic positivity : the dark side of positive vibes. Diakses pada 17 Oktober 2022 dari https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/ 
  3. Jati, P., Aliifah, J., Pangestu., Y. P. D. A., & Nadarajah, C. (2021). Pemahaman generasi Z mengenai pengaruh toxic positivity terhadap hubungan sosial individu. ResearchGate. DOI:10.31234/osf.io/9t5gy 
  4. Redaksi OCBC NISP. (2021, Desember 20). Toxic positivity, kenali lebih jauh ciri-ciri dan dampaknya. https://www.ocbcnisp.com/id/article/2021/12/20/toxic-positivity-adalah 
  5. Talitha, T. (2021). Apa itu toxic positivity? Kenali lebih dalam apa saja ciri dan dampaknya. https://www.gramedia.com/best-seller/toxic-positivity/ Cherry, K. (2022, September 28). What is toxic positivity. https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-positivity-5093958#:~:text=Toxic%20positivity%20is%20the%20belief,and%20often%20falsely%2Dpositive%20fa%C3%A7ade