Cinta yang Sempurna Itu Seperti Apa, sih?

Fellas, kita semua tentu sudah tak asing dengan yang dinamakan cinta. Sebagai makhluk sosial yang menjalin hubungan dengan banyak orang, cinta tentu sangat dibutuhkan demi terciptanya keharmonisan.

Cinta memiliki makna yang sangat luas dan setiap orang akan memaknainya dengan definisi yang berbeda-beda pula. Bahkan, sedari lahir pun kita telah diajarkan tentang cinta, mulai dari cinta terhadap orang tua, saudara, teman, lingkungan, dan masih banyak lagi. Hakikat cinta ini pun akan semakin berkembang semakin kita dewasa.  

Ternyata, pembahasan tentang cinta ini tak luput dari kacamata psikologi lho, fellas. Sejak dulu, ilmuwan-ilmuwan psikologi ternyata telah membahas konsep cinta dalam hubungan sesama manusia ini. Salah satu ilmuwan yang terkenal akan penelitiannya tentang cinta adalah Robert Jeffrey Sternberg atau yang biasa dikenal dengan Sternberg. Untuk mengenal konsep cinta menurut Sternberg lebih dalam, yuk simak penjelasan berikut ini!

Komponen Utama Cinta Menurut Sternberg

Penelitian yang dilakukan Sternberg menemukan bahwa ternyata cinta juga memiliki komponen penting yang dapat membentuknya menjadi hubungan yang sempurna lho, fellas! Berikut tiga komponen utama cinta menurut Sternberg.

  1. Kedekatan (Intimacy)

Komponen pertama yang dapat membangun rasa cinta adalah kedekatan. Intimacy merupakan faktor emosional pada diri individu. Keintiman yang dimaksud adalah perasaan hangat dalam sebuah hubungan romantis. Hal ini dapat ditandai dengan perasaan bahagia ketika bertemu dengan pasangan, sikap saling memahami, bahkan komunikasi mendalam yang intens juga dapat memicu berkembangnya komponen ini. 

  1. Ketertarikan (Passion)

Untuk dapat mencintai sesuatu atau seseorang, hal yang kita butuhkan selanjutnya adalah ketertarikan. Komponen ini termasuk kedalam faktor motivasional yang ada dalam diri suatu individu. Dengan adanya rasa tertarik, baik fisik maupun seksual, maka rasa cinta dapat perlahan terbentuk. Ketertarikan ini dapat berbentuk hal-hal seperti  memikirkan orang yang kita cintai, rasa ingin bertemu, dan perasaan rela berkorban.

  1. Komitmen (Commitment)

Komponen ketiga adalah komitmen. Komponen ini beririsan dengan faktor kognitif yang menetapkan decision atau keputusan untuk saling mencintai dan mempertahankan hubungan. Komponen ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan suatu hubungan yang langgeng dan kuat dalam menghadapi berbagai ujian dalam suatu hubungan.

Jenis-jenis Cinta

Tak hanya komponen yang menyusun cinta, Sternberg juga membagi bentuk cinta ke dalam beberapa jenis, yaitu;

  1. Non-Love (Hubungan Tanpa Cinta)

Sebuah hubungan dapat dikatakan sebagai hubungan tanpa cinta jika hubungan tersebut tidak melibatkan ketiga komponen cinta menurut Sternberg. Contoh dari hubungan ini adalah perkenalan dengan orang asing dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Companionate Love

Jenis cinta yang kedua ini terjadi jika dalam suatu hubungan hanya ada kedekatan dan komitmen, tanpa ada ketertarikan. Cinta seperti ini seringkali ditemukan pada pernikahan yang telah berjalan lama, yang mana pernikahan tersebut tetap berjalan karena komitmen, tetap terjadi kedekatan, namun ketertarikan antar pasangan telah hilang.  

  1. Fatuous Love

Fatuous love atau bisa juga disebut dengan ‘cinta bodoh’. Cinta yang satu ini tidak melibatkan keintiman dalam hubungannya, melainkan hanya mengandalkan ketertarikan dan komitmen. Hal ini biasa terjadi pada suatu hubungan pernikahan yang dilakukan secara terburu-buru. Komitmen yang dibuat pada pernikahan ini biasanya dilakukan hanya atas dasar gairah tanpa mempertimbangkan kehangatan dalam suatu hubungan. Sayangnya, kebanyakan pernikahan yang melibatkan jenis cinta ini tidak berakhir indah dan kandas di tengah jalan.

  1. Romantic Love

Berbeda dengan fatuous love yang tidak melibatkan intimacy dalam penerapannya, romantic love justru tidak mengikutsertakan komitmen dalam jalinan cinta yang dibentuknya. Jenis cinta romantic love dapat ditemukan pada pasangan yang memiliki ketertarikan dan kedekatan antara satu sama lain, namun mereka tidak membicarakan komitmen untuk mempertahankan hubungan. Oleh karena itu, hubungan pasangan jenis ini akan gampang kandas terlebih jika keduanya sudah sulit bertemu. 

  1. Consummate Love

Jenis cinta yang satu ini menyertakan ketiga komponen cinta. Di dalam hubungan cinta consummate love, ketiga komponen ini saling melengkapi demi terciptanya hubungan yang harmonis.

  1. Empty Love

Dalam jenis cinta yang keenam ini hanya ada komitmen, tanpa dibarengi dengan kedekatan dan hasrat. Oleh karena itu, hubungan dengan empty love akan terasa hampa dan tidak menyenangkan. Salah satu contoh dari jenis cinta ini adalah pernikahan yang dilakukan secara perjodohan, yang mana kedua mempelai dipaksa untuk membuat komitmen tanpa adanya rasa cinta. 

  1. Liking

Pada jenis cinta ini, komponen yang mendominasi hanyalah kedekatan tanpa adanya ketertarikan dan komitmen. Cinta seperti ini dapat ditemukan pada hubungan pertemanan. Menurut Sternberg, konsep cinta liking melibatkan ikatan yang hangat tanpa adanya hasrat menyukai dan komitmen jangka panjang. 

  1. Infatuation

Jenis cinta yang terakhir ini hanya berisikan hasrat atau passion serta tidak adanya kedekatan dan komitmen dalam hubungannya. Menurut Sternberg, cinta yang muncul ketika pertama kali melihat seseorang termasuk ke dalam jenis cinta ini. 

Bagaimanakah Cinta yang Sempurna Itu?Dari jenis-jenis cinta di atas dan komponen yang menyusunnya, kira-kira cinta yang sempurna itu jenis cinta yang mana ya, fellas? Ya, tepat sekali!

Cinta yang sempurna dapat dinobatkan kepada consummate love. Adanya ketiga komponen pada jenis ini dapat membangun hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Ketiga komponen tersebut harus berjalan beriringan demi menciptakan cinta yang sempurna.

Perasaan hangat harus senantiasa ditumbuhkan untuk memicu berkembangnya kedekatan. Perasaan rela berkorban juga tak boleh surut untuk memantik adanya hasrat dalam suatu hubungan. Serta yang tak kalah penting, sebuah hubungan harus dilandaskan dengan komitmen agar hubungan tersebut memiliki akar yang kokoh sehingga tak mudah kandas. Kabar baiknya, siapapun dapat menciptakan hubungan jenis ini lho, fellas!


Penulis: azmihhanifa
Editor: Zandha
Desain: Riska
SEO Editor:


Referensi:

  1. Myers, E. (2022, Januari 31). Sternberg’s Triangular Theory and the 8 Types of Love. SimplyPsychology. https://www.simplypsychology.org/types-of-love-we-experience.html#:~:text=Robert%20Sternberg%27s%20triangular%20theory%20of,commitment%20(Sternberg%2C%201986) 
  2. Savitra, K. (N.D). Teori Cinta Sternberg (The Triangular Theory of Love) – Teori dan Tipenya. DosenPsikologi. https://dosenpsikologi.com/teori-cinta-sternberg 
  3. Feuerman, M. (2022, Februari 17). Sternberg’s Triangular Theory and the 7 Types of Love. Verywellmind. https://www.verywellmind.com/types-of-love-we-experience-2303200

I Am Okay
I Am Okay merupakan wadah kolaborasi sosial berbentuk kampanye edukasi pentingnya kesehatan mental bagi remaja Indonesia.