I Am Okay Indonesia

You Deserve Your Serenity

Pengalaman yang berkaitan dengan kesehatan mental salah satunya adalah people pleaser, yang selalu mengedepankan prioritas orang lain

Halo pembaca, namaku Rayhan. 

Seiring majunya penggunaan teknologi dan cepatnya kehidupan yang terus berlari gegap gempita, semakin banyak pula manusia yang tidak menyadari meaningful life orang  lain yang telah dikorbankan serta betapa pentingnya, more than ever, kita perlu mempelajari  lebih dalam akan pentingnya kesehatan mental bagi sesama dan diri sendiri. 

Pengalaman saya yang berkaitan dengan kesehatan mental adalah ketika saya pernah  merasakan diri sebagai salah satu bagian dari people pleaser, atau yang sering diketahui  sebagai orang yang selalu mengedepankan prioritas orang lain dibandingkan dirinya sendiri.  Pada awalnya, rasa prinsip ini sendiri bisa dirasakan sebagai suatu hal yang mulia dan dapat  dianggap sebagai suatu integritas terhadap individu itu sendiri. 

Namun, seiring kehidupan yang terus berlari gegap gempita, menjadi seorang people  pleaser ini tampaknya menjadi suatu hal yang melelahkan bagi kesehatan mental diri sendiri  dan ada saatnya kita sebagai manusia untuk berhenti dan merubah prinsip kehidupan yang  kita rasa melelahkan dan tidak membawa perubahan yang baik. Memang, memiliki banyak  teman dan koneksi dalam kehidupan ini tidak akan menyakiti kita, bukan? 

Mungkin, sebagian dari kita akan berkata tidak, dan sebagian akan berkata iya.  Terlepas dari itu semua, ada kalanya kita perlu untuk melakukan refleksi diri mengenai  betapa pentingnya diri kita terhadap orang lain, serta betapa pentingnya orang lain terhadap  diri kita sendiri.  

Semenjak SMP, rasa empati ataupun kepedulian yang saya berikan kepada orang lain  ataupun teman sendiri sejauh ini hanyalah berujung kepada sebuah kekecewaan dan  hancurnya kepercayaan. Memang harus saya akui bahwa mendengarkan, menyenangkan,  ataupun membantu untuk memecahkan masalah yang dihadapi orang lain bukan saya anggap  sebagai suatu hal yang besar dan menyakitkan untuk saya sendiri.

Namun, ketika saya melakukan refleksi diri dan melihat kembali apa yang sudah  terjadi, serta apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dalam mengenal orang baru dalam  kehidupan, hal yang perlu dipelajari adalah bagaimana kita bisa mengatur ekspektasi kita  terhadap orang lain serta membatasi diri kita sesuai dengan kapasitas yang dimiliki tanpa  timbulnya rasa seperti dimanfaatkan ataupun dikecewakan. 

Tentu, dibalik perjuangan sebagai people pleaser, ada saatnya kita mengalami masa masa yang tidak diinginkan, namun telah terjadi. Terkadang, untuk bercerita terhadap teman  yang kita anggap dekat saja sudah muncul rasa beban terhadap diri sendiri, hanya karena kita  berpikir akan mengganggu ketenangan mereka dengan permasalahan. 

Dengan adanya masa-masa yang tidak diinginkan inilah, kesehatan mental yang  kumiliki bisa dibilang sedang berjuang. Stress akan sesuatu hal yang tidak penting, tidur yang  tidak teratur, mulai menutup diri, dan tidak adanya rasa semangat dalam menjalani kehidupan  pun pastinya sudah dialami dan pasti pernah dialami oleh beberapa orang lain. 

Namun, dibalik fase yang terus menguji kesehatan mental selama beberapa tahun  belakangan ini, saya mulai memiliki keinginan, mungkin sedikit rasa bosan karena jenuh  memiliki kehidupan yang tidak menarik, dan tekad yang kuat untuk memotivasi kembali diri  sendiri serta mempelajari betapa pentingnya kesehatan mental dari langkah kecil. Mungkin,  pada saat itu saya tidak menyadari bahwa saya merupakan bagian dari people pleaser.  

Dari sinilah, saya mulai rebounce motivasi saya melalui self-taught seperti membaca  buku Emotional Healing Therapy, melakukan riset dari jurnal ataupun website mengenai  kesehatan mental itu sendiri, melakukan revolusi mental sehingga dapat bijak menggunakan  sosial media, dan secara mendasar melakukan hal-hal yang menarik dan menyenangkan,  menghasilkan pemikiran positif mengenai apa yang seharusnya kita miliki dalam kehidupan,  ketenangan. 

Dibalik pelajaran ini, saya mulai berproses hingga kini untuk membatasi diri dalam  merespon serta membantu orang lain hanya sesuai dengan kapasitas yang saya miliki, dan  yakin bahwa setiap ekspektasi yang orang miliki belum tentu sama dengan ekspektasi yang  kita miliki terhadap orang tersebut.  

Sungguh, dibalik perjuangan yang dialami setiap orang pastinya akan berbeda, dan saya  hanya dapat bersyukur bahwa dengan memahami akan pentingnya kesehatan mental, bisa  melahirkan suatu motivasi yang besar dan bermanfaat bagi diri sendiri, dan orang lain.

Penulis: Rayhan Fauzan
Editor: Fadila KR
Desain: Keke

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.