Toxic Relationship : Aku atau Kamu Pelakunya?

Fellas, pasti banyak dari kalian yang udah familiar sama toxic relationship. Beberapa waktu lalu, kasus tentang toxic relationship sedang kembali menjadi perbincangan hangat. Akan tetapi, apakah kalian tahu apa itu toxic relationship dan bagaimana cara mengatasinya? Supaya lebih paham, yuk simak penjelasan di bawah ini! 

Apa Itu Toxic Relationship? 

Menurut Motz, 2014, toxic relationship adalah sebuah interaksi atau hubungan antara dua individu yang bersifat destruktif (hubungan yang bersifat merusak atau memusnahkan). Maka dari itu, toxic relationship dapat diartikan sebagai hubungan beracun karena bersifat tidak sehat.

Jika dilihat dari kacamata orang luar, toxic relationship dapat menjelma menjadi sebuah hubungan yang sempurna, padahal hubungan tersebut mungkin berisi amarah, ketidakbahagiaan, frustasi, dan kekesalan bagi seseorang yang terjebak di dalamnya. 

Jika pada hubungan yang sehat akan muncul rasa saling percaya, sabar, nyaman, empati, saling menghargai, dan terbuka, pada toxic relationship hal tersebut berbeda. Di dalam toxic relationship, kita akan cenderung menemukan sifat gampang curiga dari salah satu ataupun kedua pihak, sifat egois, kebohongan, saling mendiskriminasi dan menjatuhkan, serta banyak perilaku tidak sehat lainnya yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam hubungan.  

Toxic relationship ini tak hanya dapat muncul dalam hubungan pacaran saja, namun bisa muncul dari semua tipe hubungan, misalnya dalam hubungan pertemanan. Toxic relationship dalam pertemanan dapat diartikan sebagai hubungan pertemanan yang tidak sehat, muncul banyak dampak negatif selama menjalin hubungan pertemanan sehingga membuat tidak nyaman.

Salah satu ciri dari toxic relationship dalam pertemanan diantaranya adalah teman yang gemar sekali memberikan kritik yang tidak membangun. Satu dua kali bisa dibilang wajar, mungkin membantu diri kita untuk melakukan evaluasi diri, namun jika terus-terusan dan membuat yang dikritik merasa tidak nyaman atau tertekan bisa dibilang toxic, lho! Sebaliknya, teman yang anti kritik, yang diberi masukan sedikit sudah langsung tersinggung, dan teman-teman yang tidak memiliki empati terhadap teman yang lain juga harus dihindari karena dapat menyumbang toxic bagi hidupmu, fellas

Nah, tapi kita juga perlu bercermin lho, fellas. Udah sering bilang kalau lingkungannya toxic, teman-temannya toxic, eh jangan sampai ternyata diri sendiri yang toxic. Maka dari itu, ada kalanya kita harus mendengarkan perspektif orang lain tentang diri kita. Mungkin, apa yang kita lakukan menurut kita biasa saja, namun bisa jadi menurut orang lain itu menyakiti atau membuat mereka tidak nyaman. Jadi, sesekali cobalah mengobrol dengan teman dekat kalian, tanyakan bagaimana pendapat mereka terhadap perilaku dan sikap kita selama ini. 

Penyebab Toxic Relationship 

Terdapat dua domain besar yang menjadi penyebab munculnya perilaku toxic relationship ini, yaitu : 

  1. Faktor Individu
    Faktor individu yang berkontribusi menyebabkan munculnya toxic relationship adalah kontrol diri yang kurang baik. Baik kontrol diri dalam memperlakukan orang lain dan kontrol diri dalam menghadapi permasalahan, yaitu terkait dengan kemampuan kontrol emosi dan perilaku. 
  1. Faktor Lingkungan 
    Lingkungan yang berperan besar terhadap munculnya perilaku toxic dalam suatu hubungan adalah lingkungan pertemanan seorang individu, apabila berada diantara banyak individu lain yang melakukan toxic relationship, maka suatu individu berpotensi besar akan terjerumus juga, selanjutnya berkaitan dengan kebijaksanaan individu dalam bermain sosial media, dan yang tak kalah penting adalah lingkungan keluarga seperti pola asuh yang didapatkan.

Cara Mengatasi Toxic Relationship 

Eits, tapi kamu tak perlu khawatir, fellas. Berada dalam suatu toxic relationship bukan berarti akan terjebak selamanya di sana, kok! Berikut beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi hubungan yang toxic:

  1. Memiliki kemampuan resiliensi yang baik
    Bagi individu yang telah mengalami toxic relationship bisa melakukan upaya untuk melakukan resiliensi. Resiliensi yaitu kemampuan seorang individu untuk bangkit kembali dari keadaan yang mengganggu. Upaya resiliensi ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan self-efficacy pada diri individu. 
  1. Melakukan evaluasi diri 
    Bisa jadi anggapan tentang lingkungan yang toxic, pasangan yang toxic, atau pertemanan yang toxic itu salah. Ternyata yang toxic selama ini adalah diri kita sendiri. Maka dari itu, hendaknya kita selalu bercermin dan melakukan evaluasi diri supaya tidak menjadi individu yang toxic
  1. Menanamkan sikap percaya pada diri sendiri 
    Solusi ini tak kalah penting, karena memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri akan membuat kita tidak mudah untuk dimanipulasi oleh orang lain, sehingga kita memiliki pertahanan untuk menolak hal-hal yang dirasa tidak baik bagi diri kita.
  1. Bersikap asertif 
    Ketika merasa bahwa hubungan yang dijalani muncul tanda-tanda toxic atau perilaku-perilaku yang membuat kita merasa tidak nyaman dan terganggu, akan lebih baik untuk bersikap asertif. Cobalah untuk menyampaikan keresahanmu sehingga semua pihak dalam hubungan dapat bersama meninggalkan sifat toxic tersebut.
  1. Menjauh dari penyebab hubungan tersebut
    Jika kamu sudah mengomunikasikannya, tetapi perilaku toxic tersebut terus berlanjut, maka inilah saatnya bagimu untuk menjauhi hubungan tersebut. Menjadi orang yang pemilih terkadang tidak selalu salah lho, fellas! Kamu perlu menyortir orang-orang yang dirasa membawa pengaruh baik dan pengaruh buruk bagi hidupmu. Ketika suatu hubungan membawa pengaruh buruk, maka tinggalkan hubungan tersebut dengan cara yang baik.
  1. Meminta bantuan profesional 
    Ketika dirasa sudah melakukan hal-hal diatas, namun tidak mampu untuk mengatasi toxic relationship yang kamu alami, hal terakhir yang dapat dilakukan adalah meminta bantuan pada profesional. Meminta bantuan kepada orang yang lebih ahli akan membantumu menemukan jalan keluar melalui penanganan yang lebih kredibel.

Nah, cukup kompleks juga ya penjelasan tentang serba-serbi toxic relationship ini. Semoga kita semua selalu dihindarkan dari hubungan-hubungan yang tidak sehat itu, ya. Daripada terjebak di toxic relationship, mending kita semua terjebak sama nikmatnya kelezatan BonCabe!  Fellas tau nggak sih kalau varian produk BonCabe nggak cuma sambal tabur aja, lho! Sekarang BonCabe punya produk-produk yang tak kalah nikmat lainnya, seperti mie, snack makaroni krispi, dan snack mi krispi. Waduh, kebayang kan nikmatnya menjalani hari ditemani berbagai varian BonCabe? So, tunggu apalagi? Ekspresikan dirimu di segala suasana dengan BonCabe! Rasanya.. pedes gila!