Tumbuh dari Keluarga yang Tak Utuh

Hi, aku Lani. Sebenarnya, itu bukan nama asliku, sih. Aku perempuan berkulit sawo matang dan selalu ceria kata orang-orang. Tahun ini, aku menginjak kepala dua. Aku memang sengaja merahasiakan siapa aku karena aku tak suka jika orang tahu tentang kehidupanku sebenarnya. 

Siapa aku juga tidak penting sih, hehe. Kuharap kamu hanya fokus pada ceritaku saja. Terima  kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita hidupku yang belum pernah aku  ceritakan pada siapa-siapa. Kalau kamu mempunyai cerita yang sama denganku, kita berteman, ya? Kalau kamu mau, hehe. 

Aku tumbuh dari keluarga yang tak utuh. Iya, ayah dan ibuku bercerai sejak usiaku 8 tahun. Dan sejak hari itu, aku tinggal bersama kakek dan nenekku. Ayahku menikah setahun setelah  bercerai. Lalu, selang beberapa bulan setelah itu, aku mendapatkan kabar kalau ibuku juga  menikah. 

Saat itu, aku tak mengerti apa-apa. Yang kutahu hanya aku tinggal bersama Kakek dan Nenek  di rumah yang sangat sederhana di suatu kampung terpencil, punya banyak teman yang asik,  tiap hari kami selalu main, dan kurasa kehidupan masa kecilku sangat bahagia. 

Namun, setelah menginjak remaja, aku merasakan kehilangan sosok Ayah dan Ibu. Melihat  teman-teman sebayaku hidup bersama orang tua kandung mereka membuat aku insecure.  Melihat mereka bisa bercanda dengan ayah mereka dan mendengar mereka curhat tentang  sosok yang mereka cintai kepada ibu mereka. Aku tak pernah merasakan hal itu. Hanya aku  yang tidak merasakan, tapi tidak dengan ayah dan ibuku. Mereka bahagia dengan keluarga  mereka masing-masing.

Makin dewasa, aku makin insecure. Merasa tak pantas dicintai, tak layak bahagia, dan hidup  dengan rasa penuh tak percaya diri. 

Aku benci keluarga harmonis. Aku tak pernah mau main ke rumah temanku yang keluarga cemara, memblokir semua akun media sosial orang yang tak kukenal hanya karena mereka  pernah mem-posting foto keluarganya, dan aku tak pernah membuka media sosial tiap hari  lebaran karena aku tahu akan banyak berseliweran foto keluarga teman-temanku dengan baju  seragam. Aku benci hal itu. Aku benci diriku sendiri.

Tapi sekarang ini, aku mulai mencintai diri sendiri. Selalu mengatakan ke diri sendiri bahwa  aku pantas dicintai dan aku layak bahagia. Yang tak utuh adalah keluargaku, bukan hidupku, walau rasanya hidup dari keluarga yang tak utuh bagaikan hidup tanpa satu sayap. Sulit.  

Aku sudah berdamai dengan keadaan dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya walau  trauma itu masih ada. Buktinya, aku tak pernah berpikiran untuk menikah dan menjalin  hubungan dengan seorang lelaki.

Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai akhir. Jangan lupa afirmasi diri kalau kamu  pantas dicintai dan layak bahagia!

Salam hangat, peluk jauh!


Penulis: NAM
Desain: Hemal
SEO Editor: